Gua Maria Giri Wening. (Foto: Laurensius Sukmanta)

Katoliknews.com – Bulan Oktober atau biasa disebut Bulan Rosario menjadi momen spesial bagi umat Katolik.  Kesempatan itu sering dimanfaatkan untuk melakukan ziarah ke tempat-tempat peziarahan.

Di Jawa, salah satu tempat ziarah yang biasa dikunjungi adalah Gua Maria Wahyu Ibu-Ku Giri Wening.

Gua ini terletak di Dusun Sengon Kerep RT 02 RW 08, Desa Sampang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dan, secara administratif gerejawi masuk Lingkungan Santa Monica, Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten.

Yakobus Suroyo, pengelola sekaligus penggagas gua ini menyampaikan, pembangunan gua mulai dirintis pada 6 November 2009, setelah mendapat persetujuan dari keluarga Yusup Paimin Gito Suwarno (pemilik lahan) dan didukung oleh Komunitas Imam Hati Kudus Yesus (SCJ) Yogyakarta, serta umat Lingkungan Sengonkerep.

“Saat itu, umat Sengonkerep mulai membuat jalan setapak menuju ke lokasi yang akan dibangun sebagai tempat doa. Dan pada malam harinya diadakan Misa Kudus yang dipimpin oleh Romo YR Susanto SCJ dan Romo Gerardus Zwaard SCJ,” katanya.

Suroyo menyatakan, setelah dibangun dan ditata di sana-sini, banyak peziarah yang mengunjungi Giri Wening.

Setiap hari, kelasnya, selalu saja ada umat yang berziarah di tempat itu. Dan di saat liburan, Giri Wening dikunjungi banyak peziarah, spalagi saat bulan Maria (Mei) atau bulan Rosario (Oktober), peziarah bisa membludak.

Peziarah berasal dari Klaten, Solo, Yogya, Semarang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, dan kota lain di Pulau Jawa. Bahkan belakangan ini, banyak peziarah dari luar Pulau Jawa yang mengunjunginya.

Lalu, apa yang menarik dari Giri Wening ini? Menurut Suroyo, banyak peziarah yang mengaku enjoy saat berdoa dan berdevosi.

Mereka merasa ayem, tentrem, dan khusuk saat berdoa karena Giri Wening ini memang jauh dari kebisingan, di mana letaknya di pegunungan.

Selain hening, pemandangan di Giri Wening juga masih sangat alami, yang “dipagari” batu alam yang super besar. Masyarakat sekitar menyebutnya “Watu Gedek”.

Di samping itu, juga ada banyak pohon besar yang masih tumbuh dengan suburnya. Ini membuat suasana Giri Wening terasa semakin indah.

“Pada siang hari, peziarah bisa merasakan angin yang bertiup sepoi-sepoi basah. Dan sesekali, kicauan burung terdengar dari balik rimbunnya pohon. Jadi, seperti namanya, Giri Wening, atau gunung yang hening, yang sepi, maka peziarah akan merasakan keheningan yang luar biasa,” ujarnya.

Tempat doa di Gua Maria Giri Wening. (Foto: Laurensius Sukmanta)
Tempat doa di Gua Maria Giri Wening. (Foto: Laurensius Sukmanta)

Apa yang disampaikan Suroyo ini klop dengan apa yang dirasakan oleh Adminstrator Diosesan Keuskupan Agung Semarang (KAS) Rama FX Sukendar Wignyasumarta, Pr saat mengunjungi Giri Wening, Sabtu, 24 September 2016 pagi.

“Giri Wening memang oke. Sangat cocok untuk tempat berziarah. Suasananya sungguh tenang dan terasa damai. Tempat ini sangat cocok untuk berdoa atau bermeditasi. Desain tempatnya juga sangat bagus. Tidak kalah dengan tempat-tempat peziarahan lainnya,” ucap Rama Sukendar.

Ternyata, tidak hanya umat Katolik yang berziarah di Giri Wening ini. Banyak umat agama lain yang juga berziarah di sana.

“Semoga dengan adanya tempat ziarah Giri Wening ini, iman umat semakin dikuatkan dan nama Tuhan semakin dimuliakan,” harap Suroyo.

Kontributor Laurentius Sukamta/Katoliknews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here