Anak Nelayan di Filipina Jadi Uskup

181

Pastor Raul Bautista Dael (tengah) berasama Kardinal Luis Antonio Tagle, uskup agung Manila (kiri) dan Mgr Antonio Ledesma, uskup agung Cagayan de Oro menuju altar pedi pentahbisan sebagai uskup baru untuk keuskupan Tandag pada 7 Juni.

Seorang putra nelayan miskin dari kota pantai di Filipina selatan ditahbiskan menjadi uskup Tandag di provinsi Surigao del Sur, Mindanao pada 7 Juni.

Menjadi imam selama 25 tahun terakhir, Uskup Raul Bautista Dael, penduduk asli provinsi Misamis Oriental, ditahbiskan oleh Kardinal Luis Antonio Tagle, uskup agung  Manila.

Ia akan menggantikan Uskup Agung Nereo Odcimar yang berusia 77 tahun, yang pensiun lebih awal, sebagai uskup Tandag.

Dalam pesannya selama upacara pentahbisan, Kardinal Tagle mengingatkan Uskup Dael bahwa menjadi seorang uskup “ini bukan suatu kehormatan (dan) bukan promosi, itu bukan karier.”

“Ini bukan menaiki tangga dan naik ke sana sebelum yang lain. Tidak, ini semua tentang misi, dengan cara yang sama seperti Yesus diutus,” kata prelatus Manila itu.

Kardinal Tagle memberitahukan uskup baru itu “tidak khawatir”  menjadi prajurit meskipun ada cobaan yang akan datang sebagai pemimpin Gereja.

Ketika tiba gilirannya untuk bicara, Uskup Dael mengatakan dia “gemetar ketakutan” setelah mendengar berita pengangkatannya dari Duta Besar Vatikan  pada  Februari.

“Seolah-olah misteri masuk melalui tubuh saya dan menembus seluruh tubuh saya sehingga saya bisa merasakan daging terdalam saya bergetar,” katanya kepada wartawan setelah pentahbisan.

Uskup Dael mengatakan dia tidak dapat membayangkan dirinya dipercayai dengan “misi yang sangat mulia.”

“Saya merasa tidak layak. Saya tahu kekurangan saya. Tetapi pada saat yang sama saya juga merasakan Tuhan senang dengan upaya saya meskipun saya memiliki kelemahan,” katanya.

Uskup Dael mengatakan dia tidak akan terburu-buru dalam keuskupannya tetapi akan meluangkan waktu untuk memperkenalkan dirinya kepada orang-orang yang akan dia layani.

“Saat ini, saya belum akan masuk ke hal-hal berat. Saya hanya ingin mendengarkan dan mengamati,” katanya.

Uskup Dael memilih motto uskupnya: “Duc di Altum (bertolaklah ke tempat yang dalam),” sebuah perikop dari injil,  untuk mengingatkannya tentang masa lalunya yang sederhana.

Dia mengatakan bahwa mottonya juga menyoroti “sentralitas persahabatan saya yang intim dengan Tuhan di mana seluruh pelayanan dan hidup saya bergantung.”

Sebelum masuk seminari, Uskup Dael menghabiskan sebagian besar masa remajanya di sekolah lokal di kota kelahirannya. Dia mengambil studi filsafat di Universitas Xavier yang dikelola Yesuit di kota Cagayan de Oro.

Dia memulai pembinaan religius dan imamatnya di Seminari Tinggi San Jose de Mindanao  tahun 1983. Untuk studi teologinya, ia belajar di Seminari Teologi Santo John Vianney dan lulus  tahun 1993.

Ia memperoleh lisensi dalam bidang teologi  di Sekolah Tinggi Teologi Loyola di Manila dan mengambil studi doktoralnya di Universitas Kepausan Gregorian di Roma.

Sumber: Ucanews.com

Komentar