Mahasiswa Katolik Politeknik Negeri Jakarta. (Foto: Facebook Tino Apregar).

Jakarta, Katoliknews.com – Orang Muda Katolik (OMK) diharapkan untuk berani perangi berbagai konten negatif, salah satunya paham-paham radikal yang masif tersebar di dunia digital.

“Orang muda kan lebih tereksplore pada perkembangan dari dunia digital, ayo kita perangi semua kontens negatif (itu),” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara saat menghadiri Konferensi Umat Katolik Indonesia bertajuk revitalisasi Pancasila di Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Sabtu, 12 Agustus 2017.

Selain paham radikal, konten negatif lain yang juga harus dihindari dan diperangi adalah pornografi, terorisme, perjudian dan lainnya. “OMK harus di garda terdepan,” ajaknya.

Baca juga: Menteri Jonan: Tidak Pernah Merasa Sebagai Minoritas

Sementara itu, kepada seluruh umat Katolik juga diajak untuk terlibat aktif dalam membangun bangsa dan negara. Sebab, katanya, tidak ada satu umat agama apapun di Indonesia tidak ingin melihat Indonesia besar. Tapi, semuanya mengimpikan agar Indonesia menjadi negar yang aman, maju dan tetap mencintai nilai-nilai Pancasila.

“Saya tidak ahli di bidang agama, apalagi agama Katolik. Tapi, kalau saya lihat, persamaannya (seperti agama lain) adalah bagaimana menjadikan Indonesia yang lebih besar. Itulah yang harus kita galang sama-sama antara umat,” katanya.

Selain itu, Rudi juga menekankan pentingnya menghayati nilai-nilai luhur Pancasila. Pancasila, tegasnya, harus menjadi bagi yang tak terpisahkan dari semua warga negara. “Pancasila harus sudah menjadi darah,” tuturnya.

Maka, lanjutnya, semua warga negara diwajibkan untuk saling menghormati, dan tidak boleh ada pertentangan.

“Perbedaan itu kan anugerah bagi kita. Kenapa? Karena yang harus dicari, bukan perbedaan, tapi persamaannya. Makin banyak kita menemukan persamaan, makin banyak kita bergerak berdasarkan persamaan itu, makin besar negara kita. Itu menurut saya Pancasila,” tuturnya.

Terkait gerakan radikal dan intoleran yang terus menerus mempengaruhi kehidupan masyarakat, menurutnya harus dilawan secara bersama-sama oleh semua agama. Radikalisme, jelasnya, bukan hanya musuh agama atau etnis tertentu.

“Radikalisme adalah common enemy, bagi agama dan etnis apa pun di Indonesia. Kita perangi bareng-bareng” katanya.

Maka, untuk mengatasi masalah itu, jelasnya nilai-nilai Pancasila harus ditanamkan pertama-tama dari lingkungan keluarga, sehingga nilai-nilai toleransi yang diajarkan Pancasila dapat terpatri dalam diri anak.

“Dalam konteks yang lebih besar, (fakta) bahwa kita barbeda itu harus ada. Kalau ruang toleransi tidak ada untuk yang berbeda, susah kita,” tutupnya.⁠⁠⁠⁠

j-aR/Katoliknews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here