Si Hitam itu Rayakan Pesta Perak Imamat

by
Pastor Atbau diterima sebagai keluarga Melayu Kepri (foto : Fy)

Katoliknews.com—.RD Fransiskus Atbau Oedjan, nama yang cukup melekat di hati banyak umat Katolik Keuskupan Pangkalpinang. 25 tahun silam, tepatnya 13 September 1992, Atbau muda menerima tahbisan imamat di Paroki Hati Maria Tak Bernoda, Kota Kijang, Pulau Bintan, Kepri.

Dikenal dengan nama panggilan “Hitam”, putra asli Tanjungpinang ini memulai pendidikan calon imamnya di Seminari Menengah St Paulus, Palembang, tahun 1979.

Sering membantu pastor setempat memberi pelayanan kepada umat di kotanya, Atbau kecil yang bertindak sebagai putra altar mengakui panggilan imamatnya berawal dari sana.

Si Hitam yang kini telah menjadi seorang pastor, di kalangan banyak umat dikenal sebagai pribadi yang populis dan merakyat, dengan sentuhan karya ber-sense of art tinggi.

Romo yang satu ini, pernah berkarya di Paroki St Maria Tak Bernoda Belinyu. Paroki itu memiliki Goa Maria Pelindung Segala Bangsa. Menariknya, Pastor Atbau “menyulap” Goa Maria Mo Thian Liang, begitu Tionghoa Belinyu menyebutnya.

Goa Maria itu disulap dengan penataan cahaya lampu yang artistic. Ia mengemas sumber daya alam yang ada menjadi lebih bernilai seni. Contohnya, pohon kiara yang menyerupai beringin dipangkas sedemikian rupa sehingga tampak rindang, teduh, asri di mana terdapat ular hitam bertotol kuning yang selalu setia menjadi “penunggu” pohon-pohon kiara itu.

Terlihat, aliran air dari arah pasar pun dihadang dengan tumpukan pasir sedemikian rupa, menghasilkan suara gemericik air yang mirip anak sungai. Di sanalah “Bukit Menggapai Langit” itu berada.

Dalam banyak moment khusus, imam ini juga sering mempersembahkan misa dengan alunan persembahan musik dan lagu para profesional semisal penyanyi terkenal Denpasar Moon, Maribeth, juga alunan saxophone adik dari mendiang musisi terkenal Embong Raharjo, Didik SSS, serta penari dan penyanyi profesional lainnya.

Begitu pula saat ini, perayaan pesta perak imamat Pastor Atbau di Gereja Kristus Raja, Tanjungpinang, Minggu (17 September 2017) ini diisi dengan permainan saxophone Didik SSS serta 2 penyanyi dan 1 organis dari Jakarta.

Perayaan Ekaristi di Gereja Kristus Raja pagi itu dipimpin sendiri oleh Pastor Atbau didamping enam rekan imamnya. Khotbah dibawakan sesepuh dari Pastor Atbau, Frans Pora SVD yang datang langsung dari Lembata, Flores dengan menempuh 6 hari perjalanan laut untuk tiba di Tanjungpinang.

“Pastor Atbau adalah seorang imam yang harus memberi seluruh dirinya,” ujar Frans Pora.

Usai Perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan menggelar adat Flores sebagaimana ayah Atbau berasal. Tak ketinggalan, Kepulauan Riau yang merupakan rentang dari tanah Melayu ini memberi gelar kehomatan dari Lembaga Adat Melayu, diwakili Kekerabatan Keluarga Besar Melayu, dengan sebutan “Yang dihormati”.

Perwakilan Lembaga Adat Melayu, Abdul Jalil saat itu menyematkan tanda ke kepala dan pinggang Atbau sebagai tanda diterimanya Atbau di dalam Komunitas Melayu.

“Saya sangat berterimakasih karena saudara-saudara Melayu menerima saya. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” tuturnya.

Fy/Katoliknews