Romo Lucius Poya (tengah) bersama Mas Trimo (hitam) dan Pak Bekti (seragam PNS) saat ditemui sedang berada di ruang seterika pakaian liturgi. (foto : katoliknews.com)

Bukan peristiwa biasa, ketika seorang anak koster, lagipula putra tunggalnya, dipersembahkan kepada Gereja, untuk menjadi calon imam, ditahbiskan diakon dan selanjutnya akan ditahbiskan menjadi imam diosesan. Peristiwa ini terjadi di Keuskupan Pangkalpinang, tepatnya di Paroki Katedral St Yoseph Pangkalpinang.

Peristiwa yang tidak lazim itu adalah putra tunggal sang koster yang kerap dipanggil Mas Trimo itu, akhirnya ditahbiskan oleh Uskup Keuskupan Pangkalpinang Mgr Adrianus Sunarko OFM, menjadi diakon. Dialah diakon Martinus Handoko. Tahbisan Diakon adalah sebuah jenjang tahbisan yang diterima sebelum pribadi tersebut menerima tahbisan imamat.

Memaknai peristiwa yang menakjudkan itu, berikut ini katoliknews.com melansirkan catatan Pastor Paroki Katedral St Yoseph Pangkalpinang, RD Lucius Poya Hobamatan.

Kesetiaan menjadi seorang koster yang sudah melewati tahun perak ternyata membawa dampak. Keseharian dari pagi sampai siang di dalam rumah Allah, bukan untuk doa, melainkan untuk untuk membersihkan rumah-Nya dari debu-debu kaki para pendoa.

Kesetiaanya tak berujung. Ia setia membunyikan alarm lonceng angelus yang telah mengingatkan siapa saja untuk mengenang misteri inkarnasi.

Ia juga terlihat begitu setia dengan  kedisiplinan waktu. Pasalnya, setiap jam lima subuh, ia bersama istrinya datang ke paroki, untuk membuka pintu Gereja. Dan hal itu dilakoninya setiap hari Tuhan.

Dalam pelayanannya kepada umat Allah sebagai koster, ia juga juga menampilkan kesetiaan bersama istrinya yang tak pandai bicara itu.  Ternyata titik kesetiaan ini juga merupakan medan magnet Allah untuk memanggil anak laki-laki tunggal Mas Trimo untuk menjadi imam. Ia merelakannya untuk menjadi imam, namun ia tidak memaksa menjadi imam.

Setiap kali Handoko ke rumah yang ia peringatkan hanya satu. “Pikirkan matang-matang,” ungkap Mas Trimo untuk mewanti-wanti anaknya yang kini disapa dengan sebutan Diakon Handoko itu.

Sang Ayah pantas mewanti-wanti karena Handoko si anak pendiam, mengikuti gaya sang mama. Ternyata dalam diamnya, Handoko terus menumbuhkan panggilan itu sehingga kemarin menerima tahbisan diakonat dari Uskup Pangkalpinang.

Secara pribadi, tahbisan kemarin merupakan sesuatu yang istimewa karena  jarak antara Romo FX Hendrawinata Pr  dengan Handoko terlalu jauh.  Romo FX Hendrawinata adalah imam senior, imam diosesan kedua di Keuskupan ini, setelah Romo Mario John Boen yang kita kenal sebagai imam diosesan pertama di Indonesia itu.

Memang ada imam yang berasal dari katedral, sebut saja almahrum RD Gandung dan Romo Vikjen Keuskupan Pangkalpinang saat ini, RP Nugroho SS.CC dan Romo Kristiono Pr.  Tetapi mereka bukan kelahiran Pangkalpinang.

Imam yang lahir, dan besar di Pangkalpinang sejauh yang saya tahu hanya beberapa orang yakni,  RD Hendrawinata, RP Futkin MSF,  Romo Johan Wongso SS.CC, RP Titus A Khian OFMConv dan Handoko ini. Itulah sebabnya kenapa paroki meminta seminaris ikut terlibat dalam liturgi kemarin dan petugas liturgi diambil dari kaum remaja.

Mungkin dengan itu, mereka yang sekarang di seminari diteguhkan dan yang sedang mengakhiri SLTP tergerak juga untuk ke seminari.

Lebih dari itu semua keanggunan dan kehikmatan liturgi kemarin menggambarkan bagaimana umat memberi hormat kepada Mas Trimo, karena dia memberikan tenaga untuk keselamatan umat melalui koster sampai pasca pensiun.

Apalagi, Mas Trimo dan keluarga sudah memberikan anak tunggalnya untuk menggantikannya bukan sebagai koster tetapi justru sebagai imam.

RD Lucius Poya Hobamatan (Parokus Katedral St Yoseph Pangkalpinang)

 

Komentar