Pastor Mark Anthony Ventura, 37, ditembak mati setelah memimpin Misa di Kota Gattaran di Propinsi Cagayan. (Foto: Maria Tan/ucanews.com)

Konferensi Waligereja Filipina (KWF) mengecam apa yang mereka sebut sebagai “rumor tidak berdasar dan sindiran keji” yang tengah diedarkan oleh Presiden Rodrigo Duterte tentang motif pembunuhan terhadap seorang imam di bagian utara negara itu.

Pastor Mark Anthony Ventura, 37, ditembak mati setelah memimpin Misa di Kota Gattaran, Propinsi Cagayan, pada 29 April.

Menurut polisi, seorang laki-laki bersenjata api menembak imam itu dua kali saat ia memberkati anak-anak pada perayaan Misa.

Pada 20 Mei, Presiden Duterte mengeluarkan sebuah daftar perselingkuhan gelap yang diduga melibatkan imam itu. Berjudul “Possible Motive (Love Triangle)” atau Kemungkinan Motif (Cinta Segitiga), daftar itu memuat sebuah gambar yang memperlihatkan Pastor Ventura dan delapan wanita.

Presiden Duterte mengatakan para wanita itu adalah istri wakil walikota, polisi, tentara dan pengusaha. Salah seorang suami bisa saja merupakan dalang dari pembunuhan itu.

“Bagaimana kamu tidak mati,” kata Presiden Duterte sambil memperlihatkan gambar pertemuan di Propinsi Cebu itu seperti dilansir Indonesia.ucanews.com.

“Kamu berhubungan dengan istri polisi, istri wakil walikota, kamu pasti akan mati.”

Uskup Kalookan Mgr Pablo Virgilio David mengecam komentar Presiden Duterte dan mengatakan Pastor Ventura dibunuh “dua kali” setelah sindiran Presiden Duterte yang mengatakan bahwa imam itu berselingkuh dengan delapan wanita.

Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada para imam di keuskupannya, Uskup David mengatakan “menyakitkan bagi saya untuk mengatakan bahwa Pastor Ventura dibunuh dua kali … oleh pejabat tertinggi di negeri ini.”

Prelatus itu meminta para imam untuk membunyikan lonceng gereja mulai 23 Mei hingga 31 Mei “untuk mengajak umat agar berdoa bagi pembunuhan kedua (terhadap Pastor Ventura).”

Uskup David juga mengingatkan para imam dan umat Katolik agar mendukung imbauan Kardinal Luis Antonio Tagle dari Manila untuk melawan “berita bohong.”

Dalam sebuah surat pernyataan, Uskup Agung Lingayen-Dagupan Mgr Socrates Villegas, mantan ketua KWF, mengingatkan akan “kekuatan anti-Kristen” yang tengah mengoyak nilai-nilai Katolik.

Menurut prelatus itu, penyebaran “berita bohong,” pembunuhan para pengedar narkoba dan kekasaran adalah “penyakit sosial yang perlahan-lahan memakan jiwa nasional.”

Ia mengatakan bahasa vulgar yang digunakan oleh Presiden Duterte telah menodai perempuan di negara itu.

“Amarah bisa saja dibenarkan secara moral, tetapi dalam beberapa bulan terakhir amarah telah kehilangan nilai kebenarannya,” katanya.

Ia pun mengecam penggunaan kata “kekasaran … untuk mengejek kenangan orang yang tewas dibunuh, memfitnah orang beriman yang tidak bisa membela dirinya sendiri, menyebarkan gosip tentang orang yang telah meninggal, menambah kepedihan bagi mereka yang berduka atas kepergian orang yang dikasihi.”

“Apakah pembunuhan bisa dimaafkan karena imoralitas yang tidak terbukti dari orang yang meninggal? Cukup,” katanya.

Uskup Agung Tuguegarao Mgr Utleg mengatakan ia akan terus berharap dan berdoa agar kebenaran muncul sehingga kadilan bagi Pastor Ventura bisa terpenuhi.

“Kami tidak ingin berspekulasi tentang latar belakang pembunuhannya,” kata prelatus itu, seraya menambahkan bahwa ia percaya otoritas “dengan sepenuh hati menjalankan tugas mereka.”

“Kami juga tidak ingin investigasi dikacaukan oleh penyebaran rumor tidak berdasar dan sindiran keji,” lanjutnya.

“Kami ingin mereka sukses, mendapat bukti yang kuat, menangkap pembunuh dan dalangnya,” katanya.

Uskup Agung Utleg menekankan bahwa Pastor Ventura adalah “orang yang sangat penyayang, simpatis dan dekat dengan banyak orang kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan, muda dan tua.”

Sumber: Indonesia.ucanews.com

Komentar