Tujuh Tahun, Perjuangan itu Tak Sia-Sia

751
Uskup Pangkalpinang, Mgr Adrianus Sunarko OFM sedang mendupai altar disaksikan Pastor Paroki Katedral Pangkalpinang RD Yustinianus TL (foto : fennie)

Katoliknews.com–Berjarak sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Pangkalpinang menuju Selatan, umat Katolik di Pulau Bangka khususnya, tentu banyak yang mengenal Gereja St. Petrus Kampung Jeruk yang terletak di Desa Jeruk, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah ini.

Sekitar 47 tahun silam, tepatnya Desember 1971, bangunan gereja dengan “arsitek” Bruder Yanuar Husada SSCC ini berdiri. Berawal dari ukuran bangunan 11 X 13 meter, 47 tahun berlalu, kini gereja itu telah “disulap” menjadi 25 X 45 meter, termasuk teras.

Di balik semua ini, tak banyak yang tahu beratnya perjuangan umat Katolik St. Petrus Kampung Jeruk dan semua yang peduli terhadap Gereja Kampung Jeruk mewujudkan mimpi mendiang Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD yang menginginkan bangunan gereja Kampung Jeruk seluas yang sekarang ada.

“Awal pembangunan bangunan baru gereja, uang kas stasi hanya sekitar Rp 115 juta,” kenang Lim Sak Pian, Ketua Panitia Pembangunan sekaligus mantan Ketua Stasi Kampung Jeruk empat periode.

Ia mengimbuhkan, awalnya panitia Kampung Jeruk mengusulkan bangunan gereja yang baru seluas 15 X 30 meter. “Mengantisipasi pemekaran, sampai di meja Bapak Uskup (Mgr. Hilarius Moa Nurak SVD, Alm.-red) diperbesar menjadi 20 X 40 meter,” kenang Sak Pian.

Pribadi yang terkesan sederhana dan rendah hati ini bertutur, beberapa pertimbangan almahrum Mgr Hilarius, SVD yang melandasi pembagunan gedung gereja seluas sekarang. Menurut tuturan tokoh umat ini, salah satu pertimbangan adalah adalah rencana pemekaran paroki.

Selain itu, Sak Pian menambahkan, lokasi gereja yang dekat dengan bandara, dan diikuti alas an lain, gereja yang dekat dengan hotel bertaraf internasional. Selebihnya, kata Sak Pian, tak kalah pentingnya adalah karena tapak sejarah Gereja Katolik di Pulau Bangka yang tidak bisa dilepaskan dari Sambong.

Sebagaimana yang ditulis Pastor Stefan Kelen PR dalam buku “Gereja St. Petrus Kampung Jeruk, Metamorfosis Umat Menuju Gereja Mandiri”, dikatakan “Kampung Jeruk adalah Sambong yang Tersambung.”

Mengawali pembangunan gereja baru, 27 Mei 2011 dan diresmikan 28 Juni 2018 setelah mengalami tiga kepemimpinan uskup. Dimulai oleh Mgr Hilarius SVD berganti ke Administrator Apostolik Mgr Harun Yuwono PR, hingga diresmikan Mgr Adrianus OFM.

Pembangunan ini sempat berjalan terseok-seok karena keterbatasan dana, kini terlihat kepedulian, kekompakan, dan semangat umat Kampung Jeruk tak layak diragukan.

Meski sempat berhenti total pekerjaan di Gereja Kampung Jeruk oleh tukang, cukup lama umat Kampung Jeruk melanjutkan pembangunan gereja mereka dengan cara bergotong-royong. Bahu-membahu.

“Kami menggali tapak dan segala macam. Membuat tiang pancang. Tapak pertama kurang kuat, jadi digali lagi. Diperbesar, dicor kembali. Kebanyakan panitia yang menangani. Orang asli sini,” kenang Sak Pian.

Kini perjuangan panjang itu membuahkan hasil. Kerja keras itu berbuah kebaikan dan keindahan. Tak adalah menanam pohon rambutan yang berbuah papaya. Setiap upaya yang keras akan membawa hasil yang maksimal.  Proficiat untuk umat Gereja St. Petrus Kampung Jeruk. Pro Ecclesia et Patria.

Fennie/katoliknews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here