Katoliknews.com – Pastor Bernard Kinvi membuka pintu gereja bagi para pengungsi Muslim yang berupaya menghindari konflik sektarian di negara Afrika itu. Ia dinominasikan untuk menerima penganugerahan yang diberikan untuk mereka yang “mengambil resiko untuk keselamatan orang lain.”

Kekacauan di RAT dimulai pada bulan Desember 2012 ketika Seleka, yang merupakan gabungan dari berbagai kelompok dan menarik banyak radikal Muslim dari negara lain, menggulingkan pemerintah, dan terlibat dalam berbagai tindak kekerasan terhadap masyarakat sipil, terutama yang berlatar belakang Kristen.

Dari situ kemudian muncul kelompok anti-Balaka yang menyerang masyarakat dan tempat beribadah umat Muslim.

Para pemimpin agama Kristen dan Muslim di RAT bersatu dan mengutuk kedua kelompok ini.

Salah satu tindak kekerasan yang dilakukan kelompok Anti-Balaka terjadi pada awal 2014 di Bossemptele, sebuah kota di barat laut tempat Pastor Kinvi – seorang misionaris dari Togo yang mengelola rumah sakit misi di kota itu.

Lebih dari 80 orang berlatar belakang Muslim menjadi korban dalam tragedi itu, dan Pastor Kinvi berhari-hari mencari mereka yang selamat dan membawa mereka ke gerejanya untuk berlindung, demikian ChristianToday (18/3).

“Itu bukan sebuah keputusan; itu adalah sesuatu yang terjadi begitu saja,” ungkapnya kemudian kepada The Guardian seperti dilansir CT.

“Sebagai seorang imam (Katolik), saya tidak bisa mendukung pembunuhan manusia. Kita semua adalah manusia: agama tidak menghalangi hal tersebut. Jika Anti-Balaka datang kemari dalam keadaan terluka, saya rawat mereka.

“Saya tidak melihat siapa Anda dan apa yang Anda lakukan dengan hidup Anda atau apa agama Anda. Anda adalah manusia dan saya akan merawat Anda.”

Pastor Kinvi diintimidasi dan dicemooh oleh kelompok Anti-Baleka karena tindakannya. Mereka mengancam masyarakat berlatar belakang Muslim yang berlindung di tempatnya, yang pada satu saat mencapai jumlah 1.500 orang.

Ia berhasil mengatur pemindahan mereka ke negara tetangga Kamerun, dan pada Maret 2014 regu penjaga perdamaian Afrika tiba dan mengevakuasi mayoritas Muslim yang tinggal, sekalipun mereka yang terlalu lemah, anak-anak, dan penyandang cacat, tetap tinggal di gereja.

“Ketika saya menjadi seorang imam, saya mengambil tugas untuk melayani yang sakit sekalipun itu berarti mempertaruhkan nyawa saya,” ungkap Pastor Kinvi.

“Saya mengucapkan (janji) itu, tapi tidak betul-betul mengerti apa artinya. Tetapi ketika perang terjadi, saya mengerti apa artinya mempertaruhkan nyawa. Menjadi seorang imam adalah lebih dari sekedar mengucapkan berkat; itu berarti berdiri bersama mereka yang telah kehilangan segalanya.”

Dalam wawancara dengan National Catholic Register, ia mengatakan bahwa konflik yang terjadi di RAT “benar-benar telah menguji iman saya,” namun di situ ia belajar bertumbuh.

“Saya secara tersendiri mengalami bahwa Allah kita selalu menyertai kita dalam segala pencobaaan yang kita alami. Saya melakukan tindakan luar biasa yang membuat saya percaya bahwa Tuhanlah yang bekerja melalui saya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah yang memegang kendali,” ungkapnya.

“Saya mendapati bahwa hanya cinta-kasih yang dapat meruntuhkan tembok kebencian. Saya mengucap syukur kepada Allah bahwa saya menunjukkan cinta-kasih kepada semua yang datang ke rumah sakit kami; saya bertemu pemberontak yang satu ketika mengancam saya dengan kematian, dan saya bisa mengulurkan tangan saya untuk memberi salam kepada mereka, terima kasih untuk cinta-kasih itu.

“Hanya cinta-kasih yang dapat mengatasi kebencian dalam dunia. Dan cinta-kasih ini dapat kita hidupi lewat doa. Dan setiap kali orang menanyakan dari mana saya memperoleh kekuatan untuk melakukan apa yang saya lakukan, saya cukup mengatakan, ‘Yesus Kristus’. Ekaristi, pengagungan, doa Rosari sehari-hari. Ini adalah senjata kemenangan saya.

“Pelayanan saya memberi buah setiap saat saya memberi kesembuhan pada kehidupan lewat iman, doa, dan cinta-kasih.”

Pastor Kinvi telah menerima sebuah penganugerahan dari sebuah organisasi hak asasi manusia untuk pengabdiannya, dan sekarang ia juga dinominasikan untuk menerima Aurora Prize for Awakening Humanity, yang diberikan pada April.

Dalam sebuah pernyataan, komite untuk Aurora Prize mengatakan bahwa Pastor Kinvi dipilih karena ia “memberikan bantuan medis dan perlindungan terhadap dua belah pihak dalam konflik bersenjata, menjadikan lokasi misinya sebagai tempat yang aman untuk siapa saja dan semua yang terluka, sekalipun kekerasan mengamuk di luarnya.”

Roby Sukur/Mirifica.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here