Sr Ursula Lopi Mukin ALMA: Terpanggil Melayani Anak Berkebutuhan Khusus

Sr.Ursula Lopi Mukin,ALMA (Foto: Ivonne Suryanto)

Katoliknews.com – Bagi biarawati asal Flores Timur ini, tugas perutusan mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anugerah terindah. Sr Ursula Lopi Mukin ALMA (39) bersyukur diberi mata yang melihat keindahan  dan hati  untuk mengasihi anak-anak yang mengalami kelemahan  fisik dan mental.

Sr Ursula dilahirkan dan tumbuh besar dalam keluarga besar yang hangat dan saling menyayangi. Ia terlahir sebagai anak kelima dari sembilan bersaudara.

Kedua orangtuanya Aloyisius Sugi Mukin dan Maria Duran Kedang selalu menanamkan kebiasaan untuk berdoa bersama dan membaca kitab suci sebelum tidur. Selain mengajarkan berdoa, mereka juga selalu membawa Ursula dan saudara-saudaranya ke gereja dan berpartisipasi dalam kegiatan gereja.

“Contoh dan teladan hidup kedua orang tua membuat saya merasa dekat dengan Tuhan dan mengalami cinta Tuhan itu. Jadi panggilan saya bertumbuh dalam lingkungan keluarga.  Orangtua selalu mendukung saya dengan cara mendoakan saya kapan dan dimanapun mereka berada. Walaupun tinggal jauh tetapi saya merasa dekat dengan orang tua saya,” ungkap biarawati asal Desa Lewotobi Kecamatan Ilebura Kabupaten Flores Timur ini.

Memasuki masa remaja, Ursula terpanggil menjadi biarawati. Ia tertarik dengan karya pelayanan yang dilakukan para suster ALMA (Asosiasi Lembaga Misionaris Awam). Alma adalah  sebuah Institut Sekulir yang didirikan oleh Pastor Hendrikus Paul Janssen CM.

Motivasi membiaranya sederhana saja, ia ingin membalas cinta Tuhan dengan mengabdikan diri melayani umatNya sebagai biarawati.

Biarawati yang suka menyanyi ini tertarik dengan pelayanan para suster ALMA karena bekerja dengan orang yang lemah secara fisik maupun mental.

“Saya merasa bahwa Tuhan memanggil saya untuk membagikan cintaNya kepada mereka. Pada saat yang sama saya juga mengalami cinta Tuhan melalui mereka. Jadi cinta Tuhan itu saya alami secara timbal balik dalam tugas pelayanan saya. Itulah yang membuat saya mantap menjadi biarawati,” kisah biarawati kelahiran Lewouran, 1 Februari 1976 ini.

Setelah mengikrarkan kaul pertama, tugas pelayanan Suster Ursula selalu bersinggungan dengan anak berkebutuhan khusus. Ia pernah melayani ABK di Panti Asuhan Bhakti Luhur Citra Raya Tangerang, Guru Sekolah Khusus (SKh) Bhakti Luhur Ciputat tahun 2003 s/d 2009, Guru SKh Bhakti Luhur Citra Raya thn 2009 s/d 2013. Mulai tahun 2013,  ia bertugas sebagai Kepala Sekolah SKh Bhakti Luhur Citra Raya Tangerang, Banten.

Panti Asuhan dan Sekolah Khusus Bhakti Luhur Citra Raya  berdiri sejak tanggal 11 Juli 2009 tepatnya di RT 003/002 Kampung Cukanggalih Desa Ciakar Kecamatan Panongan – Citra Raya Tangerang, Banten.  Sekolah ini mendidik anak-anak berkebutuhan khusus terutama yang miskin dan terlantar.

Sekolah Khusus ini dibagi menjadi dua jenjang yaitu Taman Kanak-kanak Luar Biasa (TKLB) dan Sekolah dasar luar biasa (SDLB). Kegiatan belajar mengajar di sekolah diatur perkelas sesuai dengan tingkat kemampuan anak. Materi pembelajaran yang diberikan harus dirinci dan sedapat mungkin dimulai dari hal-hal konkrit, mengingat mereka mengalami keterbatasan dalam berfikir abstrak. Walaupun demikian materi yang bersifat akademik tetap diberikan sampai mereka memperlihatkan ketidakmampuannya.

Sebaliknya materi pelajaran keterampilan memiliki bobot yang tinggi karena melalui materi ini diharapkan ABK dapat memiliki suatu keterampilan sebagai bekal hidupnya. Berbagai macam keterampilan yang bersifat sederhana diajarkan kepada anak– anak berkebutuhan khusus seperti  membuat rosario, gelang, kalung, gantungan kunci, bros, bunga, sulak, taplak meja, tas, kotak tissu, hiasan dinding dengan memanfaatkan barang-barang bekas, dan sebagainya.

Selain itu para siswa juga dilatih dalam bidang bantu diri (makan, minum, mandi, berpakaian dan BAB) dengan harapan supaya bisa mengurus dirinya sendiri. Anak-anak ini tidak hanya belajar di kelas tetapi mereka juga mendapatkan pelayanan terapi secara khusus sehingga  sekolah ini juga menyediakan fasilitas untuk terapi diantaranya terapi autis, terapi bicara, fisio terapi, dan sensori integrasi sesuai dengan kebutuhan anak. Sekolah ini dilengkapi asrama. Anak-anak yang tinggal di asrama didampingi oleh para suster dan pendamping asrama yang lain.

