Memelihara Gereja Katolik di Pulau Terluar, Natuna

163
RD Markus Agus Tarnanu, Pastor Kuasi Paroki Stella Maris Tarempa

Katoliknews.com—Keuskupan Pangkalpinang terkenal sebagai keuskupan kepulauan. Selain itu, ada realitas tersembunyi, yang menyebabkan teritori pastoral ini menjadi unik. Yakni, salah satu wilayah terluarnya adalah Wilayah St Paulus Ranai, Kepulauan Natuna.

Menyambangi gereja di wilayah ini, walaupun bukan pertama kali, energi pesan tentang komunitas jemaat perdana terkomunikasi secara verbal dalam komunikasi antar budaya.

Saya menyebut demikian, karena umat di wilayah perbatasan Republik Indonesia dan Republik Tiongkok ini lebih merupakan cerminan umat diaspora. Pada jaman misionaris SS.CC dan MEP, umat Allah di wilayah tersembunyi ini dihuni oleh beberapa orang Tionghwa.

Selanjutnya gereja Katolik di wilayah ini semakin menunjukan “branding” nya ketika Almahrum Eric Sarmono dan Sugono mendedikasikan diri sebagai “rasul awam” untuk menghidupkan eksistensi komunio umat beriman.

Kedua tokoh ini, telah tiada. Sarmono dan Sugono adalah prajurit Angkatan Udara. Keduanya menikah dengan amoy Kalimantan Barat yang merantau ke Ranai, Natuna.

Dua sosok itu, Sarmono dan Sugono atau yang kerap dipanggil Gono,  dalam dedikasinya untuk mengabarkan sukacita ke pulua-pulau, mereka tidak sendiri. Di tengah mereka berdua ada sosok lain. Dialah Bemmy Nasution. Saat ini, Bemmy menjadi satu-satunya tokoh sesepuh yang masih ada. Menjadi cerita menarik karena ketiga pria ini menikah dengan gadis Tionghwa.

Mantan koordinator wilayah (baca ; ketua stasi) Ranai, Hery Siswanto menuturkan bahwa karena komunikasi yang baik dengan masyarakat setempat yang beretnis Melayu,  ketiga tokoh itu bisa meyakinkan Pastor Henri Jourdan MEP bahwa jangan takut membentuk komunitas beriman dan melebarkan sayap gereja umat Allah di Natuna.

“Pada jaman Pastor Parokinya Pastor Henri MEP, tepatnya tahun 1984,  Om Sarmono, Gono dan Bemmy memperkasai pembangunan mess Katolik,” tutur Heri Kiswanto di Gereja Ranai, Kamis 28 Maret 2018.

Mess katolik itu, kata Heri, untuk menjadi asrama bagi anak-anak transmigrasi Natuna yang melanjutkan pendidikan SMP dan SMA di Ranai. “Saya waktu itu belum katolik, dan mendapat pengajaran agama katolik di mess,” imbuh Heri.

Dalam catatan seorang umat Ranai, Vincentius Wahyu yang dilontarkan hari sebelumnya, terungkap bahwa mess tersebut akhirnya direnovasi oleh Sugono, ayahnya. “Tujuannya untuk jadi tempat ibadah atau misa,” tutur Wahyu.

Ternyata gereja Katolik Ranai ini terhitung lebih beruntung jika dibandingkan dengan Gereja St Klara di Bekasi dan St Bernadet di Ciledug, Tangerang. Pasalnya walaupun tempat ibadat itu memiliki ijin sebagai bangunan mess, tetapi diboleh camat Bunguran Timur ketika itu diperbolehkan untuk mempunyai papan nama sebagai gereja.

Nasib baik ini berkat lobby Komandan Radar AU Ranai waktu itu, Letkol Yan Manggesa dan tokoh-tokoh umat. “Lantaran jasa Pak Yan Manggesa lah, mess katolik kita disebut gereja Katolik,” ujar Ayah Landra Sinurat.

Cerita-cerita lisan seperti ini juga mereka ceritakan kepada Staf Dirjen Bimas Katolik RI,  Sihar Petrus Simbolon yang mengunjungi Ranai (26/3/17). Direktur Urusan Agama Katolik ini mengakui bahwa saat ini Gereja Katolik Ranai sudah memiliki nomor registrasi sebagai rumah ibadah Karolik yang tercatat di Kemenag RI.

Mendengar pengakuan ini, wajah umat Ranai terlihat sumringah. Pasalnya saat ini mereka sedang mendirikan gereja baru di samping sebelah timur mess katolik yang selama ini disebutnya sebagai gereja itu.

Pesan Romo Nanu Pr, “Berkomuniolah sebagai Gereja Katolik”

Pastor Kuasi Paroki Stella Maris Tarempa, Romo Markus Agus Tarnanu Pr, memuji komunio umat Allah di wilayah St Paulus Ranai. Hanya saja, menurut mantan ekonom Keuskupan Pangkalpinang ini, saat ini umat St Paulus Ranai berasal dari beberapa denominasi gereja Protestan.

“Banyak dari umat, berpikir  bahwa gereja Katolik juga bagian dari Protestan,” tutur Romo Nanu Pr. Maka kata Romo Nanu lagi, beberapa dari umat Katolik yang masuk ke Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) diminta untuk berhenti dari badan musyawara antar gereja itu.

Walaupun demikian, Romo Nanu mengakui komunio umat beriman di St Paulus Ranai, terhitung bagus. “Walaupun sudah dibagi-bagi dalam komunitas basis gerejani (KBG) yang cukup kecil, tetapi persaudaraan umat antar KBG juga tidak berkurang,” ujar Romo Nanu lagi.

Romo Nanu juga menambahkan, umat juga peduli pada kesusahan umat di KBG lain. “Begitu juga dengan kegembiraan, mereka rayakan bersama,” imbuh Romo yang pernah menjadi parokus Katedral St Yoseph Pangkalpinang ini.

Dalam tuturan lebih lanjut, Romo Nanu mengatakan bahwa mereka saling mengunjungi. “Mereka tidak cuek, satu sama lain, walaupun berlainan KBG,” pungkasnya.

Stefan/Katoliknews     ,

Komentar