Catharina Apriningsih (Foto:Ivonne Suryanto)

Katoliknews – Di usia delapan bulan ia kehilangan pendengaran karena demam tinggi. Bersekolah di SLB/B Dena Upakara Wonosobo, Jawa Tengah memberinya banyak pelajaran berharga. Di sela-sela tugasnya sebagai penjaga Perpustakaan Kolese St. Ignatius (Kolsani) Yogyakarta, perempuan ini aktif menjadi seksi liturgi di Misa Keluarga Adeco (Alumni SLB/B Don Bosco Dena Upakara) Yogyakarta yang rutin diadakan dua bulan sekali.

Catharina Apriningsih (47) terlahir sebagai anak ketiga dari lima bersaudara buah hati pasangan Bapak Kasijan Karsokuswarno dan Ibu Sukarsih. Ia lahir di Yogyakarta, 26 April 1968. Apri, sapaannya, saat kecil tidak menyadari bahwa ia memiliki keterbatasan pendengaran.

“Saat bersekolah di SLB/B Dena Upakara Wonosobo, diberi alat bantu dengar dan diberi pelajaran latihan mendengar, barulah saya tahu bahwa saya tuna rungu. Tetapi saya tidak merasa begitu sedih dengan ketulianku karena pikiran saya masih polos. Saya senang tinggal di asrama SLB/B Dena Upakara bersama banyak teman yang sama-sama tidak bisa mendengar,” kisahnya.

Selama sembilan tahun Apri bersekolah dan tinggal di asrama sekolah khusus tuna rungu putri yang dikelola oleh Suster Putri Maria dan Yosef (PMY) ini. Setiap 6 bulan sekali ia diantar pulang ke rumah keluarga di Yogyakarta  untuk libur 1-3 minggu.

Seusai liburan di rumah, biasanya kerinduan dengan teman-teman sekolahnya mulai muncul. Ia senang karena bersama teman-temannya ia bisa berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Teman-teman tuna rungu sudah dianggapnya keluarga. Persaudaraan antar mereka terjalin kuat hingga kini.

Ketika kelas 1 SDLB, Apri diperbolehkan memasuki perpustakaan kantor biarawati pembimbing dan dibiarkan leluasa membaca buku yang ingin dibacanya. “Tetapi tidak sekedar membaca, karena setelah itu biarawati itu memberiku pertanyaan yang terkait dengan buku itu. Tidak disangka kegemaran membaca saat kecil itu membantu pekerjaanku kelak,” kenangnya bahagia.

Catharina Apriningsih  (Foto: Ivonne Suryanto)
Catharina Apriningsih (Foto: Ivonne Suryanto)

Minat yang besar akan buku dan pengetahuan membuat Apri giat belajar. Sebagai hasil kerja kerasnya, ia mendapat nilai terbaik untuk hasil UN. “Berat rasanya meninggalkan dunia SLB yang selama 9 tahun memberiku kebahagiaan. Terselip juga rasa gamang, apakah saya bisa menyesuaikan diri dengan dunia luar. Namun saya bertekad untuk bisa melaluinya,” ungkapnya dengan tatapan menerawang mengenang perpisahannya dengan teman-teman sekolahnya dulu.

Apri lalu melanjutkan sekolahku di SMP di Yogyakarta. Tidak mudah beradaptasi dengan teman-teman yang bisa mendengar. Apri pun menguatkan tekadnya  untuk belajar giat. Selain kesulitan bergaul, wanita berambut ikal ini juga kesulitan mendengar saat guru mengajar. Terkadang mereka mengajar dengan berjalan-jalan dari depan kelas kelas ke belakang. Padahal ia harus membaca bibir mereka.

“Bila guru tidak ada di depan saya, saya tak bisa mendengar penjelasan guru itu. Bila demikian, saya lantas menghadap kepala sekolah meminta supaya para guru mengajar tanpa berjalan-jalan ke belakang. Syukurlah, saya bisa melewati pendidikan SMP dan SMA dengan baik. Pendidikan di SLB Dena Upakara membantu saya disiplin belajar dan berani menghadapi kesulitan. ” urainya sambil tersenyum.

Setelah lulus SMA, Apri diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Jurusan Administrasi Negara. Namun, pada saat bersamaan, ternyata ia mendapat tawaran dari Romo Jan Weitjen SJ untuk bekerja di perpustakaan Kolese St Ignatius/ Rumah Studi Imam SJ (KOLSANI). Apri pun memilih untuk bekerja. Ia menyadari kesempatan bekerja sangat langka apalagi bagi orang yang memiliki keterbatasan pendengaran. Maka ia ingin memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya.