Sr.Ursula Lopi Mukin,ALMA bersama murid-muridnya (Foto: Ivonne Suryanto)
Sr.Ursula Lopi Mukin,ALMA bersama murid-muridnya (Foto: Ivonne Suryanto)

Menjadi pendamping ABK diakui Sr Ursula tidak mudah. Banyak tantangan yang mesti ia hadapi.

“Terkadang tantangan itu membuat saya putus asa dan kecewa bahkan mengajak saya untuk lari meninggalkan mereka. Namun saya kembali disadarkan bahwa tantangan ini membuat saya menjadi dewasa dan membesarkan hati saya dalam berkarya. Saya menyadari setiap panggilan hidup pasti ada tantangan,” ungkap pemilik motto kaul “Aku berkata kepadamu sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudaraKu yang paling hina ini kamu telah melakukan untuk Aku “  (Matius 25:40) ini

Menghadapi ABK, Sr Ursula harus belajar lebih sabar dan penyayang. Ia juga berusaha mengajar dengan kata-kata sederhana dan menggunakan gambar serta benda yang nyata. Biarawati yang berkaul kekal pada 22 Oktober 2007 ini  bersyukur karena berkat ketekunan serta latihan secara terus menerus dan campur tangan dari Tuhan akhirnya anak-anak asuhannya  sedikit demi sedikit mulai mengalami perkembangan dalam mengurus dirinya sendiri seperti bisa makan, minum, mandi, berpakaian, BAB. Selain itu ada ABK yang sudah bisa membaca menulis, berhitung sederhana dan berinteraksi dengan orang disekitarnya.

Kemajuan kecil dari murid-muridnya memberinya percik-percik kebahagiaan. Air matanya menetes tatkala melihat murid-muridnya berbagi dan saling membantu satu sama lain.

“Itulah yang membuat saya terharu bahwa mereka mempunyai hati yang mulia dalam keterbatasannya.Dalam situasi seperti ini saya merasa seperti melihat bunga yang selama ini saya tanam dan siram telah mekar. Itulah yang membuat saya terhibur dan berbangga dengan anak-anak yang saya dampingi,” paparnya dengan wajah diselimuti kebahagiaan.

Sebaliknya, Sr Alma merasa prihatin ketika melihat ABK tidak diterima oleh keluarganya. Perasaan tidak diterima itu tampak jelas terwujud dalam hidup keseharian mereka yang sedih dan kurang bersemangat.

“Saya merasa prihatin dengan situasi mereka dan saya selalu termotivasi untuk bisa membantu mereka dari yang sedih menjadi gembira,dari yang egois menjadi lebih berbagi,dan saling membantu,” ungkapnya tulus.

“Pengalaman-pengalaman inilah yang membuat saya yakin bahwa dengan tekun berlatih mereka bisa berubah ke arah lebih baik,” ungkap putri asal Paroki St. Yosef Lewotobi – Ilebura Flores Timur NTT ini dengan sorot mata bahagia.

Laksana emas yang diuji dalam api, semakin panas api itu semakin berkilau emas yang dihasilkan. Demikian pula semakin lama Sr Ursula kian mantap dalam perjalanan panggilannya. Ia percaya Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuannya. Maka alumna Universitas PGRI Adi Buana Surabaya ini mencoba menjalankan tugas perutusannya dengan setia dan gembira sambil terus mengandalkan Tuhan. Dalam diri anak-anak yang lemah dan tak berdaya, Sr Ursula merasakan kehadiran Tuhan secara nyata.

Ia memandang ABK sebagai sesama saudara ciptaan Tuhan “Manusia diciptakan menurut gambar dan citra Allah ( Kej 1 : 27 ) “ kita semua adalah gambaran dan citra Allah itu. Menurut Sr Ursula, seperti anak-anak yang lain,  ABK juga membutuhkan pendidikan yang layak.

“Pendidikan adalah hak mereka juga. Kita tidak boleh membatasi mereka karena kondisi fisik atau mental mereka. Tapi kita justru membantu mereka untuk bisa belajar sesuai dengan kemampuan mereka. Mereka memiliki keterbatasan tapi bukan berarti mereka tidak bisa belajar dan diajar,” tegasnya.

Dalam keterbatasan mereka, Tuhan juga memberikan mereka kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang. Oleh sebab itu Sr Ursula merasa terpanggil untuk melayani  dan membantu ABK mendapat hak untuk belajar seperti anak-anak yang lain.

“Saya menyadari bahwa tugas mendampingi ABK ini sungguh mulia.  Saya dapat belajar banyak hal tentang arti kehidupan yang sesungguhnya. Saya dapat belajar melayani dan mengasihi mereka dengan kekuatan cinta yang Tuhan berikan pada saya. Karena saya percaya  di dalam diri mereka yang lemah dan tak berdaya  Tuhan hadir,” demikian Sr Ursula.

Ivonne Suryanto