Meninggal di Usia 92 Tahun, Uskup di China Pernah Tiga Kali Ditangkap dan Dipenjara Lebih dari 20 Tahun

Dalam foto ini tampak Uskup Tianjin, Mgr Stephen Li Side sedang berbaring di rumah sakit saat dikunjungi Uskup Koajutor Shi Hongzhen. Uskup Li yang meninggal pada 8 Juni 2019 dalam usia 92 tahun tidak diakui pemerintah China. (Foto: Asianews.it)

Katoliknews.com– Hingga kini, umat Katolik di China terus mengalami represi, terutama mereka yang jadi anggota Gereja bawah tanah, yang tidak diakui oleh pemerintah.

Kontrol ketat, bahkan penangkapan terhadap mereka masih marak terjadi.

Perjanjian sementara antara Vatikan dan China pada tahun lalu, yang salah satunya mengatur soal pemilihan uskup, tidak kemudian mengakhiri represi terhadap Gereja.

Perjanjian itu, yang juga ditentang oleh kalangan Katolik di China sendiri, khususnya kelompok bawah tanah, memberi ruang bagi pemerintah dalam pemilihan kandidat uskup dan Vatikan mengakui uskup-uskup yang selama ini diangkat pemerintah.

Baru-baru ini, praktek pembatasan itu kembali terjadi. Orang-orang awam dan pastor Gereja bahwa tanah dibatasi untuk ikut dalam upacara pemakaman seorang uskup yang meninggal di usia ke-92 tahun.

Ucanews.com melaporkan Uskup Tianjin, Mgr Stephen Li Side, yang meninggal pada 8 Juni, termasuk uskup bawah tanah dan menjadi salah satu orang yang  pernah mendekam di penjara.

Ia ditangkap pada 1989 setelah menghadiri pertemuan organisasi Konferensi Waligereja China yang tidak diakui oleh pemerintah. 

“Dia ditangkap tiga kali dalam hidupnya dan dipenjara selama lebih dari 20 tahun,” tulis ucanews.com pada Rabu, 12 Juni 2019.

Ia meninggal setelah menderita stroke pada pertengahan Mei dan dirawat di sebuah rumah sakit di Kabupaten Ji.

Menurut media itu, saat pemakamannya, pemerintah memberlakukan kontrol ketat. Para imam bawah tanah pun hanya diperbolehkan untuk menghadiri sebagian dari upacara, yaitu hanya saat Misa requiem. Namun, umat awam dilarang untuk ikut dan tidak diperbolehkan ada yang mengambil foto.

Prosesi pemakaman Uskup Li dilakukan oleh Asosiasi Patriotik Katolik Tianjin – organisasi yang disetujui negara – pada 10 Juni.

Asianews.it melaporkan, semua pertanyaan umat dan keluarga uskup kepada organisasi itu terkait upacara pemakaman, termasuk apakah dikremasi atau dikubur, di mana jenazah akan dikuburkan, dijawab dengan kalimat: “Kami harus bertanya kepada atasan kami” dan “Kami harus menunggu arahan dari atas.”

Pengganti Uskup Li, yaitu Uskup Koajutor Shi Hongzhen juga tidak diperkenankan menghadiri pemakaman itu. Permintaan para imam bawah tanah kepada pemerintah agar ia ikut serta, ditolak, dengan alasan Uskup Li dan Uskup Shi tidak diakui. Uskup Shi disebut berada di bawah pengawasan 24 jam oleh otoritas setempat yang telah membatasi pergerakannya.

Di batu nisan, Uskup Li hanya disebut sebagai pastor, bukan sebagai uskup, karena dia tidak diakui oleh pemerintah.

Pastor Paul, seorang imam diosesan dari kelompok Gereja yang diakui pemerintah mengatakan ia telah mengunjungi Uskup Li beberapa kali dalam setahun terakhir untuk meminta nasehatnya. Namun, katanya, uskup selalu sadar bahwa ia sedang diawasi dan mengundang para imam untuk pergi ke ruang dalam sehingga lebih aman bagi mereka.

Uskup Li lahir pada 3 Oktober 1926 di kota Zunhua di Provinsi Hebei dalam sebuah keluarga Katolik. 

Ia masuk seminari menengah pada usia 13 tahun dan bergabung dengan Seminari Tinggi St Vinsensius di Beijing pada tahun 1949. 

Ia ditahbiskan sebagai imam di Keuskupan Tianjin pada 10 Juli 1955 dan ditahbiskan sebagai uskup Tianjin pada tahun 1982.