“Lagipula saya gemar membaca dari kecil. Pastilah menyenangkan bisa bekerja di perpustakaan. Pekerjaan saya mengatur buku dengan rapi agar dapat dinikmati oleh pengunjung perpustakaan. Tak terasa sudah 28 tahun saya bekerja di perpustakaan Kolsani,” cerita wanita yang suka menulis ini bahagia. Kesenangannya menulis disalurkannya dengan ikut mengisi majalah Melawan Sunyi Mengukir Prestasi dan menulis di sebuah website untuk tuna rungu.

Di luar kesibukannya bekerja di perpustakaan, Apri aktif mengordinasi teman-temannya untuk mengadakan reuni Dena Upakara. Apri memang mempunyai kerinduan yang besar untuk dapat melayani teman-teman tuna rungu. “Sedapat mungkin saya ingin membantu mereka, karena tidak semua teman-temanku seberuntung saya. Banyak diantara mereka yang kesulitan mendapat pekerjaan,” ujarnya miris.

Selama 28 tahun pula Apri aktif terlibat sebagai seksi liturgi Misa Tuna Rungu Adeco Yogyakarta ( Alumni SLB/B Dena Upakara dan Don Bosco) yang diadakan dua bulan sekali. “Melalui misa dan pengalaman perjumpaan dengan para tuna rungu lainnya saya merasa dikuatkan untuk menjalani hidup di dunia saya yang sunyi,” ungkap perempuan lajang kelahiran Yogyakarta, 26 April 1968 ini.

September 2009 Apri menyadari ada tumor di payudaranya. Ia menjadi cemas. Sahabat menyarankannya untuk periksa ke dokter. Ditemani Bu Tumir (guru SLB/B Dena Upakara)  Apri memeriksakan diri ke dokter di Yayasan Kanker Kucala Yogyakarta. Dokter mengatakan memang benar ada tumor payudara, tapi belum pasti itu jinak atau ganas. Ia lalu memeriksakan ke Rumah Sakit Panti Rapih ke dokter onkologi (tumor) yang lebih berpengalaman.

“Syukurlah dokter itu mengatakan itu tumor di payudara saya jinak dan menyarankan saya harus segera dioperasi. Saya menjadi takut, karena belum pernah dioperasi sebelumnya. Dokter itu mau memberi resep obat-obatan, tetapi saya menolak karena kurang suka obat-obatan itu. Dan saya juga menolak saran untuk dioperasi, karena takut,” ungkapnya.

Apri kemudian mendapat saran-saran dari sahabat untuk mencoba alternatif pengobatan herbal. Ia pun segera berbelanja ke pasar, membeli bawang putih, temu kunir putih untuk dikonsumsi guna melawan tumor payudara. Untunglah Bu Tumir dengan penuh kasih sayang  menolongnya dengan memberinya bubuk kunir putih. Sahabat lain menyarankannya mencoba kapsul herbal. Ia pun mengonsumsi secara rutin kunir putih, bawang putih  dan kapsul herbal.

Apri tak henti berdoa memohon pertolongan Tuhan. Ia mengimani Tuhan sebagai dokter ajaib yang dapat menyembuhkannya. Ia berusaha berpikir positif saja seolah-olah sehat, dan tetap gembira bersemangat untuk sembuh.  Puji syukur , setelah lewat 10 hari tumor payudaranya mulai menghilang, dan kiranya tidak perlu dioperasi.

“Hingga kini sudah 6 tahun lebih saya tidak lagi menemukan benjolan tumor. Saya sehat dan bisa beraktivitas dengan lancar. Itu berkat Tuhan maha penyayang Ia berkarya hebat untuk menyembuhkanku melalui alternatif pengobatan herbal. Saya hanya punya semangat hidup dan iman yang cukup besar,” tutur Umat Paroki St. Petrus dan Paulus Minomartani Yogyakarta ini.

Meskipun tuna rungu tetapi Apri masih bisa menangkap pembicaraan dengan melihat gerak bibir lawan bicaranya. Ia pun dapat berbicara seperti orang normal kendati agak terbata-bata. Ia pun memilih untuk tidak menggunakan alat bantu dengar yang menyebabkannya pusing. “ Saya memilih melihat gerakan mulut lawan bicara saya. Meski kalau ia berdiri membelakangi saya, saya tidak bisa melihat gerak mulutnya,” ucapnya sambil tersenyum.

Meski berkarib dengan kesunyian sejak kecil, Apri merasa bersyukur dengan keadaannya. Kekurangan indra pendengaran sama sekali tidak melemahkan langkahnya untuk berkarya dan membantu sesama. Ia pun ingin melawan sunyi dan mengukir prestasi.

Ivonne Suryanto

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here