Romo Posma Manalu Pr (berkolar) saat bersama Mgr Ludovicus Simanullang OFM.Cap (foto : dok)

Katoliknews.com—-Wafatnya  Uskup Keuskupan Sibolga, Mgr Lodovicus Simanullang OFM.Cap, meninggalkan kesan, persepsi, curahan rasa dan ungkapan pengenalan terhadap sosok ini di antara para imam diosesan Sibolga. Ungkapan pengenalan yang menarik datang  Sekretaris Jendral Keuskupan Sibolga, Romo Blasius Super Yesse, Pr.  “Monsinyur, tidak sekedar ilmuwan dalam soal sipriritualitas Fransiskan, tetapi juga penghayat spiritualitas tersebut,” ungkap Romo Blasius Yesse melalui telepon selularnya (22/9/18).

Romo yang meraih magister Hukum Gereja ini menambahkan sederet bukti  untuk meyakinkan bahwa Mgr Ludovicus sungguh-sungguh penghayat spiritualitas Fransiskan.  “Walaupun ia seorang Uskup, tetapi begitu terlihat sederhana, dan rendah hati. Bahkan bisa mengelap meja,” tutur Romo Blasius menjelaskan.

Karakter kerendahan hati dan kesederhanaan ini juga diungkapkan oleh Romo Diosesan Sibolga lainnya, Romo Paulus Posma Manalu, Pr. “Beliau adalah seorang gembala yang rendah hati dan sederhana. Ia tidak mau menyusahkan orang lain,“ tulis Romo Posma melalui pesan pribadinya di facebook. “Selagi masih bisa dikerjakan, dia akan mengerjakannya sendiri,” imbuh Romo yang saat ini menjalani pendidikan di Lemhanas RI ini.

Romo Posma mempunyai contoh bahwa Mgr Ludovicus adalah gembala yang sederhana, dan hidupnya praktis. “Ia memilih jasa taxi, ketika beliau mau ke bandara atau dari bandara,” imbuh Romo yang pernah menjadi ketua Komsos Keuskupan Sibolga ini. .

Gembala  yang visioner dan tidak suka pada program dadakan

Dalam soal kepemimpinan, Romo Blasius mempunyai  pengenalan yang tak bisa dilupakan.  “Dalam kepemimpinan, ia hadir dengan ketulusan hati, dan sungguh memperhatikan hal-hal detail. Tidak terlalu cepat percaya dengan gambaran global yang perhatian banyak orang,” tutur lulusan S2 Hukum Gereja dari sebuah universitas di Roma ini.

Karena itu, kata Romo Blasius, dalam kegembalaan Mgr Lodovicus terjadi dua kali sinode. “Yakni 2009 dan 2015. Hal itu berarti Uskup ini melibatkan banyak umat untuk menentukan visi dan misi gereja,” imbuh Romo yang dua kali menjadi Sekjend ini.

Menurut Romo  Blasius lagi, Uskup yang satu ini menghendaki kerja yang terencana, bukan berdasarkan spontanitas. “Arah pastoral harus jelas. Hasil sinode diterjemahkan dalam program tahunan mulai dari komunitas basis,” ujar Romo Blasius.  Lantas, menurut Romo sekjend lagi, setiap tahun diadakan  dua kali pertemuan pastoral. “Pertama bulan juni, pertengahan tahun untuk evaluasi. Dan selanjutnya pada bulan November untuk evaluasi dan merancang rencana strategi,” jelas Romo Blasius lagi.

Senada dengan Romo sekretaris jendral, Romo Posma juga mengakui bahwa  Uskupnya sangat komit dengan reksa pastoral. “Uskup ini sangat komit dengan reksa pastoral, sehingga perkembangan dan kemajuan pastoral di Keuskupan lain, ia ceritakan kepada kami para imamnya untuk terinspirasi terus mengembangkan reksa pastoral di Keuskupan Sibolga,” pungkas Romo Posma.

Stefan/Katoliknews

Komentar