Keuskupan Agung Semarang Dukung Perjuangan Sedulur Sikep

by
Mgr Robertus Rubiyatmoko Uskup Keuskupan Semarang. (Foto: Antara).

SEMARANG – Keuskupan Agung Semarang (KAS) mendukung perjuangan Sedulur Sikep dalam menentang pendirian pabrik semen di pegunungan Kendeng, Rembang.

Hal itu terungkap dari pertemuan tiga jam antara rombongan Sedulur Sikep yang dipimpin Gunretno dengan Uskup Agung Semarang, Mgr Robertus Rubiyatmoko di Rumah Keuskupan Jalan Pandanaran Semarang, Senin (23/10/2017) siang.

“Prinsipnya Bapak Uskup berpihak kepada mereka. Bapak Uskup juga mendukung gerakan mereka demi keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup,” ungkap Aloys Budi Purnomo Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK-KAS).

Gunretno datang bersama rombongan. Terdiri dari Hartati, istri Gunretno, Sukinah, Gunarto dan Pawardi. Sementara itu, Uskup Agung didampingi Sekjen Keruskupan Agung Semarang Romo Ig Triatmoko MS.

Kepada Romo Rubi, panggilan Mgr Robertus Rubiyatmoko, Gunretno mengungkapkan, perjuangan untuk menyelamatkan bumi, menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup terus ditempuh.

Upaya komunitasnya menempuh jalur hukum untuk menentang pembangunan pabrik semen di Rembang terus dilakukan. Meskipun Mahkamah Agung melalui dua Peninjauan Kembali (PK) telah memenangkan warga, namun perjuangan belum selesai.

Tantangan besar yang selama ini dihadapi Gunretno dan teman-temannya adalah lingkaran oknum kekuasaan yang korup dan tidak jujur.

“Sudah empat kali kami diterima Presiden Jokowi. Dalam perjumpaan itu, Jokowi juga menekankan pentingnya kejujuran dan keterbukaan dalam menyelesaikan kasus ini,” kata Gunretno.

“Namun tampaknya upaya itu belum berhasil,” imbuhnya.

Gunretno juga berkisah tentang kematian Patmi (48), salah satu petani perempuan asal kawasan Pegunungan Kendeng di tengah aksi mengecor kaki di depan Istana Negara, pada Selasa (21/3/2017) dini hari.

Patmi mengalami serangan jantung dan meninggal dalam perjalanan dari kantor LBH Jakarta menuju Rumah Sakit St Carolus, Salemba, Jakarta Pusat.

Ternyata, kata Gunretno, Patmi sudah mewariskan sertifikat tanah agar tanah itu dipakai untuk kepentingan perjuangan demi keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup.

“Perjuangan belum berakhir,” tuntasnya.

Sumber: Kompas.comj-aR/Katoliknews