Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja, melihat lukisan Bunda Maria gaya Jawa karya Basoeki Abdullah. (Foto: Ist)

Katoliknews – Lukisan Bunda Maria terangkat ke surga (Maria Assumpta) gaya Jawa masih bersandar di tembok salah satu ruangan di bangunan megah, Aqua Viva, Nijmegen, Belanda, tempat tinggal bagi pastor-pastor Serikat Yesus (SJ) yang sudah berusia lanjut.

Lukisan tersebut merupakan karya pelukis ternama Basoeki Abdullah pada tahun 1935, saat ia masih berusia 20 tahun.

Dalam lukisan ini, Bunda Maria digambarkan dengan paras ayu khas wanita Jawa, mengenakan kain batik parang rusak dan kebaya beludru warna gelap.

Selain itu, ada bros dan giwang yang lazim digunakan wanita bangsawan Jawa dan kerudung serta selendang berwarna putih.

Lukisan tersebut menggambarkan Bunda Maria yang tengah terangkat ke surga, melayang di atas Gunung Merapi dan Gunung Merbabu dan dilingkupi awan serta sinar lembut berwarna-warni yang juga memancar dari kedua telapak tangan dan kakinya, seolah meninggalkan berkatnya untuk dunia.

Seperti dilansir Kumparan.com, Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja mengunjung tempat itu pada Selasa, 11 Juni 2019 untuk melihatnya secara langsung. Ia a mengatakan, lukisan ini sarat dengan makna.

“Lukisan ini sarat dengan makna dan seperti tengah berbicara dengan kita bahwa terdapat kesatuan yang tidak terpisahkan antara kekuatan Ilahi, alam dan kita sebagai manusia di dalamnya,” katanya.

Ia melanjutkan, lukisan ini juga terasa ‘sangat Indonesia’. Hal itu, menurutnya, tergambar dengan adanya hamparan teras-teras sawah, hutan, aliran sungai, dan juga pohon kelapa.

Kesannya, kata dia, dalam gambar itu Bunda Maria tengah memberkati Indonesia.

Pastor Jan Bentvelzen SJ, yang menerima kunjungan Duta Besar RI ke Aqua Viva saat itu, menceritakan lukisan tersebut dibuat oleh Basoeki Abdullah pada waktu menempuh studi di Belanda.

Saat itu, Basoeki Abdullah mendapat dukungan dari pastor-pastor Jesuit di Nijmegen. Lukisan ‘Maria Assumpta’ ini lalu menjadi tanda terima kasihnya untuk para pastor tersebut.

Imam yang menjadi kepala di Aqua Viva ini juga menjelaskan, terdapat dua lagi versi lukisan Maria gaya Jawa karya Basoeki Abdullah yang terlihat sangat mirip dengan lukisan ini.

Salah satunya terdapat seekor ular raksasa yang melilit salah satu gunung, sementara di lukisan lain lebih kental dengan nuansa keimanan Katolik dengan menyertakan unsur Tri Tunggal di dalamnya.

Salinan lukisan-lukisan tersebut, kata dia, telah dicetak oleh kalangan Jesuit di Belanda pada tahun 1940-an dan digunakan untuk berbagai media di kalangan umat Katolik, seperti kalender rohani dan lembaran media doa. 

Ia juga menjelaskan, lukisan ‘Maria Assumpta’ ini sebelumnya disimpan di bangunan lama milik pastor-pastor SJ, yaitu di Collegium Berchmanianum.

Namun, jelasnya, lantaran bangunan tersebut beralih fungsi beberapa kali dan kini digunakan sebagai salah satu bangunan Universitas Radboud, lukisan ini dititipkan ke Museum Nijmegen dan dipamerkan secara berkala.

Seiring waktu, Museum Nijmegen memandang bahwa lukisan ini merupakan milik Jesuit dan tidak terdapat keterikatan langsung dengan kota Nijmegen. Lalu, lukisan ini dikembalikan kepada pastor-pastor Jesuit di Nijmegen, sehingga untuk sementara ini disimpan di Aqua Viva yang dibangun pada tahun 1997.

Pastor Jan Bentvelzen SJ juga menambahkan, lukisan ‘Maria Assumpta’ belum lama ini mendapat tawaran dari pihak museum di Belanda untuk dipamerkan di museum paling bergengsi di Belanda, yaitu Rijksmuseum Amsterdam pada tahun depan.

Dengan pameran ini nantinya, Pastor Jan Bentvelzen SJ berharap lukisan-lukisan Maria Assumpta karya Basoeki Abdullah versi lain bakal diketahui keberadaannya. 

Basoeki Abdullah dengan nama lengkap Fransiskus Xaverius Basoeki Abdullah lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada 25 Januari 1915. Ayahnya, Raden Abdullah Suryosubroto adalah pelukis naturalis terkenal pada awal abad ke-20. Raden Abdullah adalah juga putra perintis pergerakan nasional Indonesia Dokter Wahidin Sudirohusodo.

Sosok yang dikenal sebagai maestro pelukis Indonesia itu meninggal di secara tragis di Jakarta pada 5 November 1993 dalam insiden perampokan yang melibatkan tukang kebunnya.

Basoeki Abdulla pernah diangkat menjadi pelukis resmi Istana Merdeka Jakarta pada tahun 1974 dan karya-karyanya menghiasi istana-istana negara dan kepresidenan Indonesia, disamping menjadi barang koleksi dari penjuru dunia.

Basoeki Abdullah banyak mengadakan pameran tunggal baik di dalam negeri maupun di luar negeri, antara lain dan sekitar 22 negara memiliki karya lukisan Basuki Abdullah. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here