Mgr Ignatius Suharyo. (Foto: Ist)

Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo meminta umatnya untuk tidak membuang makanan dan mewujudkan sikap berbagi dengan sesama.

Hal itu ia sampaikan dalam surat gembala Hari Pangan Sedunia (HPS) yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober, yang yang dibacakan pada Misa Minggu, 14 Oktober di  65 paroki di Keuskupan Agung Jakarta.

Ia mengatakan pangan adalah kebutuhan dasar manusia dan karena itu  sudah seharusnya kebutuhan setiap orang akan pangan itu mempersatukan dan menumbuhkan solidaritas dan kerelaan untuk berbagi.

“Tetapi nyatanya pangan dengan mudah juga dapat menimbulkan konflik. Alasan utamanya, kebutuhan dasar pangan yang seharusnya menumbuhkan solidaritas, dalam kenyataan juga dapat menyulut keserakahan,” katanya.

“Itulah yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi: ‘Bumi ini cukup untuk memenuhi setiap kebutuhan manusia, bukan untuk memenuhi keserakahan manusia,’” lanjutnya.

Dalam suratnya, ia juga menyinggung laporan terbaru dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB yang menyebutkan bahwa sekitar 820 juta penduduk di dunia mengalami kekurangan pangan dan 60 persen di antaranya adalah perempuan, 45 persen dari kematian anak di dunia disebabkan oleh kekurangan pangan dan 151 juta anak mengalami stunting atau gagal tumbuh.

Terkait stunting, Mgr Suharyo menyebut data dari Kementerian Kesehatan yang menyatakan bahwa 37,2 persen anak di Indonesia mengalami gagal tumbuh atau empat dari 10 anak di Indonesia menderita stunting.

“Yang ironis ialah laporan yang sama menyatakan bahwa 672 juta orang mengalami obesitas dan lebih dari satu miliar penduduk dunia mengalami kelebihan berat badan,” katanya.

Untuk itu, ia mengajak keluarga dan komunitas Katolik untuk menjadi “tempat yang subur untuk mewariskan, merawat dan mengembangkan nilai-nilai dan keutamaan-keutamaan manusiawi sekaligus Kristiani, seperti kebhinnekaan dan belarasa, khususnya dalam rangka mengatasi kelaparan dan kekurangan pangan bergizi.”

“Upaya-upaya kecil apa pun – misalnya, tidak membuang makanan, memilih cara hidup ugahari, berani berkata ‘cukup,’ berbagi makanan dengan Saudara-Saudari kita yang sangat membutuhkan, jimpitan beras, menghemat air, mengikuti pertemuan-pertemuan dalam rangka HPS, merayakannya pada tingkat lingkungan, wilayah maupun paroki – menjadi bermakna karena dijiwai oleh iman,” katanya.

Menurut Mgr Suharyo, melalui gerakan semacam itu iman umat Katolik akan bertumbuh dan berbuah.

“Kita yakin bahwa Gereja adalah gerakan iman dan cinta melalui aksi-aksi nyata yang terus berkelanjutan, baik yang dilakukan secara bersama maupun sendiri-sendiri,” lanjutnya.

Katoliknews

Komentar