Menteri Jonan: Pemuda Katolik Harus Selalu Menjadi Garam

by
Menteri ESDM Ignatius Jonan saat memaparkan materinya dalam pembukaan Rapimnas Pemuda Katolik di Bogor, Jawa Barat, Jumat, (27/10/2017).

BOGOR – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignatius Jonan dalam memaknai Hari Sumpah Pemuda, mengajak Pemuda Katolik untuk menjadi pribadi yang bisa mewujudkan keadilan dan perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“(Pemuda Katolik) selalu harus menjadi garam,” kata Jonan usai menghadiri pembukaan rapat pimpinan nasional (Rapimnas) Pemuda Katolik di Hotel Padjajaran, Bogor, Jumat, (27/11/2017).

Menjadi garam, bagi Jonan berarti mewujudkan keadilan bagi masyarakat, seperti memberikan akses pemanfaatan sumber daya alam yang berkeadilan seperti yang tengah diperjuangkannya di Kementerian ESDM.

“Pemerataan dan keterjangkauan adalah hal yang mutlat harus diwujudkan,” katanya.

Sebagai contoh, saat ini menurut Jonan, masih banyak desa di seluruh Indonesia yang belum mendapat asupan listrik. Walaupun ada yang beberapa desa yang sudah berlistrik namun, tetap saja masi ada rumah yang tidak bisa menikmati listrik karena tidak mampu berlangganan.

“Anak muda yang tumbuh dalam rumah tersebut akan mememiliki dendam sosial yang besar dalam jangka panjang. Situasi seperti ini akan membahayakan persatuan nasional dan keutuhan kita sebagai bangsa,” jelasnya.

Maka, menurut mantan menteri perhubungan tersebut semangat Sumpah Pemuda hendaknya dilihat sebagai semangat kaum muda dalam membangun bangsa Indonesia yang disesuaikan dengan konteks tantangan zaman yang berubah-ubah.

“Intinya, ada semangat pemuda membangun Indonesia. Saya selalu menganjurkan karena zaman selalu berubah-ubah, zaman selalu maju, maka pemuda harus mengikuti perkembangan zaman.”

“Pemuda harus mengabdi kepada negara harus sesuai dengan perkembangan zaman,” ujarnya.

Dia juga mencontohkan bagaimana pemuda menghadapi persoalan kebangsaan, toleransi dan keberagaman saat ini. Menurutnya, para pemuda Indonesia harus belajar dari para pendiri bangsa, yang mendirikan bangsa ini dengan semangat kebangsaan dan kebinekaan.

“Semangat kebangsaan dan kebinekaan inilah yang perlu dihadirkan kembali, misalnya, kita saling menghargai dan menghormati perbedaan. Saat ini, kita harus bangun bangsa ini dengan, dari Sabang Sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, tanpa sekat-sekat SARA sama sekali,” tandas dia.

Jonan juga menegaskan bahwa negara ini dibangun dengan falsafat Pancasila. Salah satu poin dari falsafat Pancasila, kata dia adalah melihat perbedaan dengan mengedepankan semangat inklusif.

“Kita jangan mengedepankan semangat eksklusif, tidak perlu merasa ada yang mayoritas dan ada yang minoritas,” ungkap dia.

j-aR/Katoliknews