Imam di Atambua: Kenapa Kita Tinggalkan Pacul dan Memilih Bekerja di Malaysia?

Ribuan peziarah rohani sedaratan Timor bagian Barat menggelar ziarah ke Gua Maria Weliurai Haliwen, Atambua pada akhir Mei 2019. (Foto: Felixianus Ali)

Katoliknews.com – Seorang imam di Keuskupan Atambua menggunakan kesempatan homili dalam Misa bersama Legio Maria untuk mengajak umat membuka mata pada persoalan maraknya orang yang meninggalkan kampung halaman dan memilih bekerja menjadi buruh migran di Malaysia.

Berbicara di hadapan ribuan anggota Legio Maria sedaratan Timor Barat yang menggelar ziarah ke Gua Maria Weliurai Haliwen, wilayah Keuskupan Atambua pada 29-30 Mei, RD Herman Nurak Hane mengingatkan umat agar “membuka mata lebar-lebar” dan menyadari fakta yang sedang terjadi.

“Kemiskinan membuat kita masih menjadi budak, sehingga anak-anak kita dan siapa saja mudah tertipu dan ditipu untuk bekerja ke Malaysia. Begitu (mereka) pulang, kita menerima mayat,” kata imam tersebut.

“Kenapa kita tidak mau mengolah tanah yang tandus dan kering ini untuk menghasilkan susu dan madu untuk masa depan kita?” lanjutnya.

Ia mengingatkan, “bukankah susu dan madu itu diperoleh dengan membajak dan bekerja keras mengolah lahan-lahan tidur untuk ditanami sayur, tomat, cabai, bawang dan tanaman produktif lainnya?”

“Kenapa kita berlomba-lomba meninggalkan pacul, linggis, tofa, sabit dan memilih bekerja di kebun sawit di Malaysia? Apa bedanya alam kita dengan di Malaysia?”

Nusa Tenggara Timur masih dikenal sebagai salah satu daerah asal banyak buruh migran yang bekerja di Malaysia, di mana sebagian besar tidak dilengkapi dengan dokumen resmi.

Tidak sedikit dari mereka yang kemudian pulang dalam kondisi meninggal. Menurut data Pemprov NTT sejak Januari hingga Mei tahun ini, 48 orang meninggal di Malaysia, di mana hanya satu yang tercatat memiliki dokumen resmi, sementara yang lainnya meninggalkan kampung halaman lewat jalur illegal.

Romo Herman mengingatkan para peziarah agar segera bersama-sama memikirkan situasi ini.

 

Ia mengatakan, sebenarnya alam Timor tidak sekeras yang dipikirkan, apalagi sebenarnya menurut dia orang-orang Timor adalah pekerja keras.

“Mulai dari Kupang, SoE, Kefamenanu, Malaka dan Atambua, orang-orangnya adalah pekerja keras dan tangguh,” katanya memberi motivasi.

“Buktikan dan tunjukkan dengan tidak mudah pergi merantau ke Malaysia hanya untuk menggarap kelapa sawit atau menjadi pembantu rumah tangga,” tambahnya.

Ia menyakinkan umat bahwa mereka bisa hidup dengan mengolah tanah yang mereka miliki.

“Saya yakin, kita orang-orang Timor dapat berdiri kokoh menata masa depan dengan tidak mudah ditipu dan tertipu lagi dengan iming-iming gaji yang besar untuk bekerja di Malaysia”, ungkapnya.

Vincent Sudjatno, umat Paroki Katedral Atambua yang ikut dalam ziarah tersebut mengamini apa yang disampaikan Romo Herman.

“Sedapat mungkin kita mesti mengubah doa menjadi keringat yang menghasilkan karya yang bernilai,” katanya.

Para peziarah yang menggelar Misa pada 30 Mei sebagai puncak acara mereka, berasal dari Kuria Kota Kupang yang tergabung dalam Presidium Regia Kupang yakni Komisium Noelbaki, Komisium Soe, Komisium Nasleu-Kefamenanu, Komisium Betun-Malaka, Komisium Mater Salvatoris dan Komisium Atambua, sebagai tuan rumah.

Maria Dolorosa Badjowawo, Ketua Panitia Legio Maria Presedium Regia Kota Kupang Maria Dolorosa mengatakan “ziarah rohani ini dilakukan dua tahun sekali dengan tujuan untuk memuji, memuliakan nama Tuhan lewat Bunda Maria.”

Laporan: Felixianus Ali