Pidato di Thailand, Paus Fransiskus Soroti Masalah Ketidakadilan, Dialog, Migran dan Perbudakan

Paus Fransiskus bertemu dengan Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-ocha, sebelum pidatonya kepada pihak berwenang, masyarakat sipil, dan anggota korps diplomatik, Kamis, 21 November 2019. (Vaticannews.va)

Katoliknews.comPaus Fransiskus tiba di Bangkok pada hari Rabu, 20 November 2019,  pertama kali ia menginjakkan kaki di Asia dalam Perjalanan Apostolik tujuh harinya.

Tetapi upacara penyambutan resmi berlangsung pada Kamis pagi di kantor pemerintah, di mana ia bertemu dengan Perdana Menteri Thailand, para pemimpin sipil dan agama, dan anggota korps diplomatik.

Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan pidato resmi pertamanya di Thailand, di mana ia mengingatkan mereka bahwa melayani kepentingan umum adalah salah satu tugas paling mulia yang dapat dilakukan siapa pun.

Paus juga menyoroti masalah krusial saat ini, seperti ketidakadilan, pentingnya dialog antaragama, migran dan perbudakan.

Sebagaimana dilansir Vaticannews.va, memulai pidatonya, Paus menggambarkan Thailand sebagai “penjaga tradisi spiritual dan budaya kuno”, sebuah negara multi-etik dan beragam yang telah “lama mengetahui pentingnya membangun keharmonisan dan hidup berdampingan secara damai di antara banyak kelompok etnis”.

Paus mengatakan dia menantikan pertemuannya dengan Patriark Tertinggi Buddha di negara itu “sebagai tanda penting dan mendesaknya mempromosikan persahabatan dan dialog antaragama.“21 

Dia mendukung komitmen komunitas kecil Katolik di negara itu yang bersemangat untuk menghadapi semua hal “yang akan membuat kita tidak peka terhadap teriakan banyak saudara-saudari kita yang ingin dibebaskan dari deraan kemiskinan, kekerasan dan ketidakadilan.”

Menyebut nama Thailand yang secara harafiah berarti “Tanah yang Merdeka,” Paus mengatakan, kita tahu kebebasan itu mungkin “hanya jika kita mampu merasa saling bertanggung jawab satu sama lain dan menghilangkan segala bentuk ketidaksetaraan”.

Oleh karena itu, kata dia, perlu “memastikan bahwa setiap individu dan masyarakat dapat memiliki akses ke pendidikan, tenaga kerja yang bermartabat dan layanan kesehatan”, demi pembangunan manusia yang integral.”

Paus Fransiskus kemudian mengalihkan perhatiannya ke masalah migrasi dan menyebutnya sebagai “salah satu tanda yang menentukan zaman kita”, dan “salah satu masalah moral utama yang dihadapi generasi kita.”

Mengakui Thailand atas sambutan yang telah diberikan kepada para migran dan pengungsi, Paus mengatakan ia berharap “komunitas internasional bertindak dengan tanggung jawab dan pandangan jauh ke depan” untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menyebabkan eksodus yang tragis ini, “dan akan mempromosikan migrasi yang aman, tertib dan teratur.”

Paus kemudian berbicara atas nama semua perempuan dan anak-anak “yang terluka, dilanggar dan dihadapkan pada setiap bentuk eksploitasi, perbudakan, kekerasan dan pelecehan.”

Sekali lagi, ia menyatakan rasa terima kasihnya atas upaya pemerintah Thailand “untuk membasmi momok ini”, dan “bagi mereka yang bekerja untuk menghilangkan kejahatan ini”.

Mengingat bahwa tahun ini menandai ulang tahun ketiga puluh Konvensi Hak-Hak Anak dan Remaja, Paus Fransiskus berkata, “masa depan bangsa kita terkait secara luas dengan cara kita memastikan masa depan yang bermartabat bagi anak-anak kita.”

Paus mengakhiri pidatonya kepada pihak berwenang Thailand dan anggota korps diplomatik, dengan menekankan betapa masyarakat kita membutuhkan apa yang disebutnya “pengrajin keramahtamahan”: pria dan wanita yang didedikasikan untuk “pengembangan integral semua orang dalam keluarga manusia yang berkomitmen untuk tinggal dalam keadilan, solidaritas dan keharmonisan persaudaraan.”

Memungkinkan melayani kebaikan bersama agar mencapai setiap sudut bangsa ini, kata Paus Fransiskus, “adalah salah satu tugas paling mulia yang dapat dilakukan oleh setiap orang. “