Foto Dewi Praswida, perempuan asal Semarang yang sedang bersalaman dan berdialog dengan Paus Fransiskus di Vatikan, Roma, 26 Juni 2019. Foto ini ramai dibicarakan, di mana ada juga tudingan bahwa Dewi telah melakukan tindakan tidak terpuji. Namun, ia menekankan bahwa menjalin hubungan dengan umat beragama lain tidaklah menggoyahkan imannya sebagai Muslim. (Foto: Ist)

Katoliknews.comNama Dewi Praswida ramai diberitakan media selama beberapa hari terakhir. Pelajar Muslim asal Semarang itu menjadi bahan pembicaraan setelah fotonya saat menjabat tangan Paus Fransiskus di Vatikan viral.

Dalam foto itu, ia mengenakan jilbab. Foto itu memicu polemik, karena ada pihak yang menyalahkan Dewi karena dia dinilai melakukan hal tak terpuji. Tudingan demikian berdasarkan alasan bahwa Dewi menjabat tangan pria yang bukan mahramnya. Tidak hanya itu, beberapa pihak juga menyatakan kalau Dewi sudah dikristenisasi di Vatikan.

Isu ini tentunya didengar Dewi dan melalui Twitter, Dewi memberikan pernyataan resminya. Dalam akun @dewipraswida dia menjelaskan kalau dirinya harus angkat bicara terkait kejadian itu.

Dewi menjelaskan bahwa dirinya bisa ada di Vatikan karena beasiswa dan peristiwa pertemuannya dengan Paus Fransiskus adalah momen langka yang diberikan padanya dan dia harus memanfaatkan itu.

“Saya bisa bertemu dengan Sri Paus Fransiskus karena saya mendapat beasiswa untuk studi dialog lintas agama dari pemerintah Vatikan, kemudian diakhir masa studi, saya diberi kesempatan untuk bertemu beliau di St. Peter Square,” lanjut Dewi.

Dia tak memungkiri kalau Paus Fransiskus adalah sosok yang dia idolakan sudah lama. 

Bahkan, Dewi mengatakan, jabat tangan dengan Paus Fransiskus yang ramai itu adalah peristiwa kedua dalam hidupnya.

Mahasiswi asal Semarang itu juga menjelaskan bagaimana rasanya bisa menjabat tangan Paus. 

“Saya memang sudah agak lama mengidolakan sosok beliau dan ini adalah kedua kalinya saya berjabat dgn beliau. Kalau ditanya gimana rasanya? Seneng bangeeet!!!,” demikian cuitan Dewi.

Pertemuan pertama Dewi dengan Paus Fransiskus terjadi pada Maret 2018 saat acara pre sinode meeting orang muda seluruh dunia di Vatikan, Roma.

Pada pertemuan pertama, Dewi mengaku bangga dapat melihat Paus secara langsung. Sayangnya, ia tidak mempunyai dokumentasi foto ataupun video kala itu.

Dewi minta Paus doakan Indonesia

Di sisi lain, VOA Indonesia membuat beberapa pernyataan bergambar mengenai Dewi dan kejadian jabat tangannya tersebut. Dapat dilihat di sana, saat menjabat tangan Paus Fransiskus, dia meminta agar Indonesia didoakan oleh beliau.

“(Saya bilang) ‘Saya Dewi, Muslim dari Indonesia, tolong doakan saya dan perdamaian di Indonesia.’ Dan Paus menjawab ‘Ya, tentu saya doakan,” kata Dewi dalam foto tersebut.

Sementara itu, karena foto tersebut tersebar luas di seluruh dunia, banyak kemudian komentar yang datang kepadanya terkait jabat tangan bukan mahramnya tersebut. Bahkan, Dewi dituduh “sudah dikristenisasi”.

Menyikapi tindakan tersebut, Dewi mengatakan tidak mau membahasnya terlalu dalam. 

“Saya tunjukan saja bahwa pertemanan saya dengan orang Kristen atau agama apa pun, tidak akan menggoyahkan keimanan saya pada Islam,” terangnya.

Lewat twitter-nya, Dewi juga menulis, “soal yang berpendapat haram-halal, bukan muhrim, dll itu sudah kebal bagi saya, jangankan soal itu dituduh dikristenisasi pun saya sudah biasa wkwkwk. This is life my friends, pros and cons are normal for me.”

Siapa Dewi Praswida?

Gadis dengan nama lengkap Dewi Kartika Maharani Praswida ini adalah mahasiswi di Semarang yang mendapat beasiswa ke Vatikan untuk program dialog lintas agama. 

Studi tersebut dia jalani selama 6 bulan yang dia dapatkan dari Nostra Aetate Foundation.

Satu kelas yang Dewi ambil ialah ‘Theology in Contrast’ yang mempelajari bagaimana cara memandang peristiwa dari sudut pandang agama berbeda. 

Di Indonesia, Dewi juga tergabung dalam kelompok persaudaraan lintas agama.

Dalam pernyataannya, Dewi menjelaskan bahwa dirinya bisa tertarik dengan studi tersebut karena ingin membangun jembatan antaragama. Terlebih, dia juga paham kalau di Indonesia belakangan ini terjadi eksklusivitas agama tertentu.

“Indonesia yang tadinya beragama, akhir-akhir ini sedikit berubah. Ada pihak yang selalu merasa dirinya paling benar. Nah, saya jadi tertarik ingin membangun jembatan,” terangnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here