Seorang Uskup sedang memberkati sebuah bangunan gereja di Fada N'Gourma, Burkina Faso Timur. 14 jemaat Kristen di negara itu tewas ditembak kelompok radikal pada 1 Desember 2019. (Foto: Vaticannews.va)  

Katoliknews.comKetika umat Kristen sedunia mempersiapkan diri menyambut Natal lewat retret agung selama empat pekan masa Advent, hari pertama masa pertobatan itu di Burkina Faso, Afrika Barat langsung dirusak.

Sebuah kelompok orang yang diduga terdiri dari kaum Muslim radikal menyerang dan menembak mati sedikitnya 14 jemaat Kristen Protestan yang sedang beribadah dalam gereja pada Minggu, 1 Desember 2019. Puluhan lainnya menderita luka-luka.

Setelah secara serampangan menembaki jemaat yang sedang beribadat, para penjahat itu segera melarikan diri dengan sepeda motor.

Sampai sejauh ini, belum ada pihak mengakui bertanggung jawab terhadap insiden berdarah itu. Tetapi, berbagai kelompok pejuang jahat yang bertalian dengan ISIS dan Al-Qaeda rutin menyerang tentara dan masyarakat sipil, berusaha menyebarluaskan kampanye untuk memecah-belah dan mendapatkan calon pejuang sekaligus merebut tanah masyarakat setempat

Insiden itu diikuti dengan kejadian serupa di kawasan Fada N’Gourma, dekat perbatasan Niger dan semuanya memperlihatkan pola kekerasan anti-Kristen.

Menurut Lembaga Kajian Africa Center for Strategic Studies di Washington seperti dikutip Washington Post, jumlah korban yang tewas akibat aksi kejam keji meningkat sampai 60 persen tahun ini. Pada tahun 2018, jumlahnya mencapai 1.112 jiwa.

Babar Baloch, seorang juru bicara Badan Pengungsi PBB ketika berbicara kepada para wartawan di Jenewa, mengatakan, selain membunuh orang, “para militan itu juga mencuri ternak dan harta benda lain.”

PBB memperkirakan, secara kasar, sedikitnya 500.000 orang yang dipaksa meninggalkan rumah mereka selama berbagai kerusuhan berdarah itu meledak.

Kenyataan miris itu menyebabkan Uskup Kientega mempertautkannya dengan propaganda kaum radikal Islam ketika berbicara kepada lembaga amal gereja, Aid to the Church in Need (CAN).

Tidak diragukan lagi, katanya, kerusuhan itu, “sedang berupaya menciptakan konflik antara agama di sebuah negara di mana umat Kristen dan Muslim senantiasa bersama-sama.”

Selama 2019 saja, tandasnya, sedikitnya 60 umat Kristen Burkina Faso tewas di ujung senjata kaum radikal Muslim.

Dengan sedih, Mgr. Justin Kientega, Uskup Ouahigouya, Burkina Faso mengaku bahwa media dan pemerintah Barat umumnya mengabaikan kematian umat Kristen di negaranya.

Sikap diam Barat itu mendorongnya mempertautkan aksi kejam hat yang sedang berlangsung berkaitan dengan perdagagan senjata.

“Banyak kekuatan Barat jelas punya beberapa alasan untuk membiarkan kekerasan terus berlangsung. Keuntungan mereka menjadi jauh lebih penting dari hidup kami,” urainya.

Burkina Faso adalah sebuah negara kecil dengan penduduk yang tidak lebih dari 19 juta jiwa. Populasinya terdiri dari nyaris dua pertiga kaum Muslim dan sisanya umat Kristen.

Kini, negeri aman di Afrika Barat itu menjadi tempat terorisme yang bermasalah di Kawasan Sahel, di selatan Gurun Sahara.

Situasi kawasan yang tidak aman, urai Uskup, sangat membatasi kemampuan Gereja Katolik untuk merawat kaum beriman.

Ia pun mendesak komunitas internasional untuk memberikan perhatian terhadap situasi Burkina Faso.

“Negara-negara Barat harus menghentikan orang-orang yang melakukan kejahatan ini,” urainya. “Bukannya menjual senjata yang mereka gunakan untuk membunuh umat Kristen.”

Chrysogone Zougmore, Presiden Gerakan Burkinabe untuk Hak Manusia dan Masyarakat, sebuah lembaga advokasi yang berpusat di ibukota negeri itu, Ouagadougou mengatakan kelompok radikal berusaha menyebarkan permusuhan di antara komunitas agama.

“Mereka sedang menanam benih-benih konflik agama,” katanya kepada  The Washington Post.

“Mereka menciptakan rasa benci. Mereka ingin menciptakan perbedaan antara kami,” tambahnya lagi.

Presiden Burkina Faso, Roch Marc Kaboré juga mengaku berduka.

“Saya menyampaikan dukacita saya yang mendalam kepada para keluarga yang berdukacita. Semoga mereka segera pulih dari luka-luka,” tulisnya dalam sebuah twit pada sore hari yang sama, seperti dilansir Harian Washington Post.