Kardinal Bo Bawa Pesan Damai ke Australia

67

Kardinal pertama di Myanmar, Charles Maung Bo, menyambut Paus Fransiskus saat Paus mengunjungi Myanmar pada November 2017 lalu.

 

Charles Maung Bo akan menjadi kardinal pertama dari Myanmar yang akan mengunjungi Australia pada 9 Juni. Advokat hak asasi manusia (HAM) ini akan menyampaikan pesan perdamaian dan iman di sela-sela kunjungan tiga hari ke Sidney, Melbourne dan Perth.

Kunjungan itu berkaitan dengan upaya pencarian dana karena Kardinal Bo akan melakukan kunjungan sebagai seorang tamu dari Misi Katolik. Misi Katolik membantu mencari dana untuk program pendidikan pembangunan negeri yang didukung oleh Kardinal Bo di Myanmar.

Kardinal pertama di Myanmar itu akan menyampaikan sambutan pada Misa yang akan digelar pada 10 Juni di Katedral St. Maria di Sidney. Ia juga akan mengunjungi Seminari Redemptoris Mater Missionary di Perth dan akan bertemu komunitas warga negara Myanmar di ketiga kota tersebut.

Kardinal Bo dikenal sebagai juru kampanye rekonsiliasi di Myanmar, sebuah negara di mana negosiasi damai dengan milisi etnis bersenjata masih berlangsung dan krisis pengungsi Rohingya tengah dicari solusinya.

Ia membela Penasihat Negara Aung San Suu Kyi ketika Aung San Suu Kyi berusaha memperjuangkan demokrasi dengan bekerjasama dengan militer meskipun ada desakan agar Penghargaan Nobel yang diraihnya dicabut karena ia tidak melakukan tindakan apa pun terkait persekusi yang dialami warga Suku Rohingya.

“Kardinal Bo adalah pemimpin yang luar biasa yang berusaha keras namun tenang bagi perdamaian dan rekonsiliasi di Myanmar,” kata Pastor Brian Lucas, direktur nasional Misi Katolik.

“Seringkali ia melawan pasukan yang tidak kasat mata dan mengambil resiko besar,” lanjutnya.

“Tahun lalu banyak media besar yang meliput Myanmar berfokus pada isu-isu di Negara Bagian Rakhine. Kardinal Bo adalah satu dari advokat terkuat bagi resolusi damai atas semua konflik di negaranya, terutama melalui dialog lintas-agama,” katanya.

Ketika Paus Fransiskus mengunjungi Myanmar pada November 2017, Kardinal Bo menyambutnya dan memintanya untuk tidak menggunakan kata “Rohingya” selama kunjungannya agar tidak memancing aksi protes anti-Muslim.

Paus menunggu sampai ia berpindah ke Banglades sebelum menyebut kata itu di depan publik.

Kardinal Bo diangkat sebagai uskup agung Yangon pada 2013. Ia bertemu Paus pada Mei di Roma saat melakukan ziarah bersama beberapa uskup asal Myanmar.

Ia meminta Paus Fransiskus untuk membantu mengadakan konferensi internasional dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mencari cara guna membantu warga Suku Rohingya dan kelompok etnis lainnya.

Sumber: ucanews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here