Sebagian massa yang menggelar demo menolak pembangunan Gereja Paroki St Clara, Bekasi pada Jumat, 25 November 2016. (Foto: Ist)

Katoliknews.com – Sekitar 500 orang dari beberapa organisasi Islam kembali melakukan demontrasi, menolak pembangunan gereja Santa Clara di Bekasi Utara, Jawa Barat pada Jumat, 25 November 2016.

Sejak pukul 13.30, usai Sholat Jumat mereka secara bergelombang mendatangi lokasi yang terletak di Jl. Kaliabang, Bekasi Utara itu.

Secara bergantian, para ustad berorasi menuding pihak Santa Clara telah melakukan pelanggaran hukum, memanipulasi data dan tandatangan warga pendukung.

Karena itu mereka menyatakan menolak pembangunan Gereja Santa Clara. Jika tidak diindahkan mereka berjanji akan berdemo terus.

Ustad Ismail, salah satu pimpinan aksi, malah mengancam akan membakar Gereja Santa Clara jika tetap dibangun.

Menurut para orator, jumlah umat Santa Clara hanya segelintir sehingga tidak perlu memiliki gereja dan kalau harus memiliki gereja agar membangunnya di tempat lain.

Menanggapi berbagai tudingan tersebut, Romo Raymundus Sianipar, OFMCap selaku pastor paroki menjelaskan bahwa pihaknya tidak sembarangan dalam mengurus izin.

Ia mengatakan, mereka sangat tertib dan disiplin dalam hal administrasi.

“Selama 17 tahun kami mematuhi semua persyaratan dan peraturan. Kami sabar dan telaten meski tantangannya tidak sedikit menggerus pikiran, emosi, perhatian dan sebagainya,” ujar Pastor Ray.

Dalam aksinya, umat Islam menuding bahwa jumlah umat Katolik di daerah itu hanya segelintir, sehingga tidak perlu dibangun Gereja.

Menyikapi tudingan itu, Sekretaris Dewan Paroki, Rasnius Pasaribu menjelaskan, umat Paroki Santa Clara saat ini mencapai 9.422 jiwa dan tersebar di seantero Kecamatan Bekasi Utara.

Umat tersebut terbagi dalam 11 wilayah dan 58 lingkungan di bawah penggembalaan 4 orang pastor.

Dengan jumlah umat sebanyak tersebut, namun belum memiliki bangunan gereja, kata dia, pihak pengurus gereja kesulitan memberikan pelayanan yang maksimal.

Untuk sementara, umat Santa Clara merayakan Misa di sebuah Ruko di Perumahan Wisma ASRI.

Ruko yang mereka gunakan hanya mampu menampung sekitar 300 orang sementara umat yang datang mengikuti Misa mencapai 800-an orang.

Umat yang tidak kebagian tempat di dalam, menghampar di luar duduk menggunakan kursi plastik di halaman ruko.

Yang sungguh merepotkan, kata dia, tatkala hujan turun saat Misa berlangsung. Umat, jelasnya, harus berdesak-desakan di dalam Ruko dan menepi di teras rumah penduduk.

Jika tetap tidak kebagian tempat, sejumlah umat pasrah menggunakan payung atau rela diguyur hujan.

“Seperti tanggal 13 November lalu. Kami harus menggunakan payung dan menepi di rumah tetangga. Kami tidak menganda-ada,” ujar Rasnius sambil menunjukkan beberapa foto yang menunjukkan umat yang mengikuti Misa menggunakan payung.

Seperti diketahui, IMB Gereja Santa Clara diterbitkan oleh Walikota Kotamadya Bekasi, Rahmat Effendi pada 28 Juli 2015 setelah melalui berbagai tahapan verifikasi yang berkali-kali selama 17 tahun.

“Seluruh persyaratan kami penuhi  dengan baik dan benar. Semuanya ada dokumentasinya,” kata Rasnius lagi.

Lebih lanjut Rasnius menjelaskan, isu lain yang biasanya diembus-embuskan adalah Gereja St. Clara adalah gereja terbesar se-Asia.

“Dari mana kemampuan kami mendirikan gereja sehebat itu? Tanah kami hanya 6.500 m2, dan di atasnya kami bangun gereja seluas 1.500 m2, lalu ada balai pengobatan dan rumah pastor. Belum lagi tempat parkir dan ruang terbuka hijau,” jelas Rasnius sambil memohon doa agar semua ujian ini bisa dia dan saudara-saudarinya di Santa Clara bisa lewati.

Dia juga meminta kepada warga yang menolak agar mau membuka tangan, hati dan diri untuk menerima mereka.

“Kita kan bersaudara, setanah air dan seperjuangan,” pungkas Rasnius.

Katoliknews

14 KOMENTAR

  1. Semangat dan tetap kuat. Semoga Allah sumber segala Rahmat mengutus Roh-Nya untuk memberkati Para Pastor dan seluruh umat di Paroki Santa Clara Bekasi

  2. Bahaya Indonesia ini,
    Dulu sejak SD sy belajar PPKN yg mnyatakan Bhineka Tunggal Ika..
    Saya pikir sungguh indah nya keberagaman di Indonesia ini,
    Tp skrg trnyata slogan Bhineka Tunggal Ika itu hanya di atas kertas sj..
    Parah!!!

  3. Oh islam, kenapa selalu namamu yang jadi biang kerok & membuat permusuhan di manapun. Pantaslah mendengar namamu orang sudah pada muntah.

  4. Lanjutkan pembangunan,kita mesti percaya,Tuhan yesus akan memberi jalan.Percayalah…Allah bapa akan menyertai seluruh umat st clara.

  5. Sejak Tahun 1997 saya sudah pernah ikut kebaktian di ruko Wisma Asri, sejak saat itu sudah ada doa untuk pembangunan gereja baru. Sudah terkumpul sejumlah dana yang cukup untuk membangun gereja baru, hal itu saya dengar lewat pengumuman.
    Dan setelah sekian lama barulah mendapat izin membangun gereja.
    Namun begitu dibangun, mulailah diributin oleh para pendemo.

    Ada kekhawatiran para pebisnis di lokasi setempat, jika gereja katolik berdiri, maka akan berdiri sekolah katolik, dan bisnis-bisnis lain, yang akan menjadi pesaing bagi mereka. Inilah kekhawatiran umum yang disembunyikan lewat demo-demo yang terjadi.

    Hanya doa yang bisa kami lakukan, karena saya bukan warga atau umat St Clara. Saat ini saya tinggal di Perumahan Jatijajar Simpangan Depok, masuk Paroki Keluarga Kudus Cibinong.
    Namun karena rumah mertua saya ada di Blog O Wisma Asri, maka saya terkadang mengikuti kebaktian di ruko St Clara.

    Semoga demo-demo ini segera berhenti, dan semoga warga sekitar bisa mendukung kehadiran gereja yang sudah dibangun sesuai izin pemda setempat.

  6. Smoga saidara saudara kita yang demo terbuka hatinya? Sehingga tidak demp lagi di kemudian hari, dan Tuhan lah yang beri kekuatan bagi panitia pembangunan gereja ini sehingga dapat diteruskan

  7. Klu di tempat kami di Kalbar sih ndak kan berani mereka demo pembangunan Gereja.. Kami dari Kalbar hanya bisa bantu doa.. Maafkan kami..

  8. Miris melihatnya, akan seperti apa indonesia 5 th 10 th 20 th lagi…., indonesia akan menjadi iraq atau suriah ke dua

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here