Dua Imam Katolik Ritus Armenia Tewas Diserang ISIS

Pastor Housib Abraham Bidoyan, pimpinan Gereja Katolik Armenia di Qamishli tewas setelah ditembak oleh kelompok ISIS. (Foto: ist)

Katoliknews.com – Dua imam Katolik dari Ritus Armenia ditemukan tewas dan seorang diakon terluka ketika kendaraan yang mereka tumpangi ditembak segerombolan orang bersenjata di Suriah baru-baru ini.

Menurut Televisi SANA, milik Pemerintah Suriah, ketika insiden itu terjadi pada Senin, 11 November 2019, ketiga korban sedang bepergian menuju Kota Deir ez-Zoe di Suriah untuk memeriksa sebuah Gereja Katolik Armenia yang rusak berat akibat konflik antara Turki dan Suriah. 

Mereka dilaporkan ditembak saat memasuki pintu gerbang Kota Deir ez-Zor. 

Pastor Housib Abraham Bidoyan, pimpinan Gereja Katolik Armenia di Qamishli  tewas seketika di tempat kejadian. Sementara putranya, Pastor Hovsepf Petoyan, dilaporkan meninggal dunia di rumah sakit.

Diakon, Fati Sato, yang berasal dari Gereja Armenia al-Hasskeh disebut menderita luka-luka. 

Selain Armenian Press dan CBN News, informasi itu dibenarkan oleh beberapa lembaga pemerhati hak asasi manusia; International Christian Concern (ICC), Syrian Observatory for Human Rights, Assyrian Monitor for Human Rights dan Rojava Information Center. Yang disebut terakhir adalah sebuah lembaga pengawas relawan yang berkaitan dengan pihak berwenang Kurdi di Suriah timur laut.

CBN News melaporkan: “Kelompok bersenjata itu menyasar dan membunuh pastor dan ayahnya. Sementara orang ketiga terluka. Sang ayah dan rekannya menuju Kota Deir ez-Zor, Senin pagi ini hendak melihat keadaan Gereja Katolik Armenia.”

Gambar video yang diperoleh Hawar News memperlihatkan mobil yang ditumpangi para pastor itu memiliki stiker khusus di kaca depan. Dari stiker itu diketahui bahwa mereka sedang bepergian hendak mengurus gereja mereka. 

Video itu juga memperlihatkan bagian depan mobil yang rusak parah karena menjadi sasaran tembak langsung.

Selain itu, ada tiga pemboman mobil yang nyaris berlangsung bersamaan di Kota Qamishli, yang terkenal karena keragaman agama dan etnis penduduknya. Sebuah ledakan terjadi dekat Gereja Ritus Kaldea.

“Tragedi yang Melukai Komunitas Kristen”

Claire Evans, Manajer Rejional ICC untuk Timur Tengah mengatakan, serangan terhadap pemimpin Gereja Katolik Armenia itu merupakan “tragedi yang sangat melukai seluruh komunitas Kristen wilayah itu.” 

“Umat Kristen sudah lama memperingatkan bahwa ISIS akan berupaya mencari setiap peluang untuk melanjutkan genosida atau pembantaian terhadap minoritas agama,” katanya. 

Pastor Bedoyan adalah korban terbaru dari kalangan imam atau religius yang terbunuh dan hilang di kawasan itu sejak Suriah terjebak perang. 

Sebelumnya, Pastor Frans Van der Lugt SJ asal Belanda ditembak mati di Hom pada 2015 lalu. Seorang pastor Fransiskan, Francois Murad OFM, malah dipenggal kepalanya oleh ISIS pada 2013.

Vaticannews.va melaporkan selain tewas ditembak atau dipenggal, ada beberapa rohaniwan yang hilang dan tidak diketahui rimbanya. Pastor Paolo Dall’Oglio SJ menghilang dari Raqqa pada 2013. Dua Uskup Orthodoks, Bulos Yazigi dan Yohanna Ibrahim, diculik di Barat daya Suriah. Demikian juga yang terjadi dengan Pastor Katolik Armenia Michel Kayyal dan seorang imam Orthodoks, Pastor Maher Mahfuz dari Aleppo.

ISIS Mengklaim Bertanggung Jawab

Media resmi ISIS, Amaq menyatakan ISIs bertanggung jawab terhadap serangan terbaru.

“Dua pastor Kristen tewas terbunuh hari ini. ISIS menembak mereka mati, ” demikian klaim mereka. 

ISIS, menurut Rojava Information Center, mengaku sudah melancarkan 30 serangan selama 10 hari pertama November ini setelah Turki menyerang Suriah utara. Itu berarti, terjadi kenaikan 300 persen serangan. 

Ancaman ISIS saat ini masih kuat meski mereka telah resmi mengumumkan sudah kalah secara militer di Suriah pada Maret 2019. 

Pemimpin mereka, Abubakar al-Bagdadi paling dicari dunia pun sudah tewas beserta tiga anaknya pada Sabtu, 26 Oktober 2019. 

Kematiannya yang mengenaskan mungkin dianggap bakal mengakhiri tragedi pembunuhan ratusan bahkan jutaan manusia, khususnya kaum minoritas, yang juga menimbulkan dampak lanjutan seperti migrasi massal warga yang ketakutan, yang nyaris semuanya mengungsi ke Eropa atau Amerika.

Namun, dugaan demikian ternyata meleset. Ribuan aggota ISIS yang dipenjara di Irak Kurdi dan Suriah diduga berusaha membalas dendam atas kematian khalifah mereka.

Potensi ini menguat menyusul serangan Turki terhadap Suriah utara dan Kurdi untuk merebut sebagian kawasan itu. Serangan itu membuatpasukan Kurdi, penjaga mereka terpaksa memusatkan perhatian untuk melawan serbuan Turki. 

Di tengah situasi ini, para tahanan melarikan diri, lalu membangun kekuatan untuk menyerang sasaran baru. Meeka berusaha melancarkan aksinya di tengah kekacauan yang terjadi.

Situasi semakin merumit karena Amerika menolak melindungi Kurdi yang tidak berdaya untuk dimangsa Turki. 

Padahal, pasukan Kurdi adalah andalan utama AS ketika melawan ISIS. Tetapi itulah yang terjadi. Hanya dalam waktu kurang dari dua bulan, kekhawatiran pun terbukti.

Merespon pembunuhan dua pastor dan satu diakon ini, pasukan AS kini dilaporkan kembali dikerahkan untuk menjaga ladang minyak Suriah. 

Selain itu, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang pro-pemerintah kembali memulai operasi anti-ISIS dan berhasil menangkap Emir ISIS, Hamam al-Laffi, yang juga dikenal sebagai Abi al-Hareth. (Jacobus E. Lato)