Gereja diresmikan, Sukacita Bagi Warga Kampung Tambat Merauke

121

Berbagai persiapan dilakukan panitia untuk peresmian Gereja Katolik St. Yohanes Tambat di Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke.

Salah satu mata acara yang dipersiapkan adalah penjemputan Uskup Agung Merauke, Mgr. Nikolaus Adi Seputra, MSC dengan tarian adat Marind serta Boven Digoel. Karena di kampung tersebut, masyarakat dari kabupaten tetangga juga bermukim di dana.

Kurang lebih 100 meter, prosesi perarakan dilakukan. Saat itu, Uskup didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Merauke, Daniel Pauta. Sementara, ribuan umat telah menunggu di luar gereja untuk dilakukan pengguntingan dan pembukaan pintu, sekaligus pemberkatan. Lalu dilanjutkan misa bersama.

Ketua panitia, B. Wanditinop dalam laporannya mengungkapkan, meskipun dengan berbagai kesulitan yang dihadapi, ia bersama sejumlah panitia, terus bekerja mencari dukungan dana agar peresmian Gereja Katolik St. Yohanes Tambat terlaksana.

“Memang anggaran yang kami alokasikan mencapai Rp 90 juta lebih. Meskipun tak mencukupi, namun panitia bersepakat undangan tetap diedarkan dan peresmian tetap dilakukan pada Minggu, 17 Juni 2018,” ujarnya.

Olehnya, lanjut dia, secara swadaya masyarakat serta dukungan donatur, berbagai persiapan dilaksanakan, sehingga gereja diresmikan.

Pastor Paroki Bunda Hati Kudus Kuper, PJD Bosco Ngeljaratan, MSC mengungkapkan, wilayah tugas pelayanannya sangat luas di  17 stasi. Meski demikian, tetap berjalan seperti biasa.

Pastor Bosco mengatakan kunjungannya dari satu stasi ke stasi lain, mulai dari SP-2, SP3, SP-7 hingga di Kampung Tambat, ia menemukan kurang lebih empat gereja yang pembangunannya mangkrak.

“Melihat itu, saya tidak tinggal diam. Tetapi terus mendorong umat agar diselesaikan. Salah satunya adalah Gereja St. Petrus Tambat. Karena dilihat dari konstruksi, bangunan tersebut berukuran kecil dibandingkan tiga gereja lain,” ujarnya.

Panitia akhirnya mendapatkan bantuan dana senilai Rp 100 juta dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke untuk penyelesaian.

“Jadi, hari ini dengan kegembiraan rohani yang meluap-luap, akhirnya kita semua bersukacita. Karena gereja sudah diselesaikan dan diberkati Bapak Uskup Agung Merauke,” katanya.

Namun demikian, menurut pastor, masih ada beban dan tanggung jawab lagi untuk menyelesaikan tiga gereja lainnya.

Jumlah umat di belasan stasi itu mencapai 5.000 jiwa dan berasal dari berbagai suku. “Saya boleh katakan bahwa Paroki Kuper adalah paroki Bhineka Tunggal Ikan. Karena bisa ditemukan umat Katolik mulai dari orang Nusa Tenggara Timur (NTT), Jawa, Muyu Mandobo, Key serta Tanimbar, Manado serta Jawa,” ungkapnya.

Uskup Agung Merauke, Mgr. Nikolaus Adi Seputra mengatakan, dalam waktu tidak terlalu lama, gereja dapat dirampungkan. “Saya berharap agar bukan hanya gerejanya hebat diselesaikan dengan cepat, namun akan muncul adanya panggilan-panggilan menjadi pastor maupun suster,” pintanya.

Diharapkan kepada orangtua memberikan motivasi atau dorongan kepada anak-anak agar menjadi biarawan-biarawati.

“Jangan hanya menyumbang untuk pembangunan gereja, tetapi menyumbang juga untuk pelayanan. Ini menjadi harapan dari saya sebagai uskup,” pintanya lagi.

Uskup meminta kepada umat menjaga dan menggunakan gereja dengan baik. Lalu, setiap hari Minggu, wajib ke gereja mengikuti perayaan ibadah.

“Tuhan telah memberikan waktu kepada kita bekerja selama enam hari. Jadi, pada hari ketujuh, berbagai aktivitas di tinggalkan dan harus ke gereja,” katanya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Merauke, Daniel Pauta menyampaikan tiga gereja lain yang belum dirampungkan itu pemerintah telah membantu dana yang nilainya sangat besar. Untuk gereja SP-7 sebesar Rp 500 juta. Sedangkan Sp-3 Rp 400 juta serta Sp-2 Rp 100 juta.

“Saya harus menyampaikan kepada semua umat bahwa begitu dana diberikan, harus ada laporan pertanggungjawaban. Jika tidak, terpaksa diumumkan di radio,” ungkap Sekda.

Olehnya, jelas dia, panitia pembangunan Gereja Tambat, agar membuatkan laporan secara tertulis disertai bukti-bukti kwitansi yang dibelanjakan. Sehingga menjadi dasar ketika pemeriksaan.

“Ya, kalau tak ada laporan pertanggungjawaban, bisa menjadi obyek temuan. Untuk itu, mohon pengertian masyarakat agar melaporkan dengan cepat. Sehingga tak menimbulkan permasalahan dikemudian hari,” pintanya.

Dalam kesempatan itu, Sekda berterimakasih kepada Keuskupan Agung Merauke yang sejak dulu menjadi mitra pemerintah, melaksanakan pembinaan kepada masyarakat di bidang spiritual. Sehingga umat Katolik selalu damai bersama umat lain.

“Gereja yang telah diselesaikan ini, agar dijaga dan dirawat dengan baik. Jangan sampai ketika kita datang lagi, banyak coretan di dinding atau dibiarkan tak dirawat. Umat sudah membangun dengan susah payah, jadi harus dirawat dari waktu ke waktu,” katanya.

Sumber: Tabloidjubi.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here