Para Uskup India Dukung Aksi Mogok Petani

by
Foto: AFP

Jutaan petani di tujuh negara bagian utama divIndia bersama dengan para aktivitas HAM telah mengadakan aksi mogok selama 10 hari menuntut harga lebih tinggi untuk produksi dan keringanan pinjaman dan Gereja menjanjikan dukungan untuk perjuangan mereka.

Beberapa hari setelah di mulai pada 1 Juni, aksi mogok itu mulai mempengaruhi daerah-daerah perkotaan di India tengah dan utara di mana para petani menolak menjual hasil panen ke pasar yang mengakibatkan melonjaknya harga pangan.

Para petani melakukan aksi mogok dalam upaya  memaksa pemerintah federal membeli produk mereka dengan harga minimum setara dengan biaya produksi plus 50 persen dari biaya produksi. Mereka juga ingin pemerintah membebaskan semua utang petani dan memastikan pendapatan bagi petani.

“Ini adalah tuntutan utama dan mereka tetap konsisten untuk waktu yang lama,” kata Shiv Kumar Sharma dari Rashtriya Kisan Mahasangh (Forum Petani Nasional) yang mengoordinasi aksi mogok.

“Kami ingin orang-orang di kota-kota memahami bagaimana pentingnya para petani dalam kehidupan sehari-hari mereka. Itulah mengapa kami memutuskan untuk menghentikan pasokan ke kota-kota,” katanya kepada media.

Lebih dari 130 asosiasi petani di negara bagian – Haryana, Rajasthan, Punjab, Jammu dan Kashmir, Madhya Pradesh, Maharashtra dan Karnataka –  telah bergabung dengan aksi mogok.

Pemogokan ini terjadi setahun setelah polisi menembak dan menewaskan enam petani selama protes serupa di negara bagian Madhya Pradesh dan negara bagian Maharashtra pada 6 Juni 2017.

Setidaknya 12.000 petani telah melakukan bunuh diri setiap tahun sejak 2013 untuk menghindari utang besar yang disebabkan oleh kondisi kekeringan dan hujan yang tidak masuk akal.

Gereja Katolik “mendukung para petani yang melakukan protes dan peduli pada tuntutan mereka,” kata Uskup Theodore Mascarenhas, sekjen Konferensi Waligereja India.

Gereja “sedih karena bunuh diri … kita tidak dapat melepaskan tanggung jawab kita terhadap mereka,” kata uskup.

Umat ​​Katolik dan Kristen lainnya di India “sebagai bagian dari masyarakat tidak dapat menutup mata terhadap masalah yang menghancurkan petani, yang merupakan garis hidup kita,” katanya.

ÏJerry Paul, seorang aktivis HAM dan koordinator nasional Sarva Isai Mahasabha, sebuah forum ekumenis orang Kristen di Madhya Pradesh, mengatakan kepada ucanews.com bahwa sektor pertanian adalah “perhatian besar bagi semua … di luar perbedaan agama dan politik.”

Pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi “telah mengancam petani dengan tindakan keras seperti mencabut semua tunjangan pemerintah kepada petani” jika mereka melanjutkan protes, kata Paul.

Modi dan Partai Bharatiya Janata (BJP) pro-Hindu memenangi kekuasaan pada tahun 2014. Selama kampanye ia berjanji untuk mendukung kenaikan harga komuditas pertanian, menghapus utang petani dan perubahan dalam kebijakan untuk membuat sektor pertanian menguntungkan, menjamin kemakmuran bagi petani.

Namun, empat tahun terakhir telah pendapatan petani memburuk. India memiliki beban pinjaman pertanian kumulatif sebesar US $ 49,1 miliar, atau 2,6 persen dari PDB negara itu pada 2016-2017, menurut data pemerintah.

Serikat buruh yang didukung BJP, Bharatiya Kisan Sangh, belum bergabung dengan aksi mogok karena menyebutnya bermotif politik.

“Ini adalah agitasi politik dan bukan masalah petani,” kata sekretaris nasional Sangh, Mohini Mohan, kepada portal web news.18.com.

“Ada unsur-unsur bermotif politik yang merencanakan kekerasan dan protes ini telah diorganisasikan untuk pemilu 2019 (nasional). Kami tidak ingin menjadi bagian dari itu,” kata Mohan, ia menduga partai-partai oposisi yang berada di belakang aksi mogok berusaha  menunjukkan pemerintahan Modi dan  BJP berada dalam situasi buruk.

Pemimpin partai Kongres oposisi di Madhya Pradesh, Saji Abraham, mengatakan kepada ucanews.com bahwa tuntutan itu murni dari petani dan  serikat petani yang didukung BJP dan lembaga pemerintah berusaha menutupi kegagalan mereka.

Perkiraan jumlah petani di India bervariasi dari 263 juta hingga 450 juta, tergantung pada apakah petani tanpa lahan juga dihitung. Setidaknya separuh dari 27 juta umat Kristen di India, terutama di negara-negara bagian selatan dan timur laut, bekerja dalam bidang budidaya sementara sebagian besar orang Kristen di desa-desa di India utara bekerja sebagai petani.