Dokter Fajar dan Uwie, Pasangan yang Selalu Bersinergi Menolong Korban Bencana

by
dr. Agustinus Fajar Wahyu Pribadi, M.Sc atau dokter Fajar saat menjadi relawan di Wasior Papua.

Katoliknews.com – Bencana alam selalu menimbulkan korban yang tak sedikit. Korban tak hanya membutuhkan makanan dan tempat tinggal darurat. Mereka pun perlu dipulihkan dari traumanya. Pasangan suami istri yang berprofesi sebagai dokter dan psikolog ini bersinergi untuk menyembuhkan mereka yang terluka, baik dari segi fisik maupun psikologis.

Anastasia Yuria Ekalitani ini sudah mendapat kedudukan yang bagus di perusahaan teh di Tegal, Jawa Tengah. Hingga pada Desember 2004, Uwie, sapaannya, melihat tayangan televisi mengenai bencana Tsunami di Aceh. Ia terhenyak mengetahui ribuan orang kehilangan nyawanya dengan sangat mengenaskan. Tsunami yang datang begitu tiba-tiba membuat masyarakat Aceh tidak siap sehingga dalam waktu yang begitu cepat mereka kehilangan sanak keluarga dan harta bendanya.

“Hati saya merasa pedih. Saya sangat emosional pada waktu menonton tayangan tersebut. Saya tergerak untuk mendaftarkan diri berangkat ke Aceh sebagai relawan. Jika di sana saya ditugaskan untuk mengangkut mayat pun saya rela. Saya ingin segera ke sana dan menolong para korban Tsunami,” kenang Sarjana Psikologi Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Jawa Tengah ini.

Tekadnya sudah bulat. Uwie pun membuat surat pengunduran diri. Pimpinan dan keluarganya kaget mendengar keputusannya itu. Alumnus SMU Pangudi Luhur Van Lith, Muntilan, Jawa Tengah ini memilih melepaskan pekerjaannya yang bagus untuk menjadi relawan dengan nasib yang belum pasti.

Anastasia Yuria Ekalitani S.Psi M.Si atau Uwie. (Foto: Dok).

Setelah dari Aceh, Uwie membantu korban gempa Nias. Bahkan wanita kelahiran Palembang, Sumatera Selatan ini dapat fasih berbahasa daerah Nias. Tak hanya pimpinan dan keluarganya, keputusan Uwie untuk meninggalkan pekerjaannya yang bagus ini juga membuat suaminya, yang kala itu masih berstatus kekasihnya Agustinus Fajar Wahyu Pribadi atau yang biasa dipanggil Fajar terheran-heran.

“Kenyataan ini  “menggelitik” hati kecil saya. Apa bahagianya menjadi relawan bencana sehingga calon istri saya rela meninggalkan pekerjaannya? Mungkin saya perlu terjun langsung agar bisa mengalami sendiri apa indahnya menjadi relawan bencana,” kenang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang ini.

Pengalaman pertama Fajar membantu korban bencana yaitu saat gempa bumi menggoncang Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Ia langsung meluncur ke Yogyakarta dan ditempatkan di daerah Imogiri. Sampai di sana masih muncul gempa-gempa susulan. Di sinilah ia belajar bahwa menolong korban bencana membutuhkan rencana dan koordinasi antar relawan.

Setelah terjun langsung, ternyata Fajar ikut merasakan kebahagiaan bisa menjadi penolong para korban bencana ini. Pasangan ini pernah ikut terjun membantu para korban gempa Padang, banjir bandang Wasior, Papua Barat, erupsi Gunung Kelud, banjir Pati, bencana kemanusiaan di Biak & Papua serta Gunung Sinabung. Masing-masing daerah memiliki cerita indah dan getir yang berbeda-beda.

Menurut Fajar, ada fase-fase bencana lain yang juga membutuhkan bantuan selain fase tanggap darurat. Ada 4 fase secara umum dalam bencana yaitu fase tanggap darurat, fase pemulihan rehabilitasi rekontruksi, fase pencegahan/mitigasi dan fase kesiapsiagaan. Dua fase awal adalah fase saat dan paska kejadian sedangkan 2 fase berikutnya adalah fase pra kejadian.

“Banyak relawan yang membantu saat tanggap bencana namun sayangnya program mereka hanya terbatas sampai di sana. Padahal masih ada fase-fase berikutnya yang juga perlu dibantu. Apalagi saat bencana selalu saja ada yang orang yang memanfaatkan situasi yang buruk. Misalnya saja ada yang memberi bantuan, difoto-foto bersama dengan benderanya kemudian mereka pergi sambil membawa lagi bantuannya tersebut. Melihat hal itu saya merasa sedih dan prihatin,” ujar lulusan SMU Pangudi Luhur Van Lith Muntilan, Jawa Tengah ini.

