Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo

Katoliknews.com – Tidak ada masalah, meski pengeras suara gereja beradu keras dengan pengeras suara milik mesjid sejak pagi hingga sore hari.

Cerita itu menjadi penggalan kisah toleransi Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo saat ia kecil, yang disampaikannya saat menggelar Rapat Koordinasi Nasional Forum Komunikasi Umat Beragama Provinsi dan Kabupaten/Kota, di Kompleks Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Kamis 6 Oktober 2016.

Sebagaimana dilansir Kompas.com, Tjahjo menuturkan, dulu di depan rumahnya di Semarang, Jawa Tengah, berdiri dua rumah ibadah, masjid dan gereja.

Di gereja, kata dia, selalu ada acara kebaktian tidak hanya berlangsung pada hari Minggu.

“Berlomba-lomba keras. Suara dari gereja bersahutan dengan suara adzan di masjid. Warga sekitar pun tidak punya konflik karena ini,” kata Tjahjo.

Toleransi umat beragama juga dialami Tjahjo di lingkungan keluarga yang beragam.

Ia mengatakan, ayahnya lahir di Jepara, yang menjadi salah satu keluarga besar Nahdlatul Ulama. Ibunya, asal Solo, pengikut Muhammadiyah.

“Ada juga keluarga saya yang beragama Kristen Jawi, Katolik. Kerukunan umat beragama ini yang saya alami sejak kecil. Ini sebenarnya di negara kita sudah tidak menjadi masalah,” ucap Tjahjo.

Ia lantas mengaku heran, di usia kemerdekaan yang ke-71 tahun, di Indonesia masih terdapat masalah kecil antar-umat beragama yang seharusnya dapat dimusyawarahkan.

Tjahjo juga menyebutkan, dalam bidang politik juga ada perbedaan agama, misalnya antara kepala daerah dan masyarakat. Menurut dia, hal itu dapat berjalan dengan baik.

Tjahjo mencotohkan, ada salah satu provinsi berisi 65 persen penduduk beragama Islam dengan gubernur beragama Katolik dan wakil gubernur beragama Kristen Protestan.

Daerah lain, lanjut Tjahjo, dengan 90 persen penduduk non-Islam, memiliki wakil kepada daerah beragama Islam. Namun, ia tidak menjelaskan lebih jauh di mana daerah tersebut.

“Ini di bidang politik tidak jadi masalah dalam proses pemilihan pimpinan partai sampai di tingkat ormas. Memang ada kesepakatan tertulis, gantian. Lima tahun agama ini, lima tahun agama itu,” ujar Tjahjo.

Roby Sukur/Katoliknews