Pentingnya Karakter Dasar Dalam Pendidikan Keagamaan Katolik

by
ilustrasi

Katoliknews.com – Kegiatan pembinaan kompetensi pendidik Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) regio Nusa Tenggara Timur (NTT) hari kedua, pada Rabu 27 September 2017 yang diselenggarakan di Ende-Flores, membahas persiapan tenaga pengajar mata pelajaran keagamaan Katolik dalam menyambut kurikulum 2013 (K13).

Kurikulum K13 adalah kurikulum yang berlaku dalam Sistem Pendidikan Indonesia. Kurikulum ini merupakan kurikulum tetap diterapkan oleh pemerintah untuk menggantikan Kurikulum 2006 atau yang sering disebut sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang telah berlaku selama kurang lebih 6 tahun.

Hari kedua kegiatan yang dijadwalkan berakhir pada Jumat, 29 September 2017 ini menghadirkan beberapa pemateri. Diantaranya Kepala Kantor Kementerian Agama Ende  Petrus Pedo Beke.

Dalam pembahasannya, Petrus mengajak segenap tenaga pendidik SMAK untuk memperhatikan karakter dasar pendidikan keagamaan Katolik.

“(Pendidikan agama Katolik) mengedepankan pengetahuan yang berpangkal pada kebenaran ilahi, didasari Kitab Suci, menekankan pengetahuan dan nilai-nilai kebenaran yang bersifat universal,” jelasnya.

Petrus juga mengajak segenap peserta untuk memperhatikan 8 standar pendidikan nasional untuk memperlancar akreditasi sekolah.

Sementara itu, pembicara kedua, Didi Kasmudi, membuka kesadaran perwakilan guru-guru peserta dari 9 SMAK regio NTT itu agar memperhatikan implementasi Kurikulum K13 bagi mata pelajaran keagamaan.

“Kurikulm K13 memuat tiga inti yang menjadi perhatian proses pendidikan, yaitu, penguatan pendidikan karakter, kecakapan abad 21, dan gerakan literasi,” demikian kata anggota tim penyusun buku mata pelajaran agama katolik dan budi pekerti ini.

“Mata pelajaran keagamaan harus menyentuh inti kurikulum K13 untuk menciptakan output yang berkualitas,” tambahnya.

Selanjutnya, pria berdarah Sunda ini mendorong peserta memperhatikan konfigurasi nilai sosial, kultural, dan psikologis di SMAK masing-masing. Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus diasah melalui usaha olah pikir, olah hati, olah raga, dan olah rasa.

“Dan, proses ini harus melibatkan orang tua, masyarakat, dan sekolah itu sendiri,” tegasnya.

Menutup pertemuan hari kedua ini, pembicara lain yaitu Yohanes Pare memaparkan bagaimana memberikan penilaian dan evaluasi pembelajaran K13 terhadap peserta didik dan guru itu sendiri.

“Memberi penilaian bukan asal-asalan, tetapi memperhatikan proses dan kaidah-kaidah kurikulum 2013,” pungkasnya.

Kegiatan pembinaan kompetensi guru-guru SMAK regio NTT ini dihadiri oleh 50 guru perwakilan dari 9 sekolah antara lain, SMAK St. Mikhael Solor, SMAK St. Karolus Riung, SMAK St. Maria Imakulata Adonara, SMAK Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo dan SMAK St. Peregrinus Laziozi Watumingan Mbata.

Hadir pula dari SMAK St. Fransiskus Asisi Larantuka, SMAK St. Petrus Kewapante-Maumere, SMAK St. Dominikus Tambolaka-Sumba Barat Daya, dan SMAK St. Thomas Morus Ende.

Sumber: Floresa.co

jaR/Katoliknews