Begini Ceritanya Acara Bukber Lintas Iman di Semarang Ditolak Ormas Garis Keras

Buka bersama lintas iman bersama Istri Presiden Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah di balai desa Semarang. (Foto: KBR/Khoirul A.)

Katoliknews – Acara buka puasa bersama (bukber) lintas iman di Semarang, Jawa Tengah pada Kamis, 16 Juni 2016 dipindahkan ke balai desa, meski sebelumnya direncanakan digelar di sebuah Gereja Katolik.

Berikuit kronologi penyelenggaraan acara lintas iman tersebut hingga pada akhirnya mendapat penolakan dari seklompok ormas radikal. Kronologi ini seperti disampaikan Romo Aloysius Budi Purnomo, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang:

  • Ibunda Dra. Hj. Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, M.Hum sebagai Ibu Negara Republik Indonesia ke-4 bersama Yayasan Puan Amal Hayati memiliki agenda Sahur Keliling dan Buka Bersama sudah sejak tahun 2000 sejak mendiang KH Abdurrahman Wahid menjadi Presiden ke-4 NKRI. Program tersebut demi menyapa anak-anak bangsa ini dan merajut kerukunan dan persaudaraan lintas agama di negeri ini.
  • Sudah sejak tahun 2011 saya sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang mendapat mandat dan kerja sama dalam program Beliau tersebut. Dua kali mandat itu saya jalankan dengan bertanggunjawab dan baik dalam kerja sama dengan banyak pihak dalam rangka kerukunan umat beragama dan persaudaraan sejati. Itu terjadi di Tanah Mas dan Kebon Dalem Kota Semarang. Mandat yang sama saya terima lagi untuk Buka Bersama di halaman gereja dan pastoran Kristus Raja Ungaran, dijadwalkan, Kamis 16 Juni 2016, pkl 16.00-17.45 wib dengan tamu undangan untuk Pemda, Forkomindo, tokoh masyarakat setempat, kaum duafa: tukang ojek, buruh pabrik, anak jalanan, panti asuhan dan penyapu jalanan, total 500 orang plus panitia 40 orang. Konsumsi kami persiapkan 750 paket.
  • Untuk persiapan acara ini kami panitia sowan Bupati Semarang, Selasa, 31 Mei 2016 di rumah pribadi di Ambarawa. Pada intinya Bapak Bupati mendukung dan siap hadir pada hari pelaksanaan. Beliau menyarankan agar panitia berkoordinasi dengan FKUB Kabupaten dan tokoh-tokoh lintas agama.
  • Bapak FX Pardiman sebagai Ketua Panitia berkoordinasi pula dengan pihak aparat keamanan. Pembicaraan dengan pihak Kodim di Salatiga menyatakan pihak Kodim mendukung. Koordinasi dengan Polsek dan Polres juga dilakukan namun belum ada kesempatan tatap muka.
  • Mengikuti nasihat Bapak Bupati Semarang, panitia berkoordinasi dengan tokoh-tokoh lintas agama Kabupaten untuk acara ini. Kami pun mengadakan rapat koordinasi bersama sejumlah tokoh lintas agama di ruang Yohanes Paulus II Paroki Ungaran, Jumat 03 Juni 2016, pukul 15.30 – 17.30 wib. Dalam rapat tersebut diambil keputusan kita siap melaksanakan mandat tersebut sesuai dengan tata cara yang disepakati yakni Buka Bersama di halaman pastoran dan gereja Ungaran dijalankan dengan tanpa acara pembacaan ayat suci Alquran, adzan, dan shalawat. (Sebetulnya acara pertama dan kedua merupakan acara standart dari panitia pusat – Ciganjur. Sedangkan shalawat sendiri juga tidak ada. Yang dipersiapkan ada adalah musik rebana dengan tiga lagu: Perdamaian, Ilir-Ilir dan Indonesia Pusaka.) Keputusan tersebut sudah saya sampaikan kepada panitia pusat dan tidak masalah dengan pemangkasan acara tersebut.
  • Pada hari Senin, 06/06/2016, pkl 15.30-an Bapak Kapolres Semarang datang menjumpai kami (ketua panitia dan saya) di pastoran setelah kami menunggu hampir tiga jam. Beliau meminta agar rencana acara dipindah dengan alasan keamanan. Kami sampaikan kepada Beliau bahwa kami tidak mempunyai wewenang untuk memindah lokasi sebab kami hanya menerima mandat dari panitia pusat di Ciganjur untuk program Ibu Shinta bersama Yayasan Puan Amal Hayati Jakarta yang mengusung visi misi kerukunan dalam keberagaman.
