Bangun Masjid dan Gelar Acara Buka Puasa: Inspirasi Toleransi dari Pengusaha Katolik, Saji Cheriyan

Saji Cheriyan, seorang pengusaha Katolik menggemakan ke seluruh penjuru dunia semangat untuk bersikap manusiawi pada kelompok yang berbeda agama. (Foto: khaleej Times)

Saji Cheriyan, warga India yang tinggal di Fujairah, Uni Emirat Arab menggemakan ke seluruh penjuru dunia semangat untuk bersikap manusiawi pada kelompok yang berbeda agama.

Setelah tahun lalu pengusa Katolik itu membangun sebuah masjid untuk  para pekerja di kawasan industri Al Hayl, pada Ramadhan tahun ini ia mengggelar acara buka puasa bagi mereka.

Sebagai bentuk penghargaannya terhadap saudara-saudari Muslim, ia juga ikut berkuasa, demikian menurut Khaleej Times.

Langkahnya untuk mendirikan masjid didasari keperihatian mahalnya biasa ongkos taksi bagi pekerja Muslim untuk berdoa di masjid di kota Fujairah.

Ia membangun masjid dengan biaya 1,3 juta dinar di kompleks mewah Real Ville East Estate Al Hayl Industrial. Masjid bernama Mariam Um Eissa atau Masjid Maria Ibu Isa itu dapat menampung 250 jemaah.

“Saya mendapat lebih banyak bisnis setelah itu. Jadi, bisa dikatakan, uang yang saya habiskan untuk membangun masjid, sudah kembali kepada saya. Jadi, uang itu tahun ini saya pakai untuk menyediakan makanan berbuka puasa gratis,” tuturnya.

Cheriyan telah membangun ruangan pertemuan yang dilengkapi pendiringan ruangan, di mana ia menampung ratusan pekerja berbuka puasa.

“Para pekerja ini telah bekerja keras untuk membangun bangsa ini. Saya menemukan kepuasan besar dengan memberi mereka makan selama bulan Ramadhan. Ini adalah perasaan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Saya telah mengalami kesulitan dalam hidup saya. Saya mengerti bagaimana kesulitan para pekerja,” katanya.

Setiap hari, acara buka bersama Cheriyan sedikitnya selalu diikuti oleh 800 orang pekerja dan karyawan asing.

“Orang-orang yang berbuka puasa di sini mengingat saya dan keluarga saya dalam doa-doa mereka,” katanya.

Abdul Qayum, 63, seorang sopir bus asal Pakistan yang ikut dalam acara buka puasa menyatakan, dunia membutuhkan orang-orang seperti Cheriyan.

“ Jika tidak ada orang seperti dia, dunia akan berakhir. Kami berdoa untuknya. Allah akan memberkatinya. “

Vajas Abdul Wahid, asisten manajer asal India yang bekerja di UAE, mengatakan masjid dan berbuka puasa bersama yang digelar Cheriyan tak hanya bermanfaat di daerah tersebut.

“Ada lebih dari 50 karyawan yang tinggal di daerah ini. Karyawan senior dan buruh tinggal di lokasi terpisah. Tapi, ketika kami datang ke sini, kami semua sama. Kami berdoa dan berbuka bersama. ”

Pada tahun 2004, Cheriyan mendarat di bandara Dubai dengan visa kunjungan dan membawa sedikit uang, lalu secara naluriah memilih Fujairah sebagai tempat untuk mewujudkan impiannya.

“Di tempat menunggu taksi di Deira, saya mendengar orang berbicara tentang peluang kerja di Fujairah. Saya berjuang selama berbulan-bulan dengan uang yang sedikir dan berjalan bermil-mil mencari peluang tetapi. Saya tidak menyerah.”

Akhirnya, insinyur sipil itu mendapatkan proyek kecil dan mengalami pasang surut, sebelum akhirnya menjalankan Grup Perusahaan Timur Tengah.

“Sekarang saya punya cukup uang untuk menjalani kehidupan yang layak. Saya tidak akan membawa kekayaan ketika saya mati, jadi saya berikan kepada yang membutuhkan,” kata Cheriyan yang didukung oleh istrinya Elsy dan anak-anaknya Sachin dan Elwin.

Kini ia sedang berencana membangun 20 rumah bagi yang membutuhkan di tempat asalnya di Kayamkulam, Kerala, India.