Pastor Heribertus Hadiarto SVD, imam asal Flores, Nusa Tenggara Timur yang kini bertugas di Hong Kong ikut dalam aksi bersama ribuan massa pada Rabu, 12 Juni 2019 menolak RUU ekstradisi. (Foto: Ist)

Katoliknews – Meski ada imbauan dari Konsulat Jenderal RI di Hong Kong agar WNI di negara tersebut tidak ikut dalam aksi demonstrasi menolak Rancangan Undang-undang (RUU) ekstradisi, seorang pastor asal Indonesia tetap memilih turun ke jalan karena khawatir dengan dampak RUU itu jika diberlakukan.

Pastor Heribertus Hadiarto SVD, imam asal Flores, Nusa Tenggara Timur yang kini bertugas di Hong Kong ikut dalam aksi bersama ribuan massa pada Rabu, 12 Juni 2019.

Pastor Heri awalnya datang ke lokasi demonstrasi bersama ratusan umatnya setelah mengadakan Misa bersama pada Rabu pagi.

“Kita seluruh umat Katolik Hong Kong berdoa di gereja Our Lady of Mount Carmel. Ada ratusan umat datang. Misa dipimpin langsung oleh kardinal dengan uskup. Setelah itu saya dengan umat ke sini,” kata Romo Heri seperti dikutip dari CNNIndonesia.

Ia mengaku mengetahui imbauan dari Konsulat Jenderal, namun mengaku tetap memilih ikut aksi karena ingin mendukung aspirasi masyarakat Hong Kong, terutama umat Katolik.

“Saya datang untuk mendukung umat, tapi secara pribadi saya juga menolak RUU ini karena pengaruhnya bukan hanya untuk warga Hong Kong, tapi siapa saja termasuk warga asing, khususnya berhubungan dengan politik, bisa diadili di China,” tuturnya.

RUU ekstradisi memungkinkan seorang tersangka satu kasus diadili di luar negeri, termasuk China. RUU ini menyulut amarah warga karena khawatir akan sistem pengadilan China yang kerap bias dan dipolitisasi.

Ia juga menegaskan, jika RUU ekstradisi itu benar-benar diloloskan,kebebasan beragama di Hong Kong dapat terbelenggu seperti di China.

“Jangan sampai Hong Kong seperti China. Banyak uskup dan pastor hilang begitu saja. Kalau China bisa masuk begitu, kebebasan di Hong Kong mungkin akan seperti di China. Oleh karena itu, saya pribadi menolak RUU ekstradisi itu,” katanya.

Pastor Heri mengaku sempat terkena tembakan gas air mata ketika kepolisian berupaya membubarkan massa yang kian ramai di depan gedung Dewan Legislatif.

“Semakin banyak orang. Polisi sempat siram gas air mata. Saya kena sedikit,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here