Ini merupakan foto 22 imam baru Jesuit yang ditahbiskan pada 5 Juni 2019 di Amerika, salah satunya adalah Pastor Stefanus Hendrianto SJ (duduk, ketiga dari kanan), mantan aktivis 1998. (Foto: Jesuits.org)

Katoliknews.com – Tahun 1998 ketika Indonesia sedang bergolak dalam proses mengakhiri era Orde Baru, Stefanus Hendrianto – yang namanya kala itu dikenal sebagai Henri Kuok – menjadi bagian dari gerakan mahasiswa. Ia ikut aktif dalam aksi melawan rezim otoriter Soeharto, yang sudah berkuasa selama 32 tahun.

Namun, siapa sangka, perjalanan hidupnya kemudian berubah haluan saat ia memutuskan meninggalkan tanah air dan studi di Amerika: ia memilih jalur hidup selibat dan ditahbiskan pada 8 Juni 2019 bersama 21 rekannya sebagai imam Jesuit.

Sebagaimana dikutip dari situs resmi Jesuit, Jesuits.org, pastor yang lahir di Bangka, 13 April 1974 ini kini menjadi anggota Jesuit Provinsi Amerika Serikat bagian Bart.

Ia disebut menempuh pendidikan Sarjana Hukum di Universitas Gajah Mada Yogyakarta, saat dia mana ia ikut terlibat dalam aksi mahasiswa di Jakarta.

Pasca Soeharto jatuh, ia meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studi pascasarjana di Belanda dan memperoleh gelar Magister Hukum di Universitas Utrecht. 

Tamat dari Belanda, dia kembali ke Indonesia dan bekerja di bidang legal kantor Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) di Jakarta.

Setelah itu, ia kembali keluar negeri dan mendapatkan gelar Ph.D. dalam bidang hukum di Fakultas Hukum Universitas Washington di Seattle. 

Dia disebut mengalami pertobatan iman yang mendalam saat terlibat di di Newman Catholic University Washington. 

“Adalah para Dominikan di Newman Center yang menanamkan benih panggilan untuk imamat (dalam dirinya), tetapi pada akhirnya, Hendrianto memutuskan untuk bergabung dengan Serikat Yesus setelah bertemu dengan Pater Robert Spitzer, SJ,” demikian menurut situs resmi Jesuit.

Tidak dijelaskan siapa Pastor Robert Spitzer SJ itu.

Setelah menyelesaikan gelar Ph.D, Hendrianto memasuki novisiat pada tahun 2009, di mana ia kemudian terlibat membantu pelayanan kampus di Universitas Gonzaga di Spokane, Washington. 

Pastor Hendrianto bersama mentornya, Pastor James V. Schall SJ. (Foto: Jesuitr.org)

Selanjutnya, ia diutus ke Loyola University Chicago, tempat dia belajar filsafat.  Hendrianto kemudian menghabiskan dua tahun di Universitas Santa Clara di mana ia mengajar hukum dan di departemen ilmu politik.

Dia juga bertugas sebagai penasihat akademis, dan membantu mendirikan Asosiasi Mahasiswa Hukum Katolik. 

Setelah dari Universitas Santa Clara, Hendrianto pindah ke Universitas Notre Dame, tempat ia menulis dan meneliti di Kellogg Institute for International Studies. 

Pada musim gugur 2016, ia mendaftar di Boston College School of Theology dan Ministry, di mana ia mendapatkan gelar Master of Divinity dan Master of Theology. 

Saat di Boston, ia memimpin program pengarahan spiritual untuk wanita di rumah bersalin  dan para tunawisma yang membutuhkan tempat tinggal dan dukungan.

BACA JUGA: Budiman Sudjatmiko dkk Komentari Tahbisan Pastor Stefanus Hendriato SJ

Setelah ditahbiskan menjadi diakon, ia melayani Paroki St. Michael di Bedford.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here