Oleh: Marselis Mbipi Jepa Jome

Bagi Agama Katolik, karya pewartaan merupakan hal yang penting. Tanpa pewartaan, apa yang menjadi cita-cita Gereja agar umat semakin beriman teguh kepada Allah akan sulit diwujudkan. Tanpa pewartaan, umat akan berjalan sendiri.

Melalui pewartaan, umat Katolik dapat hidup bukan hanya dari “daging” saja, melainkan terutama hidup Roh Kristus sendiri. Dengan kata lain, melalui pewartaan kehidupan beriman diyakini akan semakin Injili.

Sebab sumber utama karya pewartaan adalah Roh Kudus sendiri. Dengan begitu, apa yang diwartakan dapat didengar dan dihayati dalam kehidupan.

Agar tugas seperti ini bisa dijalankan secara maksimal, maka dibutukan sinergi antara kaum klerus dan dengan para agen pastoral seperti katekis. Namun dewasa ini, posisi dan peran awam (katekis) dalam karya evangelisasi seakan-akan berada di “persimpangan” jalan.

Mereka seringkali diposisikan sebagai makhluk nomor dua dalam pewartaan. Hal ini berdampak pada karya pewartaan yang mereka lakukan. Acapkali mereka ditantang dan bahkan sama sekali tidak dipedulikan. Tantangan itu datang dari luar dan juga dari dalam diri katekis itu sendiri.

Tulisan ini merupakan hasil pergumulan saya sebagai seorang mahasiswa calon katekis tentang peluang dan tantangan karya pewartaan katekis kontemporer.

Tantangan

Menurut saya, ada dua penyebab mengapa katekis selalu mendapatkan tantangan dalam melaksanakan karya pewartaan.

Pertama, masih menguatnya klerikalisme. Yang dimaksudkan di sini adalah katekis seakan-akan hanya bertugas membantu kaum tertahbis untuk melaksanakan karya pewartaan.

Tugas pewartaan seolah-olah hanya menjadi domainnya kaum klerikal. Seringkali terjadi bahwa para katekis hanya dilibatkan bila dibutuhkan.

Jika tidak, maka mereka tidak dilibatkan. Ada semacam “peminggiran” secara halus terhadap para katekis. Dengan demikian, tugas pewartaan pertama-tama adalah tugas orang-orang yang telah ditahbiskan secara khusus.

Hal seperti ini membuat para katekis merasa minder dalam melaksanakan karya pewartaan.

Padahal, menurut saya, katekis mendapat tugas khusus dan secara khusus pula diberi porsi untuk melaksanakan tugas pewartaan. Bukan sebagai “pembantu” dari kaum tertahbis.

Memang benar, pengetahuan dan karisma katekis barangkali tidak sama dengan kaum tertahbis, tetapi saya meyakini bahwa Kristus tidak pernah memilih orang-orang hebat untuk melaksanakan tugas perutusan. Ia memilih dan mengutus serta memampukan orang-orang yang ia percayakan.

Para katekis, meskipun memiliki banyak kekurangan, tetapi akan dimampukan Kristus sendiri dalam melaksanakan tugas pewartaan.

Kedua, banyak katekis yang tidak menyadari tugas pokoknya. Maksudnya adalah pendidikan dan gelar yang diperoleh tidak dipandang sebagai gelar “suci” yang dengan sendirinya mengharuskan katekis melakukan karya pewartaan.

Tetapi, setelah menyelesaikan pendidikan khusus, ada banyak katekis yang tidak sadar akan tugas itu. Bahkan ada dari antara mereka yang membangkang dan tidak bisa diajak untuk bekerja sama dengan para pastor dalam melaksanakan tugas perutusan.

Mereka seringkali menonton atau berada di luar Gereja. Mereka memang amat diandalkan untuk melaksanakan tugas ini, tetapi kenyataannya mereka lebih konsentrasi ke hal-hal duniawi, lalu melupakan tugas pewartaan.

Perhatian lebih diarahkan kepada hal-hal yang lebih menguntungkan dari segi ekonomi. Tugas pewartaan seringkali diabaikan ataupun hanya dilihat sebagai tugas sampingan saja.

Alasannya sederhana, hidup mereka sama sekali tidak bergantung pada tugas pewartaan itu. Malah mereka merasa rugi (waktu dan tenaga) kalau melaksanakan tugas itu.

