Penculikan dan Pembunuhan Imam Terus Terjadi di Nigeria

Pastor Theophilus Ndulue, Pastor Paroki St Patrick, Ihuonyia, Negara Bagian Enugu, Nigeria menjadi korban terakhir dalam rentetan kasus penculikan dan pembunuhan terhadap imam di Nigeria. Ia dilaporkan hilang pada Jumat, 15 November 2019. Nasib imam tersebut belum diketahui hingga kini. (Foto: Ist)

Katoliknews.com – Kasus penculikan pastor kembali terjadi di Nigeria baru-baru ini, setelah sebelumnya kasus serupa, termasuk pembunuhan beberapa kali terjadi di negara di benua Afrika tersebut.

Pastor Theophilus Ndulue, Pastor Paroki St Patrick, Ihuonyia, Negara Bagian Enugu dilaporkan diculik sekelompok orang bersenjata pada Jumat, 15 November 2019. Nasib imam tersebut belum diketahui hingga kini.

Deretan kasus kekerasan yang menyasar para pastor sebelumnya sudah terjadi di negara tersebut.

Pada Kamis, 1 Agustus 2019,  dalam kasus serangan di Paroki Santo Yakobus, Ugbawka, Keuskupuan Enugu, Nigeria selatan, Pastor Paul Offu beserta seorang umatnya, Kenneth Igwe menjadi korban.

Pelakunya adalah sekelompok penggembala yang terinspirasi oleh doktrin yang sama seperti  kelompok ISIS.

Juru bicara Keuskupan Enugu, Pastor Emmanuel Nkemjika Igwesihi dalam sebuah keterangan pers mengatakan, sekelompok penggembala menembak mobil Pastor Offu ketika dia berkendara sepanjang Jalan Ihe Agbudu.

“Tembakan itu memaksanya untuk berhenti. Mereka kemudian menyeretnya keluar lalu menembaknya mati,” katanya.

Selain pastor malang itu, seorang umat, Kenneth Igwe turut dibunuh pada hari yang sama. Jenasahnya baru ditemukan polisi dalam keadaan membusuk lima hari kemudian. 

Dua pekan kemudian, pada hari yang sama, Kamis, 15 Agustus 2019, para penggembala itu  kembali menyerang seorang imam Katolik lainnya. Pastor Chimezie Ani. 

Aksi yang dilancarkan 69 kilometer jaraknya dari tempat insiden pertama itu dilakukan dekat Universitas Caritas, sebuah Universitas Katolik di Amorji-Nike. 

Situasinya sama, yakni ketika sang pastor sedang berkendaraan menuju Ugwuomu, kisah Pastor Igwesihi kepada Morning Star News.

Bulan Agustus berdarah ini ditutup dengan pembunuhan seorang pastor lainnya, David Tanko. Insiden mengerikan terjadi ketika pastor paroki dari Keuskupan Jalingo, Negara Bagian Tarabe, Nigeria itu berupaya mendamaikan dua suku yang bertikai, yakni Suku Tiv dan Suku Jukun.

Menurut Catholic News Agency dan Cruxnow.com, bukannya menyambut gembira uluran tangan pastor muda itu, sejumlah warga Suku Tiv malah menyerangnya ketika dia sedang berkendaraan menuju Desa Takum. Mereka kemudian membakar sang pastor bersama mobilnya.

Uskup Jalingo, Mgr Mgr. Charles Hammawa menyatakan keprihatinanannya pada rentetan serangan itu.

“Bagi seorang pastor yang sedang mengkotbahkan perdamaian, pembunuhan dengan cara kejam ini menyedihkan. Pastor itu milik semua orang,” katanya, sembari menambahkan, keuskupannya berdukacita atas kematian beruntun berapa imamnya.

Menurut www.zenit.com, meski tidak ada catatan yang pasti, konflik kedua suku sudah meledak pecah sejak 1953  atau 1959 bahkan sejak 1977.

Catatan sejarah memperlihatkan mereka pernah hidup damai sebelum koloni Inggris datang menjajah negeri itu. Permusuhan mulai terjadi karena Inggris tampaknya lebih menganakemaskan Suku Jukun. Konflik kembali mengemuka sejak 1 April 2019 yang segera diikuti dengan penjarahan dan pembunuhan satu sama lain.

Rangkaian pembunuhan ini, hanya terjadi lima bulan pasca-pembunuhan seorang pastor lainnya, Pastor Clement Ugwu, seorang Pastor dari Paroki St. Markus, dari keuskupan tersebut. 

Sebelum dibunuh, Pastor Ugwu diculik. Belakangan, dia ditemukan tewas di semak-semak setelah dicari hampir seminggu oleh umat parokinya.  (Jacobus E. Lato)