Tentu saja di balik kesedihan ada kebahagiaan yang dialami Fajar dan Uwie ketika menjalankan tugas mulianya ini.

“Ada perasaan bahagia luar biasa yang sulit dikatakan dengan kata-kata ketika saya dapat berproses bersama dengan para wounded victims atau korban-korban yang “terluka”. Kebahagiaan saya berlipat ganda ketika mereka dapat pulih, bangkit, dan melakukan banyak hal positif. Apalagi saat saya dapat menyaksikan mereka juga membantu orang lain yang “terluka” untuk pulih. Bagi saya, mereka adalah para wounded healer, orang yang terluka yang menyembuhkan. Karena mereka sudah pulih dan mau berperan serta memulihkan orang lain yang berada dalam kondisi seperti mereka dahulu. Inilah yang membuat saya tetap setia menjalani panggilan ini,” kata wanita yang sedang menyelesaikan pendidikannya di Magister Profesi Psikolog Unika Soegijapranata Semarang ini.

Selain itu, orang tua Rafael Nareswara Rifaputera Sentosa ini mendapat banyak sahabat dan ilmu baru. Di antaranya sertifikasi international disaster networking, akupressur, hypnoterapi, ilmu-ilmu dibidang trauma healing (pemulihan trauma) dan ilmu neuropsikologi dari Kanada yang dapat mendeteksi kejadian-kejadian traumatis dan menterapinya lewat mata sehingga sangat memudahkan dan mempercepat proses pemulihan.

Tak hanya itu, pasangan ini juga bahu membahu untuk mengelola Misericordia Child & Family Development Center (sebuah pusat layanan psikologi terpadu yang juga memberikan layanan pemulihan trauma, training, outbond dan mendukung beasiswa dan terapi psikologi murah hingga gratis bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak mampu), di daerah Karang Bendo, Semarang.

“Tak hanya menyembuhkan pasien. Jangkauan saya menjadi lebih luas. Menjadi dokter relawan bencana membuat saya bisa melakukan banyak hal dan menolong lebih banyak orang lagi. Saya jadi memahami mengapa istri saya dahulu rela meninggalkan pekerjaannya dan menjadi pemulih trauma. Kata kunci dalam trauma healing adalah “Remembering but not re-experience” (mengingat tetapi tidak mengulang pengalaman itu lagi),” ujar dosen Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto yang kerap diminta menjadi narasumber dan trainer ini.

Beberapa sahabat bertanya kepada pasangan ini kalau kerja sosial terus bagaimana untuk urusan ‘dapur’?  Puji Tuhan selalu dicukupkan. Selain mendapat gaji dari pekerjaannya sebagai dokter, dosen, narasumber dan trainer, pasangan yang selalu terlihat harmonis ini sedang merintis bisnis kuliner dengan bendera “Bosteak”.  Resep mengolah daging sapi panggang tanpa MSG ini didapat Uwie kala ia mempelajari teknik menyembuhkan trauma di Kanada.

dokter fajar ketika memeriksa kesehatan pasien saat bencana di Padang-Sumatra Barat

Maka pria lulusan S2 Program Studi Ilmu Kedokteran Dasar dan Biomedis Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini berpesan, “Untuk rekan-rekan yang berkarya di bidang sosial harus ingat untuk berbisnis dan untuk rekan-rekan yang bisnis harus ingat juga untuk sosial sehingga hidup lebih seimbang”.

Fajar berharap semakin banyak orang yang mau peduli membantu semua orang yang membutuhkan tidak hanya saat bencana. Sulung dari tiga bersaudara ini pun mengutip pelajaran dari Santa Teresa, “Jika anda tidak peduli dengan orang-orang di sekitar kita yang kelihatan, bagaimana kita peduli dengan Tuhan yang tidak kelihatan”?

Fajar dan Uwie saling melengkapi. Mereka kini diperbantukan di LSM yang sama yaitu Mennonite Diakonia Service. Setiap ada bencana alam maupun konflik kemanusiaan, mereka diberangkatkan pada tahap program pemulihan. Fajar biasanya diperbantukan di pengobatan gratis, sedangkan Uwie di bidang pemulihan trauma.

Fajar mengumpamakan dirinya seperti teko kecil yang berusaha membagikan apa yang sudah Tuhan berikan. Sedangkan Uwie ingin menjadi pena yang menuliskan kebaikan Tuhan bagi sesama. “Teko dan Pena” itu terus menerus bahu membahu memancarkan kebaikan Tuhan bagi sesama sesuai peran mereka masing-masing.

Ivonne Suryanto/Katoliknews