Harapan

Dua tantangan tersebut tidak bisa dihindari lagi. Karena itulah, amat diharapkan agar Gereja (klerus) harus terus-menerus menyadarkan umat beriman bahwa para katekis sebenarnya telah diberi tugas khusus untuk melaksanakan tugas penting dan mulia ini.

Umat tidak boleh berpikir bahwa tugas pewartaan hanya merupakan tugas para pastor. Umat harus dibiasakan untuk mengetahui bahwa Yesus sendiri sudah memberikan tugas pewartaan kepada siapa saja dan bukan hanya kepada orang-orang tertentu saja.

Jadi, sebenarnya, siapa saja termasuk para katekis dan umat lainnya merupakan elemen penting dalam tugas pewartaan. Gereja Katolik tidak pernah mengeksklusifkan tugas ini menjadi hanya tugas kaum tertahbis saja.

Gereja mendukung karya awam seperti katekis dalam karya pewartaan. Artinya, memberi peluang sebesar-besarnya kepada awam agar berpartisipasi dalam tugas mulia ini.

Di tengah persoalan pelik yang melanda dunia sosial dewasa ini, komunikasi dan kerjasama antara para agen pastoral awal (seperti katekis) dan klerus adalah hal mutlak.

Mereka berperan secara komplementaris dan tidak bisa secara sendiri-sendiri. Hal ini juga penting agar memiliki persepsi yang sama dalam mencermati dan memberikan solusi terhadap persoalan yang saat ini sedang gencarnya menyerang kehidupan umat.

Persosalan-persoalan kontekstual seperti tambang, kapitalisasi pariwisata, korupsi dan berbagai persoalan moral yang selama ini melanda dunia sosial akan bisa diatasi jika katekis atau awam diberi kesempatan berkreasi lalu bersama kaum tertahbis mencari jalan yang efektif.

Hal ini sesuai dengan harapan Konsili Vatikan II dalam Apostolicam Actuositatem (dekrit tentang kerasulan awam) No. 1 yang mengatakan: “Sebab kerasulan awam, yang bersumber pada panggilan Kristiani mereka sendiri tak pernah dapat tidak ada dalam Gereja… Adapun zaman kita menuntut semangat merasul kaum awam yang tidak kalah besar”.

Pewartaan mengandaikan ada orang yang diutus untuk melakukannya. Di sini, yang diutus tidak harus klerus, tetapi awam (katekis) sesungguhnya bisa “mengambil alih” tugas perutusan seperti itu.

Hal seperti inilah yang harus dipikirkan Gereja ke depannya. Gereja harus tegas dan berani memilih serta menyerahkan tugas seperti ini kepada awam (katekis).

Gereja mesti mesti percaya bahwa Tuhah memampukan awam atau para katekis dalam melaksanakan tugas suci ini. Gereja harus memberikan kesempatan dan ruang kepada para katekis untuk menjadi ujung tombak dalam pewartaan.

Memang benar bahwa selama ini, Gereja sudah memberikan porsi kepada para katekis. Tetapi menurut saya, hal ini tidak didukung oleh usaha-usaha militan agar para katekis benar-benar memiliki ruang untuk melakukan itu. Ruang gerak mereka masih dibatasi.

Ini menarik. Sebab, di satu sisi, Gereja menginginkan agar para awam dan katekis melaksanakan tugas pewartaan, tetapi di sini lain Gereja masih “setengah hati” mempercayakan tugas ini kepada katekis.

Saya berharap agar Gereja memberikan perhatian khusus kepada mereka. Gereja harus mencari solusi sehingga para katekis tidak melihat tugas pewartaan sebagai beban atau membuang-buang waktu dan tenaga saja.

Para katekis harus diberi pemahaman dan kepastian bahwa mereka adalah andalan Gereja. Selain itu, amat diharapkan agar para katekis menyadari bahwa mereka adalah elemen utama dalam tugas pewartaan.

Karena itu, mereka tidak boleh menganggap pewartaan sebagai pekerjaan sampingan atau tidak penting. Katekis harus menyadari bahwa mereka adalah bagian penting dari Gereja terutama dalam melaksanakan pewartaan.

Agar lebih kompetitif dan tidak dianggap remeh, maka katekis harus membekali dirinya dengan pengetahuan yang berkaitan dengan pewartaan. Tidak cukup hanya dengan apa yang telah didapatkan waktu kuliah, tetapi para katekis mesti memperdalam ilmu dan kajian mereka akan tantangan dan peluang pewartaan dewasa ini.

Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral (Stipas) St. Sirilus Ruteng-Flores, Nusa Tenggara Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here