Jas Issa yang lahir dengan down syndrom bersama isteri dan anaknya Sader Issa. Kisah Jas menjadi inspirasi bagi banyak orang karena berusaha keras dan dengan cintanya yang besar membangun rumah tangganya. (Foto: Facebook Sader Issa)

Katoliknews.com – Jas Issa mengidap down syndrome, tetapi hidupnya tidak seperti yang mungkin Anda bayangkan.

Tanyakan saja kepada istrinya, yang tidak mengalami hal serupa dan putranya, yang kini sedang studi kedokteran gigi.

Kisah Jas baru-baru ini menjadi viral ketika putranya Sader Issa berbicara tentang ayahnya dalam sebuah video yang dipublikasi di Facebook, yang kemudian memicu munculnya serangkaian cerita dan wawancara tentang keluarga yang luar biasa ini.

Ayah Penyayang dan Bertanggung Jawab

Sader — seorang pemuda gagah yang suka berenang, binaraga, belajar, dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya — tinggal bersama orang tuanya di Suriah.

Dia bangga dengan ayahnya; dalam video, dia mengatakan bahwa bahkan jika ia harus memilih, dia tidak akan pernah ingin memilih orang lain untuk menjadi ayahnya. 

“Aku bangga padanya, sama seperti dia bangga padaku,” katanya.

Perasaan ini beralasan; Jas adalah pencari nafkah utama keluarga, dan terlepas dari kondisinya yang sulit, ia “berusaha melakukan segalanya untuk menjamin kehidupan normal bagi [saya] seperti anak lain,” kata Sader. 

شاب سوري يتحدث عن ابيه المصاب بمتلازمة داونوبعد ان اصبح طالب طب يتحدث عن فخره بأبيه هون بيخلص كل الحكي ❤️❤️

Dikirim oleh ‎شكراً لطوق الياسمين‎ pada Rabu, 03 April 2019

“Selama studi saya, dia adalah pendukung terbesar secara ekonomi, psikologis, dan dalam semua hal.”

Seperti yang dijelaskan Sader dalam video, kebanggaan itu saling menguntungkan: “Salah satu hal yang saya banggakan adalah ketika dia memperkenalkan saya kepada orang baru dan dia berkata, ‘Anak saya seorang dokter.’ Anda bisa melihat kebanggaan dan kegembiraan di matanya. Seperti yang dia katakan: ‘Saya mengidap down syndrome, tetapi saya membesarkan anak saya dan melakukan segalanya untuk membantunya menjadi dokter yang akan merawat orang lain. Saya bangga padanya … ”

Jas dan istrinya mampu menyediakan lingkungan yang lebih dari cukup bagi Sader untuk tumbuh sehat, bahagia dan cerdas. 

Dalam kata-kata Sader sendiri, “Seorang anak yang tumbuh di pangkuan seseorang yang mengidap down syndrom akan bisa memiliki semua cinta dan kelembutan yang dapat ditawarkan oleh siapapun.”

Namun, kata dia, sang ayah malah memilih untuk bekerja keras dan berusaha melakukan segalanya bagi dirinya.

“Melihat semua yang telah ia lakukan, itu tentu saja mendorong saya untuk melakukan semua yang saya bisa lakukan agar kemudian menjadi orang yang baik.”

Seorang suami dan seorang teman

Jas bukan hanya ayah yang baik, dia juga seorang suami yang baik. Dalam hubungannya dengan istrinya, “Mereka memiliki kehidupan yang penuh cinta, kesederhanaan, dan kerendahan hati dalam segala hal.” Singkatnya, Sader mengatakan, hubungan mereka seperti hubungan pasangan lain.

Jas bekerja di pabrik gandum lokal selama 25 tahun dan dia memiliki hubungan baik dengan tetangga dan rekan kerjanya. 

“Hubungan sosialnya sederhana dan murni karena dia mencintai semua orang dan siapa pun, dan sebagai gantinya, semua orang mencintai dan menghormatinya, dan memperlakukannya seperti orang biasa,” jelas Sader.

