Br Yan SSCC didampingi Romo Bonnie SSCC saat meniup lilin ulang tahun ke 80 Br Yan di kediaman Jhon Kennedy (foto : karoliknews)

Katoliknews.com—Perayaan ulang tahun kelahiran ke-80 Bruder Yanuar Husada SSCC baru-baru ini berlangsung di kediaman John Kennedy Aritonang, Batam, Kepulauan Riau, Senin (29/1/2018).

“Kita hadir di tempat ini dari wilayah yang berbeda, ada yang datang dari Bandung, Yogyakarta, Bangka, Jakarta, Batam dan sekitarnya. Kita hadir di tempat ini karena Br Yan. Bruder Yan telah mempersatukan kita semua. Dari yang tidak kenal menjadi saling kenal,” ungkap Rm Boni Payong SSCC, Provinsial SSCC Indonesia saat misa perayaan HUT Br Yan.

Perayaan HUT ke-80 Br Yan ini sekaligus memperingati 60 tahun hidup membiara, 52 tahun menjadi “orang Bangka” dan 35 tahun karya pengobatan komplementer Br Yan. Perayaan di Batam diawali dengan misa bersama 12 imam SSCC Indonesia dengan selebran utama Rm Boni Payong SSCC.

Menurut mantan Pastor Paroki Regina Caeli Pantai Indah Kapuk Jakarta ini, selama ini Bruder Yan melayani dan bersahabat dengan semua orang tanpa membedakan suku, agama, ras, etnik, budaya dan status sosial.

“Dasarnya, beliau menekankan aspek manusia dan kemanusiaan, bukan embel-embel yang lain. Itulah semangat Yesus yang dihayati Bruder yan, “imbuh Romo Bonnie.

Sebelumnya, perayaan telah lebih dulu berlangsung di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, juga di Biara SSCC di Yogyakarta bersama keluarga satu tarekat Br Yan.

Secara terpisah, mewakili tuan rumah, John Kennedy dalam sambutannya mengaku sudah menganggap Br Yan sebagai orang tua yang menjadi panutan, tempat bertanya dan tempat meminta nasihat.

“Anak-anak memanggil Br Yan opa. Kami biasakan itu dan kami memang menganggap Br Yan sebagai orang tua kami. Terlebih karena orang tua kandung kami memang sudah tiada,” ujar pengusaha yang kini menjabat Wakil Ketua KADIN Indonesia periode 2013-2018 ini didampingi istri.

Br Yan sendiri dalam sambutannya berharap ada penerus akan karya pengobatannya kelak.

“Bagi saya tidak ada yang dirahasiakan. Rahasia pengobatan tidak akan dibawa mati. Saya tetap mencari orang-orang yang berbakat dan tertarik dengan pengobatan TOGA (Tanaman Obat Keluarga),” ujar Br Yan.

Ia berharap, rumah di tengah kebun jamu yang ia beri nama Pondok Damai kelak dapat menjadi tempat untuk meneruskan pengobatan dengan pengembangan TOGA.

Fennie/Katoliknews

Komentar