Tarian Adat Flores Meriahkan Penyambutan Peserta AYD di Dekenat Pusat KAJ

Para penari, (Intan, Shela, Ucin, Ani, Atik dan Femmy) mahasiswi asal Manggarai, Flores, NTT yang membawakan tarian adat daerah Flores saat misa penerimaan peserta Asian Youth Day di Paroki Paskalis, Cempaka Putih, Dekenat Pusat, KAJ.

Jakarta, Katoliknews.com – Tarian adat Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) turut memeriahkan penyambutan peserta Asian Youth Day (AYD) di Paroki St. Paskalis, Cempakah Putih, wakil dari Dekenat Pusat Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), Minggu 30 Juli 2017.

Tarian yang dibawakan oleh 6 mahasiswi asal Manggarai-Flores ini dibawakan saat perarakan pembukaan dan persembahan misa suci penerimaan Orang Muda Katolik (OKM) delegasi dari beberapa tempat.  Dari paroki Dekenat Pusat KAJ, antara lain, Paroki St. Theresia Menteng, Paroki Hati Kudus Kramat, Paroki Pejompongan, Paroki Katedral dan Paroki St. Ignasius Loyola Jalan Malang yang berjumlah 11 orang.

Ada juga OMK dari luar Jakarta antara lain dari Tanjung Selor Kalimantan Utara, Palangkaraya Kalimantan Tengah, Timika dan Jayapura. Masing-masing 2 orang. Serta 7 orang dari Taiwan dan Filipina 4 orang.

“(Tarian) itu sejalan dengan tema AYD: Joyful Asian Youth! Living the gospel In Multikultural Asia,” ujar Rober Jebarus, wakil ketua panitia kepada Katoliknews.com, Senin 31 Juli 2017.

Menurut Robert, terpilihnya tarian itu bukan tanpa alasan. Sebab, bisa berkolaborasi dengan lagu apapun. “Dan kemarin, mungkin baru pertama kali dalam gereja paskalis, tarian bisa diringi oleh koor,” ujar Robert.

Sementara itu, Familia Ngabut, salah satu penari menyampaikan rasa syukurnya atas partisipasinya dalam acara tersebut.

“Sebagai salah satu penari, saya senang bisa ikut berpartisipasi memeriahkan acara ini. Selain bisa membawa tarian daerah yang harus tetap dijaga, juga mendapat banyak teman baru,” tuturnya.

Ragam budaya lain yang ditampilkan saat acara tersebut adalah Palang Pintu, yaitu budaya betawi, Taruan Helung yaitu tarian perang asal Flores Timur, upacara torok tae asal Manggarai, Flores serta gerejanya pun bernuansa Betawi.

“Ragam budaya ini ditampilkan pada saat penyambutan peserta AYD secara resmi,” ucap Robert.

Para Peserta AYD bersama OMK Paroki Paskalis. (Foto: Marcel Nikolas).
Robert mengakui, sepanjang dirinya bergabung di Paroki Paskalis, rangkaian acar penerimaan peserta AYD tersebut merupakan salah satu acara yang paling rangkaian paling inkulturatif, ramai dan meriah.

“Itu tidak terlepas dari dukungan semua umat, OMK Dekenat Pusat serta teman-teman Frater OFM,” tuturnya.

Harapnya, lanjut Robert, rangkaian kegiatan AYD ini memberi kesadaran akan tema AYD yang berasas kebhinekaan.

“Karena pada dasarnya AYD ini adalah perayaan perjumpaan orang muda yang berasal dari budaya dan suku yang berbeda,” tutup Robert.

Rangkaian Kegiatan

Pada malam setelah upacara misa yang dilaksanakan pukul 17.30 sampai 19.00 WIB, digelar pula ramah tamah di Aula Paroki. Acara dimulai dengan makan malam bersama, lagi diisi dengan persembahan lagi dari beberapa OMK dan Frater-frater OFM serta diakhiri dengan tarian Ja’i bersama. Ja’i merupakan tarian asal Ngada, Flores.

Peserta bersama OMK Se-Dekenat Pusat saat Ja’i bersama. (Foto: Marcel Nikolas).
Lalu, pada 

Senin 31 Juli 2017, para peserta, melakukan studi karya pastoral dengan memberikan pelayanan penjara berupa ekaristi dengan warga binaan di lembaga pemasyarakatan Salemba serta pengenalan program ASAK, program bedah rumah dan pelayanan klinik paskalis.

Peserta juga diajak untuk mengikuti dinamika OMK setempat dengan mengunjungi gereja lama Paroki Paskalis yang sekarang menjadi kantor Justice Peace and Integrity of Creation (JPIC) OFM, mengunjungi rumah singgah di Tanah Tinggi-Senen, sebuah panti jompo yang dikeola oleh frater-frater OFM.

Selain itu, kegiatan lainnya ialah jalan-jalan ke rumah susun di Tanah Tinggi dan ke Pangkal Asam, sebuah wilayah yang dikenal sebagai wilayah terpadat se-Asia, rawan tawuran dan diduga sebagai pusat peredaran narkoba di Jakarta.

Dan pada dini hari Rabu, 2 Agustus 2017, peserta akan berangkat ke Yogyakarta untuk mengikuti puncak AYD.

j-aR/Katoliknews