Rekomendasi Konfernas Umat Katolik Indonesia Kepada UKP-PIP

by
Ignas Jonan, saat memberikan materi di Konferensi Umat Katolik Indonesia di Universitas Atma Jaya Jakarta, Sabut, 12 Agustus 2017,

Jakarta, Katoliknews.com – Konferensi Nasional (Konfernas) Umat Katolik Indonesia bertajuk “Merevitalisasi Pancasila” yang diselenggarakan di Universitas Atma Jaya Jakarta, Sabtu, 12 Agustus 2017 menghasilkan sejumlah rekomendasi yang ditujukan kepada Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP-PIP).

Ketua Panitia Konfernas Umat Katolik Muliawan Mardagana mengatakan, ada empat poin rekomendasi yang merupakan bagian dari kontribusi umat Katolik untuk memantapkan revitalisasi Pancasila.

“Poin pertama, UKP-PIP seyogyanya bekerja secara sinkron dengan berbagai lembaga negara yang memiliki tugas pokok dan fungsi (tupoksi) melakukan kajian kebangsaan,” ujar Mualiawan saat membacakan butir-butir Konfernas di penghujung acara.

Konfernas itu, ujarnya, mengusulkan kerja sama dengan lembaga yang memiliki tupoksi mengembangkan studi tentang ideologi Pancasila. Sebagai lembaga yang muncul belakangan, kata dia, UKP-PIP perlu bersikap terbuka atas apa yang pernah dilakukan oleh lembaga lain.

“Poin kedua, setiap perguruan tinggi hendaknya memiliki pusat studi atau laboratorium Pancasila,” tutur dia.

Pusat studi ini, jelas dia, nanti bertugas mengeksplorasi, mengevaluasi, dan mencari visi baru pengembangan substansi dan metode pendidikan Pancasila.

Menurut dia, tanpa ada pengkajian ilmiah maupun kefilsafatan secara kontinyu, ideologi Pancasila dapat kehilangan aktualitasnya sehingga bisa ditinggalkan masyarakat. “Poin ketiga, mendorong upaya mengisahkan Pancasila melalui strategi seni dan budaya,” ungkapnya.

Konfernas, lanjut Muliawan mengusulkan upaya mendarahdagingkan Pancasila melalui strategi seni dan budaya dapat dilakukan dengan berbagai gerakan multikultural, gelar budaya, dan kreativitas seni yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Upaya-upaya berbasis seni dan budaya sangat efektif untuk pembudayaan Pancasila menjadi suatu praksis sehari-hari,” jelas dia.

Poin terakhir, setiap orang perlu secara bersama-sama membangun satu-dua program aksi menyangkut masalah kemasyarakatan dalam rangka pendidikan Pancasila. Karena itu, kata dia, perlu ada sikap proaktif melakukan aksi.

“Agar efektif, ada lima hal yang perlu diperhatikan, yakni keteladanan atau modelling, terjadinya pembiasaan atau habituasi, pemotivasiaan banyak orang, konsistensi aksi, dan refleksi perihal manfaat yang diperoleh,” ujarnya.

Konfernas ini dihadiri oleh 3 menteri yaitu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Menkominfo Rudiantara.

Selain itu, hadir juga dua uskup yaitu Mgr Mgr Anton Bunjamin, OSC yang membuka rangkaian kegiatan dan Mgr Vincentius Sensi Potokota, Komisi Kerasulan Awam (Kerawam), memimpin misa penutupan.

j-aR/Katoliknews