Romo Rantinus Manalu Pr. (Foto: Keuskupansibolga.com)

Katoliknews.com – Ia dikenal sebagai imam yang berani, menjadi suara bagi mereka yang tertindas karena tidak berdaya berhadapan dengan praktek ketidakadilan.

Namanya Romo Rantinus Manalu Pr, imam di Keuskupan Sibolga, Sumatera Utara.

Akhir-akhir ini, nama Romo Rantinus ramai dibicarakan. Ia sedang digadang-gadang untuk maju dalam pemilihan bupati di Kabupaten Tapanuli Tengah tahun depan.

Berbicara kepada Katoliknews.com, ia mengatakan, ada kehendak kuat dari warga agar ia bisa maju, bersama teman seperjuangannya Ustad Solidikin Lubis.

Ia menjelaskan, kini masyarakat tengah sibuk mengumpulkan banyak KTP untuk mengusung mereka.

Namun, kata dia, dirinya belum bisa memastikan apakah akan maju atau tidak.  “Untuk menjawab iya atau tidak, itu bukan tergantung saya. Tapi jawaban pasti datangnya dari pihak yang berwewenang yakni gereja. Hal itu karena saya seorang pastor,” ungkapnya melalui sambungan telepon.

Ia memang menyatakan, secara pribadi akan siap menerima tawaran itu. “Sebagai manusia jika saya ditawari jabatan seperti itu, pasti mau,” ujarnya.

Namun, lagi-lagi, kata dia, tergantung pada keputusan pimpinannya.

Keterlibatan petugas Gereja seperti Romo Rantinus dalam politik praktis memang diatur dalam Kitab Hukum Kanonik 287 pasal 2.

Di situ dijelaskan bahwa “Janganlah mereka (klerus) turut ambil bagian aktif dalam partai-partai politik dan dalam kepemimpinan serikat-serikat buruh, kecuali jika menurut penilaian otoritas gerejawi yang berwenang hal itu perlu untuk melindungi hak-hak Gereja dan memajukan kesejahteraan umum”.

Jalan untuk Romo Rantinus memang tidak mudah. Karena itu, ia mengatakan, keputusan tidak hanya ada di tangannya.

Pembela Masyarakat Kecil

Dorongan kuat warga agar Romo Rantinus terjun dalam politik praktis dipicu oleh pengakuan akan komitmen imam itu pada upaya menghadirkan perubahan di tengah masyarakat.

Warga Tapanuli Tengah, punya pengalaman buruk dengan bupati sebelumnya, Bonaran Situmeang yang dijebloskan ke dalam penjara tahun lalu, karena kasus suap.

Romo Rantinus menjadi bagian dari masyarakat yang getol menyuarakan protes pada kebijakan Bupati Bonaran.

Bahkan, pada 2013, ia sampai ditetapkan sebagai tersangka dengan tudingan pencemaran nama baik, setelah menyampaikan sebuah pengumuman di koran, mengajak masyarakat berdemo dan mengecam Bupati Bonaran.

Ia bersama Ustad Sodikin Lubis dan beberapa rekannya, menuding bupati itu abai terhadap janji-janjinya saat kampanye.

Pada tahun 2009, Romo Rantinus juga aktif menggelar aksi dan berdiri bersama masyarakat yang lahannya diambil untuk menjadi lokasi perkebunan sawit.

Kala itu, Romo Rantinus juga ditetapkan sebagai tersangka.

Namun, upayanya tidak kendur, karena nyalinya tidak ciut, meski berhadapan dengan berbagai kekuatan pebisnis yang berkongkalikong dengan aparat.

Romo Rantinus sendiri menyadari dukungan yang ia peroleh sekarang merupakan buah dari komitmennya itu.

“Ini dampak dari perjuangan hak-hak asasi manusia yang saya tunjukkan,” katanya.

“Ketika kita berjuang untuk masyarakat kecil, mereka mungkin melihat bahwa  orang ini yang bisa memperjuangkan kita,” lanjutnya.

Ia menambahkan, masyarakat muak dengan para pemimpin di Tapanuli Tengah.

Menurut mereka, pemimpin-pemimpin selama ini moralitasnya sangat rendah dan lebih mementingkan uang.

“Karena moralnya rendah akhirnya banyak yang masuk bui” imbuhnya.
Ia juga mengatakan, masyarakat yang mengusungnya saat ini bukan hanya dari Katolik, tetapi juga dari agama lain.

“Dari umat katolik sendiri, justeru banyak yang melarang. Yang mengusung kami dari berbagai latar belakang,” katanya.

Edy/Bartolomeus Robyvan/Katoliknews

18 KOMENTAR

  1. Cukup banyak pastor yg peduli dengan problem yg terjadi dalam masyarakat. Tapi kalau menurut saya sih…banyak cara untuk berbuat kebaikan dan pasti ada jalan menuju kemenangan tanpa harus menjadi Bupati tho…!?
    ..

