Akhirnya Gereja Katolik dan HKBP di Lampur, Resmi “Bercerai”

by
Saat ketua panitia pembangunan, Benny Sorliam menyerahkan kunci kepada Mgr Adrianus Sunarko OFM (foto : dok. panitia)

Katoliknews.com—Terhitung unik, selama 50 tahun Gereja Katolik Kristus Raja Lampur berkomunio dengan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dalam satu gedung gereja. Tepatnya kemarin, usia gereja stasi Kristus Raja Lampur, Bangka Tengah itu memasuki usia 50 tahun.  Lantas bertepatan dengan Hari Raya Kristus Raja Alam Semesta, umat Katolik di stasi itu resmi “bercerai” dengan HKBP .

Pasalnya, hari itu 26 November 2017, Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Mgr Adrianus Sunarko OFM mentahbiskan gereja baru di stasi itu.  Peristiwa pentahbisan gereja yang dihadiri ribuan umat itu menandakan umat katolik  stasi Lampur mulai merayakan perayaan imannya di gereja Katolik. “Ke depan, kami tidak lagi misa di gereja oikumene,” tutur seorang umat, Linda. “Natal atau paskah kita sudah bisa atur jadwal sesuai agenda dan waktu kita,” tutur umat lainnya, Gita.

Peristiwa bersejarah ini dimulai dengan penyerahan kunci gereja baru dari ketua Panitia Pembangunan, Benny Sorliam kepada Mgr Adrianus Sunarko OFM. Selanjutnya Mgr Narko menyerahkan kunci kepada Romo Ferdinandus Meo B sebagai parokus St Bernadeth Pangkalpinang.

Setelah membaca doa, Uskup Pangkalpinang menandai tanda salib pada pintu utama gereja dengan tongkat kegembalaannya. Usai itu, Romo Ferdi membuka pintu gereja yang berwarna coklat itu.

Prosesi menuju altar pun dimulai. Di awali misdinar, diikuti imam-imam konselebran dan umat. Di bagian belakang Mgr Narko OFM dengan tongkat kegembalaannya menuntun umat.

Saat kotbah, Mgr Narko OFM menekankan pemberkatan gereja tidak hanya menunjukkan setan bisa diusir tetapi terutama bahwa iman membuat seseorang tidak takut pada setan. “Dengan pemberkatan gereja ini, Allah merajai hidup umat beriman di Lampur ini,” ungkap Monsinyur kelahiran Merauke Papua ini.

Sedangkan parokus St Bernadeth, Romo Ferdi Meo, menyebut peristiwa tersebut menunjukkan umat Lampur sedang mewujudkan Gereja Partispatif baik secara ke dalam dan keluar.

“Mungkin makna perayaan ini mempunyai arah ke missio ad extra  dan ad intra,” ujar Romo Ferdinandus M Bupu di Pangkalpinang (26/11/2017). Menurutnya missio ad intra terlihat sejak awal terbentuknya panitia peresmian gereja baru itu. “Meski agak mengherankan, tekanan pada stasi dan paroki itu satu, tetapi pekerjaan di stasi, paroki lah yang bertanggungjawab,” imbuh Pakar Teologi Biblis ini.

Maka, Romo Ferdi menambahkan, ketua panitianya dari pusat paroki, yakni  Didiek. “Lantas, ketua stasi, Min Bu dipercayakan sebagai wakil ketua,” ujarnya. Sedangkan komunitas basis gerejani (KBG) dalam paroki St Bernadeth memberikan sumbangan wajib.

Romo Ferdi juga menambahkan moment penahbisan Gereja Lampur juga menghidupi semangat inklusif. “Secara ad extra, keterlibatan pemerintahan desa dan jajarannya terlihat luar biasa,” pungkas Romo yang hari itu tampil beda dengan batik coklat putih itu.

Peristiwa berahmat itu ditanggapi penuh syukur oleh Ketua Stasi Lampur, Antonius Min Bu. “Saya terharu, acara berjalan sukses di stasi kami. Semuanya berkat doa para imam dan umat,” ungkap Min Bu.

Stefan/Katoliknews