Atasi Trauma dan Saling Curiga Pasca Bom, Murid Katolik dan Muslim di Surabaya Main Bersama

55
Para murid Katolik dan Muslim sedang bermain bersama, Kamis, 24 Mei 2018. (Foto: Detik.com)

Dampak dari teror bom yang terjadi di sejumlah gereja di Surabaya beberapa waktu lalu tak pelak menimbulkan trauma bagi pelajar di Kota Pahlawan. Tak terkecuali siswa SDK Santa Clara yang letaknya bersebelahan dengan salah satu gereja yang menjadi sasaran teror.

Sejumlah pihak pun berupaya agar siswa-siswi di SD ini tidak trauma, terlebih berlanjut dengan menganggap terorisme indentik dengan agama tertentu.

Upaya itu direalisasikan dengan kegiatan bermain bersama antara siswa SD Muhammadiyah 6 Gadung dengan SDK Santa Clara Ngagel. Kegiatan dilangsungkan di SDK Santa Clara yang berdekatan dengan Gereja Santa Maria Tak Bercela.

Sebelumnya, para guru SD Muhammadiyah 6 Gadung dan SDK Santa Clara saling memperkenalkan diri masing-masing lalu siswa-siswi diminta membaur.

Sebagai tuan rumah, siswa-siswi dari SDK Santa Clara lantas mengajak siswa-siswi dari SD Muhammadiyah 6 Gadung bermain lomba bakiak dan enggrang.

Princess (11), siswi kelas 5 SDK Santa Clara mengaku senang dengan kegiatan bermain bersama ini. Menurutnya, meski berbeda keyakinan, nyatanya mereka bisa saling dekat.

“Sangat seru, bisa menambah banyak teman. Bisa semakin dekat meski kita berbeda keyakinan,” kata Princess saat ditemui¬†Detik.com,¬†Kamis, 24 Mei 2018.

Hal senada juga disampaikan Davina Auriel Luthfiah (11), siswa kelas 5 SDM 6 Gadung, padaha Davina mengaku baru pertama kali masuk ke sekolah katolik. “Anaknya sama serunya, sama asyiknya. Kata Suster kami semua sama meskipun beragam agama. Jadi harus saling menghargai,” ungkapnya.

Kepala SDK Santa Clara, Bernadetha Wiwik Tiyani MC mengatakan jika saat ini isu keberagaman tengah menjadi fokus penting di sekolahnya. Dengan kegiatan ini, siswa-siswi di sekolahnya diharapkan bisa mengambil sisi positif.

“Para siswa sangat kami penasaran. Apalagi jarang sekali kegiatan di sekolah yang melibatkan siswa muslim,” ujar Bernadetha.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala SD Muhammadiyah 6 gadung, Munahar, mengungkapkan, kegiatan bersama ini sebagai wujud silaturahmi agar memperkuat hubungan yang terjalin pasca terjadinya teror bom.

“Peristiwa teror bom yang menurut kami menyayat kebersamaan. Kami ke sini untuk mengucapkan bela sungkawa, karena sekolah berada satu kompleks dengan gereja yang terkena ledakan,” timpalnya.

Munahar juga mengaku sengaja memilih permainan tradisonal seperti lomba balap bakiak dan enggrang.

“Sengaja kami pilih permainan itu, supaya satu sama lainnya bisa saling mengenal dan menimbulkan kekompakan dan melatih motorik halus dan kasar para siswa. Apalagi saat ini berkembangnya teknologi semuanya bermain gagdet yang bisa berdampak menjadi individualis,” tandasnya.

Detik.com/Ari D

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here