Memeriksa Kembali Apa Artinya Down Syndrom 

Kisah keluarga ini seharusnya membuat kita berpikir dua kali. Ketika kebanyakan orang berpikir tentang down syndrom, mereka membayangkan tentang kehidupan yang penuh dengan cacat mental dan fisik, eksklusi sosial, ketergantungan total pada n orang lain, menjadi beban … Singkatnya, kehidupan yang mereka anggap tidak layak untuk dijalani. Ini adalah pandangan yang sangat umum dan di banyak negara anak-anak yang didiagnosis mengidap down syndrom kemudian diaborsi.

Namun, pandangan ini sangat keliru dan tragis, setidaknya karena dua hal.

Pertama, adalah asumsi bahwa orang dengan down syndrom akan mengalami penderitaan. Pada kenyataannya, orang dengan kondisi ini dapat memiliki berbagai kemampuan. Jas jelas termasuk orang yang mampu melakukan banyak hal dan fakta bahwa ia dapat memiliki seorang putra sangatlah luar biasa. Namun, pada kenyataannya tidak ada cara bagi kita untuk mengetahui sebelumnya tentang apa yang dapat diderita seseorang dengan down syndrom. Aborsi berarti memotong segala kemungkinan, mengakhiri hidup karena ketakutan dan kesalahan pemahaman tentang apa yang dianggap sebagai bentuk belas kasihan.

Sekali lagi, Sader mengatakan hal yang sangat baik: “Sebagai seorang anak yang tumbuh dengan seorang ayah down syndrom, saya tahu persis betapa murni hatinya dan cinta mereka, tetapi juga bahwa mereka memiliki ambisi dan dorongan serta layak mendapatkan kehidupan yang layak dan tidak layak diaborsi.” 

Dalam video itu, dia menambahkan, “Bagi banyak orang, niat agar seorang wanita hamil dengan bayi yang mengidap down syndrom mempertahankan kehamilannya mungkin merupakan skenario terburuk … Jika nenek saya yakin dengan ide ini, saya tidak akan berada di sini bersama Anda “

Kedua adalah gagasan bahwa kehidupan orang-orang seperti Jas adalah kehidupan yang tidak layak dijalani. Sikap ini sangat tidak manusiawi, karena nilai setiap orang bukanlah pada apa yang dapat mereka lakukan, tetapi terkait siapa diri mereka, yakni manusia, yang pantas mendapatkan cinta dan perhatian serta kesempatan untuk mengembangkan segala kemungkinan yang mereka miliki.

Sebagai orang Kristen, kita meyakini bahwa dalam setiap manusia kita mengenali gambar dan rupa Allah.  Hal ini mengingatkan kita akan Kristus selama Transfigurasi, yang bersinar dengan kekuatan dan kebaikan; dan di lain waktu, itu adalah gambar Kristus di kayu salib yang terluka, ditolak,dan sekarat. Yesus memberi tahu kita (Mat 25: 40-45) bahwa apa yang kita lakukan kepada mereka yang membutuhkan, kita lakukan kepada-Nya. Berada bersama kaum disabilitas dan sakit adalah kesempatan yang Tuhan kirimkan kepada kita untuk belajar bagaimana mencintai, dan melakukannya dengan niat yang tulus.

Kita perlu membangun budaya di mana setiap anak yang dikandung diterima dan disambut sebagai misteri yang masa depannya hanya dapat ditentukan oleh Allah. Tugas kita adalah mencintai setiap anak dan membantu mereka mengembangkan potensi, sebesar atau sekecil apapun. Kita tidak bisa memilih mempersingkat hidup mereka hanya karena kita tidak memiliki visi untuk mengenali nilai yang ada dalam diri mereka atau kemurahan hati untuk memberi mereka sebuah kesempatan hadir di dunia ini.

Inspirasi dari Aleteia.org.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here