Mengatasi Persoalan Lingkungan dengan Mulai dari Diri Sendiri

340
Prajurit Yonif 410 Alugoro Blora Jawa Tengah yang bertugas sebagai Satuan Tugas (Satgas) Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Indonesia-Papua Nugini, Sabtu (10/6/2017) bahu membahu dengan warga Kampung Wembi, Distrik Manen Kabupaten Keerom, Papua, membersihkan lingkungan Gereja Katholik Santo Petrus (Foto: kompas.com)..

Paus Fransiskus melalui Laudato Si menggarisbawahi bahwa persoalan kerusakan lingkungan hidup tidak dapat hanya diatasi dengan langkah praktisteknis, kebijakan atau metodologi, tetapi harus diubah mulai dari dalam kesadaran diri, tanggungjawab, cara berpikir serta cara berada manusia. Dalam bab enam dari ensiklik tersebut beliau menulis: “Banyak hal yang harus diarahkan kembali, tetapi terutama umat manusia harus berubah.

Yang dibutuhkan ialah kesadaran pada asal kita bersama, pada rasa saling memiliki, pada masa depan yang harus dibagi dengan semua makhluk. Kesadaran mendasar ini dapat memungkinkan pengembangan keyakinan, sikap dan bentuk kehidupan yang baru. Jadi kita berhadapan dengan suatu tantangan budaya, spiritual dan pendidikan yang besar, yang akan membutuhkan pembaruan yang panjang” (LS 202).

Tak dapat disangkal bahwa percepatan perusakan lingkungan hidup dalam 200 tahun terakhir, tidak sebanding dengan kemampuan alam untuk memulihkan diri. Alam ciptaan amat rapuh dan tak berdaya di hadapan kedigdayaan teknologi manusia yang dengan tangkas mengubah alam serta isinya bagi pemenuhan hasrat konsumeris manusia yang tidak berbatas.

Mencermati kata-kata Paus di atas kita menemukan suatu pencerahan bahwa pemulihan alam, mustahil tanpa tekad dan komitmen sungguh dari pihak manusia sebagai makhluk moral.

Sejak Paus Yohanes Paulus II dikatakan bahwa persoalan lingkungan hidup adalah persoalan moral. Ini berarti menyangkut baik kesadaran maupun tanggungjawab moral manusia terhadap hidupnya, hidup sesama, alam ciptaan, dan Sang Pencipta sendiri.

Mengoptimalkan kualitas kesadaran dan tanggungjawab moral mengandaikan ketersediaan pelbagai medium dan instrumentum yang dapat menjadi humus bagi pengembangan dan pendidikan moral.

Jika yakin bahwa perusakan lingkungan hidup adalah suatu kejahatan kemanusiaan, maka yang harus dibenahi dan dibereskan adalah dunia interior manusia: hatinya, cara berpikir, kesadaran dan nuraninya.

Segala hasrat jahat yang menjelma dalam tindakan-tindakan kejahatan bersumber pada dunia interior manusia itu sendiri, karena itu pemulihan lingkungan tak dapat berjalan efektif tanpa pertobatan, pembaharuan, dan pembenahan diri.

Mengubah keyakinan dan cara berpikir, mengubah perspesi dan kesadaran akan nilai, serta menata gaya hidup dan pola berpikir menjadi tuntutan niscaya.

Lagi-lagi dalam bahasa spiritual, Yohanes Paulus II menyebut perubahan itu dengan nama “pertobatan ekologis”. Muaranya tetap sama yakni kesadaran baru akan asal usul bersama dari Sang Pencipta; saling menjaga dan memelihara karena manusia itu milik alam (makhluk ekologis) dan ekologi itu rumah manusia.

Perubahan itu mesti bermuara pada kesadaran dan cara berpikir baru; gaya hidup dan keyakinan baru, bahwa semua harus diubah dengan suatu tekad teguh.

Pembaharuan itu akhirnya mesti berujung pada kesadaran akan cara berada baru, bukan lagi “ego-logi” (antroposentrisme) tetapi “eco-logi” – merawat bumi rumah bersama.

Pertobatan ekologis atau pembaharuan komitmen dan kesadaran ekologis, berarti keluar dari diri (egoisme) menuju diri yang lain, yakni sesama ciptaan, sambil mengembangkan kepedulian hakiki, yakni memelihara, merawat, peduli, menyembuhkan dan memulihkan.

Paus Fransiskus menulis, “sikap dasar melampaui diri, dengan mendobrak pikiran tertutup dan keterpusatan pada dirinya, adalah akar yang memungkinkan segala perhatian diarahkan kepada orang lain dan lingkungan, dan yang menimbulkan tanggapan moral untuk menghitung setiap dampak tindakan dan keputusan pribadi terhadap dunia sekitar kita (LS 208).

Semua berharap bahwa bidang baru yang harus segera diwujudkan keberadaan serta efektivitasnya adalah bidang pendidikan ekologi atau ekopedagogi. Apa yang ingin dicapai?

Pendidikan ekologi harus mempersiapkan manusia melompat ke dalam “misteri” yang memberi etika lingkungan makna terdalam. Memampukan para pendidik mengembangkan jalur-jalur pedagogis bagi etika ekologis, sehingga membantu manusia berkembang secara efektif dalam solidaritas, tanggungjawab, dan semangat merawat dengan penuh kasih (LS 210).

Sumber: Jpicofmindonesia.com

Komentar