Uskup Manado, Mgr Benedictus Estephanus Rolly MSC berbagi kisah tentang kunjungannya ke Kevikepan Palu, Sulawesi Tengah usai gempa dan tsunami mengguncang daerah itu pada 28 September lalu.

Kunjungan Mgr Rolly ke Palu yang dilakukan pada tanggal 11 dan 12 Oktober itu sekaligus untuk memberikan bantuan kepada korban gempa dan tsunami.

Seperti dilansir Komsosmanado.com, Mgr Rolly menceritakan, dalam perjalanannya dari satu tempat ke tempat lain di Palu, ia melihat begitu banyak kerusakan.

“Mulanya saya berkunjung ke Gereja Katolik St. Paulus. Ada dapur umum. Gereja baru yang sedang dalam tahap penyelesaian masih berdiri kokoh walau ada kerusakan kecil. Gereja digunakan sebagai tempat berlindung, tidur, dan berdoa. Pastoran masih bisa dipakai walaupun ada retak di bagian kamar,” kata Mgr Rolly.

Ia kemudian mengunjungi umat stasi Sidera dan Jonooge, Kabupaten Sigi yang saat itu tengah berkumpul di halaman Rumah Ketua Stasi Sidera.

“Gereja Sidera yang sedang dibangun terkena musibah jatuhnya dinding atas bagian depan dan belakang. Kemudian kami membagikan makanan kepada masyarakat Jonooge yang tinggal di tenda-tenda,” ujarnya.

Menurut Uskup berusia 61 tahun ini, Jonooge ada salah tempat yang paling parah kerusakannya.

“Di darah ini jalan terbelah, rumah dan bangunan hancur, patah, miring, retak; persawahan berubah menjadi perkebunan jagung (terjadi pergeseran oleh likuifaksi),” katanya.

Setelah itu, Mgr Rolly mengunjungi daerah Petobo, salah satu tempat dimana sejumlah perumahan tenggelam dan ditutup oleh lumpur.

“Jalanan di sini amblas sedalam 2 meter,” ujarnya.

Ia kemudian meneruskan perjalanan ke Pantai Talise hingga tiba di Paroki Santa Maria. Di tempat itu, kata dia, ia berjumpa dengan sejumlah pastor, suster, frater, dewan pastoral hingga para relawan yang saat itu tengah berkumpul.

“Di situ, saya melihat aula tempat penampungan dan distribusi bantuan. Bagian depan aula berlubang akibat dinding atas roboh, demikian juga plafon di atas panggung jatuh,” ujar Mgr Rolly.

Meski begitu, kata dia, Gereja Santa Maria itu masih berdiri kokoh sekalipun ada beberapa kawat tembok di atap yang terlepas.

“Kemudian Salib besar di dinding altar juga masih tergantung pada tempatnya meski marmer-marmer di sekitarnya banyak yang berjatuhan merusak kursi di panti imam,” katanya.

Keuskupan Manado sebelumnya sudah merespon bencana sejak tanggal 28 Sepetember 2018. Setelah itu, pihak keuskupan menyuarakan penggalangan dana dan mengirim para relawan ke sejumlah tempat di Palu untuk membantu para korban gempa dan tsunami.

Terkait bencana ini, Uskup Rolly mengungkapkan duka mendalam terhadap mereka yang menjadi korban.

“Saya merasa senasib-sepenanggungan dengan mereka yang terdampak bencana, saya mendukung usaha-usaha para relawan, berterima kasih kepada mereka yang sudah dan akan terus membantu dan mengajak seluruh umat dan masyarakat untuk mengungkapkan solidaritas kita kepada mereka yang menderita,” kata Mgr Rolly. (Katoliknews)

Komentar