  • Hari Rabu, 08/06/2016, pukul 13.00-15.30 saya diundang untuk koordinasi di Kantor Pemda Semarang. Hadir dakam rapat itu beberapa orang FPI dan tokoh agama (PCNU dan Muhammadiyah) yang intinya menolak acara Ibu Shinta. Bahkan, penolakan dari FPI disertai dengan “kalimat-kalimat yang tidak pantas” untuk seorang Ibu Negara RI yang ke-4. Alasan penolakan: program Ibu Shinta berbuka bersama di halaman gereja memicu keresahan, merusak kondusivitas, kerukunan dan toleransi yang selama ini sudah baik. Kecuali itu, kegiatan tersebut dianggap merusak dan melanggar aqidah keislaman.
  • Membaca suasana rapat dan atas sikap negatif itu maka dengan prinsip mengusung perdamaian saya mengambil keputusan untuk berkonsultasi dengan Tim Ibu Shinta dan ingin mengembalikan mandat tersebut. Dengan demikian, mandat dan tugas untuk menyelenggarakan Buka Bersama di halaman gereja Kristus Raja Ungaran Kabupaten Semarang pada hari Kamis, 16 Juni 2016 lalu, gagal kami laksanakan dengan alasan keamanan oleh sebab penolakan FPI dan beberapa ormas lain. Tentu banyak pihak yang mendukung dan berkenan hadir menjadi kecewa karenanya. Sejumlah hal yang sudah matang menjadi mentah kembali dan harus kami batalkan.
  • Setelah berkonsultasi dengan Panitian Pusat Ciganjur dan Ibu Shinta; kami diberi mandat dan atas persetujuan Ibu Shinta untuk memindahkan lokasi yang sesuai dengan harapan Ibu Shinta untuk Berbuka Bersama di halaman gereja Katolik seperti selama ini sudah terjadi. Maka kami putuskan berpindah ke Gereja St. Yakobus Zebedeus Pudak Payung. Keputusan ini kami informasikan kepada Wali Kota Semarang, Mas Hendi yang menyambut baik rencana tersebut dan menjadwalkan akan hadir.
  • Minggu, 12 Juni 2016, pukul 10.00 wib kami perwakilan pengurus gereja Pudak Payung beraudiensi dengan sesepuh warga masyarakat setempat, Bp. Haji Zaenuri (Sanuri) untuk mohon nasihat terkait dengan kegiatan tersebut. Beliau menyambut baik dan mendukung rencana tersebut. Minggu malamnya diadakan rapat RT se-RW 04 Pudak Payung. Pada intinya nasyarakat warga dan tokoh masyarakat setempat dengan gembira menyambut rencana itu. Bahkan undangan kepada warga pun kami tanda tangani bersama (wakil gereja: Cahyono, wakil Islam: Haji Zaenuri dan saya sendiri).
  • Saat segala sesuatunya sudah siap, pada hari Kamis, 16 Juni 2016, pukul sekitar 09.00 wib saya mendapat panggilan per telepon dari Bapak Kasatintel Polwiltabes Semarang. Saat saya tiba di lokasi bersama Ketua Panitia (Bp Pardiman) dan Penasihat kami (Bp Kartiman) di Lt 2 gedung B, di situ sudah berkumpul sejumlah orang yang mengatasnamakan perwakilan ormas Islam termasuk FPI, Pemuda Muhammadiyah, Hizbutahir, Mualaf Center dan beberapa lainnya. Dalam forum tersebut diadakan rapat dan negosiasi yang berujung pada penolakan acara yang segala sesuatunya sudah siap tersebut yang membuat kami panitia lolal dan panitia pusat harus berkoordinasi dan mengambil sikap mengutamakan suasana damai demi mengakomodir pihak-pihak yang menolak. Pada akhirnya acara Buka Bersama Ibu Shinta yang batal dilaksanakan di halaman gereja Ungaran juga batal dilaksanakan di halaman gereja Pudak Payung sebab harus dipindah lagi dalam tempo sesingkat-singkatnya ke balai desa Pudak Payung. Semua ini harus terjadi sebagai sikap mengalah kami kepada FPI dan ormas-ormas yang menolak kegiatan yang dirancang dan dilaksanakan Ibu Shinta dengan kami sebagai panitia lokal.
  • Di hadapan pihak-pihak yang menolak, saya mengusulkan langkah kompromi ini: 1. Ibu Shinta Nuriyah tetap kami terima dalam kunjungan di halaman gereja Katolik Pudak Payung dan berceramah untuk hadirin di situ. 2. Buka Bersama silahkan diadakan di Balai Desa Pudak Payung. 3. Tidak ada acara pembacaan ayat suci Alquran dan adzan di halaman gereja. Usulan itu ditulis oleh petugas dari kepolisian dan saya tanda tangani serta ditandatangani pula oleh perwakilan ormas-ormas yang menolak kegiatan tersebut sebagai saksi.
  • Syukurlah Ibu Shinta berkenan pula menerima kompromi ini. Beliau rawuh di halaman gereja Pudak Payung memberi penghiburan kepada panitia yang tetap setia melayani pelaksanaan Buka Bersama di balai desa kendati dengan susah payah. Beliau hadir dalam suasana cair dan penuh kasih.