  2. Keterlibatan Romo Rantinus dalam memperjuangkan hak-hak kaum lemah itu merupakan konsekuensi panggilannya. Lebih baik Romo Rantinus tetap menjadi dirinya seperti sekarang, tetap menyampaikan suara kritis terhadap brbagai kebijakan yg ada, tetap menjadi corong suara kenabian Gereja di tengah masyarakat. Dengan menjadi bupati belum tentu tetap menjadi kritis. Sebab kekuasaan kadang membutakan mata dan nurani…

  3. Kita tidak hidup di bawah hukum taurat tapi di bawah kasih karunia.Jika memang demikian berarti orang mendapat kasih karunia berarti hidup dalam kristus .Hidup berdasarkan kristus seharusnya hidup kita semuanya utk Kristus.Hidup didalam kristus seharusnya megamalkan kasih karunia itu dalam kehidupan yang nyata .Mengapa harus diam d kamar padahal umat berteriak utk minta tolong.Pada masa sekarang Ini seorang Imam,Pendeta,Ustad,Dsb tidak hanya dibutuhkan utk beretorika di dalam Gereja atau hanya utk Khotbah saja karena itu bagi saya hanyalah Pengetahuan Semata utk Umat tetapi Sekarang Umat membutuhkan sebuah realitas dalam perwujudan Iman itu.Mengapa umat Memilih dan Ingin Pastor Rantinus menjadi Pemimpin di Tapteng karena Umat Percaya bahwa Pastor Rantinus ketika bekerja bukan untuk Manusia tetapi untuk Tuhan.Maka dengan demikian Jika Tuhan membutuhkan itu mengapa harus takut hanya karena Aturan.Dahulu juga Rasul Paulus ada di bawah dalam hukum taurat tetapi dia justru memilih utk melayani lewat kasih yang nyata bukan sekedar beretorika semata.Jika pastor Rantinus Melakukan semuanya Untuk Tuhan bukan utk manusia Maka satu suara kita memberi dukungan

    Roma 6:15, 23 (TB)
    15 Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!
    23 Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

    Salam

    Onesius Gaho.

  4. biar lah romo tetap romo dlm pelayanan gereja walaupun jg tetap memperjuangkan hak2 umat manusia.akan tetapi lbh bagus klo romo tdk tergoda oleh jabatan bupati sehingga pelayanan dan perjuangan romo makin nyata dlm kehidupan umat tanpa dicampuradukkan dgn politik.semangat gerejaku semangat umat dan semangat romoku.amin

  5. Komentar:apakah dengan menjadi BUPATI romo dapat memperjuangkan kepentingan masyarakat? Belum tentu..bisa ya bisa tidak.. saya rasa romo ngak perlu sampai pada level ini..tetaplah berkarya lewat imamat yg sdh ada..politik sangatlah kejam….jgn sampai gelar suci imamat ini dipolitisasi dan menimbulkan stigma negatif bagi gereja secara universal…Gbu Romo..

  6. Option for the poor have many ways. I think a priest can help those people without become an regional leader. Neka ta Tuang. Do salang bantu roeng.

  7. Dunia ini kejam. Jangan biarkan Pastor terhanyut oleh hal duniawi. Tetaplah teguh dgn pelayanan imamat Pastor. Tanpa harus jadi bupatipun Pastor bisa jauh lebih dalam berkarya menyuaraKan suara umat. Yesus saja diangkat jjadi Raja di bumi Dia menolak. Karna memang kerajaanNya di Surga. Seandainya Yesus mau jadi Raja, mgkn Dia takkan disalibkan. Tapi Yesus teguh dgn PanggilanNya. Saya sebagai umat katolik juga berharap jgnlah Pastor mau jd raja duniawi yg hanya sementara ini. Tapi jadilah gembala yg baik buat kami. Horas

  8. Saya Dukung Pastor Rantinus Manalu Pr. Jadi Bupati Nya Umat Katolik Tapteng. Bukan Bupati Tapteng.

  9. Gereja BOLEH terlibat dalam bidang POLITIK. Karena GEREJA mendorong umat atau awam untuk terlibat POLITIK. Tetapi para PASTOR tidak boleh terlibat dalam POLITIK PRAKTIS, ada 2 alasan mendasar :
    1.Para pastor sebagai gembala harus bersikap netral, tidak boleh memihak, harus objektif mengayomi & membimbing semuanya.
    2.Tidak membeda-bedakan.
    walaupun kenyataannya, saya lihat banyak pastor yg “nyambi”… ada yg jadi arsitek seperti Romo Mangun, ahli filsafat seperti Romo Mudji Sutrisno. Tetapi, kalau bidang politik, apalagi kekuasaan, jelas sudah keluar dari rel yang seharusnya.

    tetapi jika ternyata memang Tuhan mengizinkan dia untuk berkarya di ladang POLITIK. maka
    konsekuensinya dia (Pastor Rantinus harus melepas jubahnya)

  10. Disaat umat hadir digereja lalu digiring ke politik oknum tertentu maka sejatinya gereja telah mengadu domba awam untuk meningkatkan perselisihan.

  11. Hukum Gereja katakan TIDAK. Maka sangatlah naif bila maju jadi calon Bupati masih dengan sebutan PASTOR. Saudaraku Rantinus mesti berani buat pilihan. Berhenti jadi imam dan jadilah Rantinus Manalu, bukan PASTOR Rantinus Manalu yang jadi calon bupati TAPSEL. Butuh keberanian untuk hal demikian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here