Katoliknews.com – Tokoh lintas agama menyerukan pesan damai menjelang pemilu presiden dan legislatif 2019 mendatang.

Seruan ini di sampaikan dalam sebuah acara damai yang digelar di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Kamis (27/9/2018).

Seperti dilansir Detik.com, tokoh lintas agama yang hadir antara lain Din Syamsuddin wakil dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Romo Magnis mewakili umat Katolik, Romo Endro dari Konferensi Wali Gereja Indonesia dan Ketua umum PGI Henriette T Hutabarat Lebang.

Selain itu, ada juga Wakil dari Parisada Hindu Dharma Indonesia Nyoman Udayana, wakil dari Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Philip Widjaja dan wakil dari Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) Uung Sendana.

‚ÄúSatu, menyatakan keprihatinan mendalam atas berkembangnya suasana kehidupan bangsa yang menampilkan gejala pertentangan dan wacana antagonistik di kalangan masyarakat,” kata Ketua umum PGI Henriette T Hutabarat Lebang.

Kemudian, poin kedua dalam pesan itu mengimbau semua pihak untuk menahan diri baik dalam perkataan dan perbuatan yang dapat mendorong pertentangan di masyarakat.

“Terutama menyinggung wilayah sensitif menyangkut keyakinan agama, ras, antar-golongan, dan suku,” ujar Philip Widjaja.

Ketiga, para tokoh agama berpesan agar semua pihak dapat melaksanakan pemilu dengan cara-cara beradab dan tidak menghalalkan segala cara untuk menang.

“Dipesankan agar dalam melaksanakan Pemilu atau Pilpres, segenap rakyat tidak terjebak ke dalam cara-cara yang tidak beradab, seperti menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan, mempraktikkan politik uang, menebarkan janji palsu, melakukan intimidasi dan manipulasi, atau cenderung menjelek-jelekkan lawan politik, dan menggunakan isu primordial hanya sebagai cara pembenaran (justifikasi) kepentingan politik,” tutur Romo Endro.

Keempat, segenap elemen bangsa memaknai agenda politik pilpres dan pileg sebagai sarana meningkatkan kesejahteraan bangsa dan memperkokoh persatuan bangsa.

“Bukan sebaliknya justru menjadi ajang perpecahan bangsa. Marilah kita wujudkan pemilu atau pilpres yang beradab dan berkualitas,” ucap Uung Sendana.

Poin kelima ditujukan pada pemerintah untuk menyelesaikan pertentangan dalam kehidupan bermasyarakat baik melalui pendekatan pencegahan maupun penanggulangan.

“Keenam, kepada Komisi Pemilihan Umum/KPU dan Badan Pengawas Pemilu/Bawaslu agar melaksanakan tugas masing-masing secara benar, jujur, adil, profesional, imparsial dengan penuh tanggung jawab,” pungkas Henriette T Hutabarat Lebang lagi.

Ketujuh, para tokoh lintas agama berpesan kepada masyarakat untuk mendorong proses demokrasi aman dan lancar, secara jujur dan adil, dan mengedepankan nilai moral dan etika keagamaan secara konsisten dan konsekuen.

Terakhir, masyarakat diajak berdoa agar bangsa terhindar dari hal-hal yang buruk.

“Delapan, mengajak seluruh umat berbagai agama di Tanah Air untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut keyakinan masing-masing agar bangsa Indonesia terhindar dari malapetaka perpecahan, dan agar memiliki kekuatan lahir dan batin dalam menghadapi tantangan dan ancaman baik yang datang dari luar maupun dalam negeri yang menginginkan perpecahan bangsa dan keruntuhan negara,” tutup Romo Magnis. (brvs)

Komentar