  • Acara dimulai di halaman Gereja Pudak Payung pada pkl 15.30 dengan alunan musik keroncong oleh Siswa-Siswi SMK Kanisius Ungaran yang sudah berlatih dan mengisi acara sejak semula. Acara juga disemarakkan oleh suara emas para St. Abdi Kristus Ungaran. Tepat pukul 16.00 Ibu Shinta dan rombongan tiba di halaman gereja St. Yakobus Zebedeus Pudak Payung dan saya sebagai tuan rumah serta panitia. Sesudah pembicaraan pribadi di ruang transit, acara langsung dimulai. Sambutan yang hangat diberikan para hadirin. Saya mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas kunjungan Ibu Shinta serta mandat yang diberikan menjadi tuan rumah penyelenggara buka bersama. Acara utama adalah ceramah tentang kerukunan dan persaudaraan dari Ibu Shinta. Sesudah itu acara dilanjutkan di balai desa sekitar satu kilometer dari gereja. Bersama Pak Lurah Pudak Payung, saya menerima dan menyambut Ibu Shinta di Balai Desa.Wali Kota Semarang juga hadir.
  • Di balai desa Ibu Shinta kembali memberi ceramah dan tausiah tentang kerukunan dan persaudaraan serta keimanan dan ketakwaan. Tepat saat mulai buka puasa. Di penghujung acara , mengiringi pembatalan puasa melalui buka, Ilham dari Ponpes Al-Islah menari sufi saya iringi nyanyian “Kuasa-Mu Sempurna” lagu yang saya buat.
  • Meski terjadi di dua tempat sekaligus, namun acara dapat kami laksanakan secara maksimal. Kepada warga masyarakat yang beragama Islam perpindahan tempat buka bersama diinformasikan melalui masjid. Sedangkan panitia harus menghadirkan warga umat Katolik dengan melalui broadcast WA, SMS dan BBM.
  • Atas semua yang terjadi, saya pribadi sebagai Pastor Katolik yang diberi tugas sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang serta mandat dari Ciganjur selalu mengedepankan sikap positif dan mengusung perdamaian, kerukunan dan persaudaraan sejati. Saya mengampuni pihak-pihak yang menolak. Saya juga berupaya untuk mendamaikan semua pihak yang berseberangan dengan segala resikonya.
  • Banyak pihak merasa kecewa atas pemindahan lokasi dari halaman gereja Ungaran ke gereja Pudak Payung dan dari halaman gereja Pudak Payung ke balai desa. Mereka bisa saya dampingi. Bapak Abu Hafsin Ph.D. sebagai Ketua PWNU Jateng menulis pesan pada saya bahkan hadir ke Pudak Payung dan mengungkapkan, “merasa malu sekali” di hadapan Ibu Shinta dan di hadapan saya.
  • Kepada pihak-pihak yang kecewa atas “kegagalan” rencana tersebut saya berupaya untuk meyakinkan bahwa panitia “tidak gagal” justru “berhasil” memberikan pelayanan yang terbaik dengan cinta dan ikhlas meski dalam suasana yang penuh ketegangan. Saya tetap mengajak panitia untuk bersikap positif penuh kasih. Hal yang sama saya sampaikan kepada Bapak Haji Zaenuri – tokoh Muslim Pudak Payung yang mendukung kegiatan ini bahkan membela kami – yang saya sowani pada Jumat malam, 17/6 di rumah beliau, pkl 22.00-23.00 wib.
  • Seusai acara di balai desa semua panitia membereskan balai desa dan kembali ke gereja. Sejumlah mahasiswa-mahasiswi dari UIN Walisanga Semarang tampak akrab dan ceria menikmati sajian buka bersama di sana. Hadir pula di gereja Pudak Payung Ketua PWNU Jateng KH Abu Hapsin PhD dan Komandan Banser Jateng Dr. Hasyim Asya’ri. Mereka tampak akrab dalam kebersamaan lintasagama tersebut.
  • Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung pelaksanaan Kunjungan dan Buka Bersama Ibu Hj Shinta Nuriyah di halaman Gereja St. Yakobus Zebedeus dan Balai Desa Pudak Payung Semarang. Terima kasih kepada panitia Ungaran dan Pudak Payung. Terima kasih Banser NU Kota Semarang dalam komando Dr. Hasyim Asy’ari.
  • Prinsipnya, dari pihak saya, persoalan ini sudah saya anggap selesai. Bahwa masih ada pihak-pihak yang kecewa dan mempertanyakan “kegagalan” menjadi tuan rumah yang baik dan tidak bisa menjalankan mandat sesuai dengan rencana seperti tahun-tahun sebelumnya, saya hanya bisa memahami dan mengerti; termasuk kemarahan dan kekecewaan mereka terhadap FPI dan ormas-ormas yang menolak kegiatan Ibu Shinta serta rasa kecewa mereka terhadap pihak Kepolisian yang seakan tidak bisa memberi jaminan keamanan seorang Ibu Shinta. Semoga ke depan kerukunan dan damai-sejahtera sungguh-sungguh kian menjadi nyata bagi kita semua.