Ilustrasi

Katoliknews.com – Seorang pastor yang kerap terlibat dalam diskusi terkait masalah sosial politik dan pakar terkait Ajaran Sosial Gereja menilai praktek politik di Indonesia saat ini kerap ‘menjual’ agama, namun tidak mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan agama.

Pastor Peter C Aman OFM, Ketua Komisi JPIC-OFM Indonesia dan pengajar teologi moral di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta mengatakan para politisi kita kerap mengumbar cita-cita surgawi tetapi miskin upaya memperjuangkan keadilan.

“Kita bicara masuk surga tapi absen (untuk) peduli pada kesejahteraan umum,” katanya, sebagaimana dikutip di situs JPIC-OFM Indonesia.

Ia menyampaikan hal itu dalam kesempatan diskusi dengan kelompok Vox Point Indonesia di Jakarta baru-baru ini.

Ia menilai, ayat-ayat suci agama sudah diperjualbelikan habis-habisan untuk kepentingan elektoral semata. Yang sedang terjadi kemudian, katanya, agama justu tidak mengantar orang masuk surga tetapi menjadi musuh bagi sesama.

Hal itu, jelasnya, tercermin dalam beragam kasus intoleransi, yang menurut sejumlah lembaga advokasi kebebasan beragama, banyak terjadi pada momen-momen Pilkada.

Ia pun menilai, politik Indonesia membutuhkan inovasi di dalam kesadaran warga memandang politik.

Hal yang krusial, kata dia, adalah memisahkan agama dari spiritualitas, dua hal yang sejatinya berbeda, di mana agama adalah institusi, organisasi,  dengan ajaran, hukum dan ibadahnya yang menjadi sebuah pandangan tentang dunia, sementara spiritualitas adalah menyangkut inti terdalam dari diri manusia, yang terkait dengan kemampuan melampaui diri sendiri dan  berkomunikasi dengan sesuatu yang transenden.

Pastor Peter C Aman OFM (Foto: ist).

“Spiritualitas bisa menjadi humus yang menyuburkan moralitas dan etika, serta kehidupan agama,” katanya.

“Ketika agama bisa dieksploitasi dan dimanipulasi, spiritualitas bisa memurnikan agama dan menjadikan politik bermoral dan beretika,” tandasnya.

Ketika agama bisa dijadikan racun bagi politik, jelasnya, spiritualitas dapat menyelamatkan agama dan menyucikan politik.

“Kalau agama bisa memisahkan seseorang dari sesamanya, spiritualitas menghubungkan dan menyatukan segalanya,” tambahnya.

Menurut Pastor Peter, harus ada sinergitas antara yang politis dan spiritual, di mana di sana nilai-nilai moral dan etis bertumbuh.

“Dari perspektif moral sosial, politik itu berteologi, keluar dari diri menuju orang lain. Berpolitik itu ruang sosial yang tersedia untuk mengaktualisasikan diri, arena mengimplementasikan nilai-nilai moral dan spiritual,” tuturnya.

Jadi, tegasnya, yang pokok dari politik adalah ciri altruisme, sehingga politisi adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, pengabdi kemanusiaan.

Politisi katolik, karena itu, menurutnya, harus anti pada hal-hal yang secara etis negatif, seperti praktek korupsi.

Ia meminta orang Katolik harus waspada pada jebakan palsu dalam berpolitik. 

Ia menegaskan, seorang politisi Katolik tidak ditugaskan untuk memperjuangkan kepentingan orang atau Gereja Katolik, tetapi menyuarakan kepentingan bangsa atau keadilan sosial.

“Maka, politisi katolik tidak salah kalau tidak hafal tujuh sakramen gereja, tetapi adalah kejahatan kalau melakukan korupsi,” tegasnya.

“Kita berjuang untuk semua. Agamanya tidak harus sama. Yang terpenting  adalah iman dan spiritualitasnya sama,” tambahnya.

Ia mengingatkan, umat Katolik mesti waspada terhadap dua kecenderungan dasar, yakni mengurus dunia tetapi lupa tujuan terakhir, yakni Tuhan sendiri dan sibuk mengurus surga, padahal kita masih di dunia, lupa dengan tugas menyucikan dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here