Saat Kardinal Suharyo Tersentuh Pengalaman dengan Anak SD

Ignatius Kardinal Suharyo. (Foto: Ist)

Katoliknews.comBerusaha menjelaskan dengan sederhana, dari contoh-contoh konkret dan unik merupakan salah satu metode yang efektif agar pesan yang hendak disampaikan kepada orang lain bisa dimengerti dengan mudah.

Cara demikian kerap digunakan Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo dalam khotbahnya, juga dalam tulisan-tulisannya.

Salah satunya saat ia menyampaikan khotbah dalam Misa peringatan 90 tahun hadirnya para Fransiskan di nusantara.

Dalam Misa pada Minggu, 17 November 2019 itu yang digelar di Gereja Hati Kudus Kramat, Jakarta Pusat, ia menjelaskan tentang perlunya pembaruan dalam Gereja, hal yang ia ingatkan agar menjadi komitmen terus-menerus bagi para Fransiskan.

Karena, kata dia, hal itu adalah semangat yang digelorakan oleh St Fransiskus Assisi dan kini oleh Paus Fransiskus.

Saat menjelaskan bahwa di Keuskupan Agung Jakarta, semangat pembaruan itu dilakukan dengan sebuah rumusan sederhana agar orang-orang Katolik menjadi “semakin beriman, semakin bersaudara dan semakin berbela rasa,” ia mengangkat kisah tentang pengalamannya bersama seorang anak SD, yang menurut dia menunjukkan dengan konkret sebuah semangat pembaruan yang sudah “masuk ke dalam hati.”

Pengalaman itu, kata dia, terjadi ketika ia mengikuti rapat di sebuah lembaga kesehatan, di mana salah seorang ibu pengurus lembaga itu itu membawa anaknya yang masih kelas 4 atau kelas 5 SD.

Saat makan siang dalam rapat itu, jelasnya, anak itu melakukan hal yang menurut dia menyentuhnya.

“Anak kecil itu berkeliling di meja makan dan menginspeksi piring-piring yang dipakai oleh peserta rapat. Piring-piring itu ada yang bersih, habis makanannya, (namun) ada yang menyisahkan makanan, tidak habis,” katanya.

“Anak itu bilang sama ibunya, ‘ibu  (makanan di) piring itu tidak habis,’” lanjut Suharyo.

Melihat hal itu, ia mengaku membayangkan bahwa ada hal atau pesan yang sedang disampaikan anak itu.

“Saya langsung bisa menebak apa yang ada dalam hati anak itu, (perihal) membuang-buang makanan menjadi sampah.” katanya.

“Paus Fransiskus mengatakan membuang-membuang makanan sama dengan merampas hak orang miskin, tidak berbela rasa,” lanjut Kardinal Suharyo.

Dari pengalaman itu, ia kemudian menarik kesimpulan bahwa, apa yang dikatakan anak itu sudah menunjukkan bukti bahwa ia sampai pada level berbela rasa.

“Itulah yang saya tangkap, (bahwa) dinamika semakin beriman, semakin bersaudara, semakin berbela rasa masuk di dalam hati, bahkan (dalam hati) anak seusia muda itu,” katanya.

Di akhir homilinya itu, ia kembali mengingatkan bahwa menunjukkan pembaruan, sebagaimana yang juga dipelajari dari anak SD itu, mestinya menjadi komitmen para Fransiskan.

“Jadi, para Fransiskan terkasih, tanggung jawab sejarah saudara-saudara sekalian sangat berat, menjadi pembaru di dalam Gereja, di keuskupan, di paroki, di mana pun saudara diutus (untuk) melayani,” katanya,

“Kami semua bersyukur atas semua yang telah saudara-saudara jalankan. Kita berdoa, semoga seperti St Fransiskus Assisi dan Paus Fransiskus, saudara-saudara sekalian sungguh menjadi pendorong pembaruan di dalam gereja,” tambah kardinal.