Sebut Autisme Dipicu Dosa Orangtua, Imam Asal India Ditolak Beri Retret di Australia

Ketua Gereja Syro-Malabar di Australia, Uskup Bosco Puthur, mengatakan bahwa pandangan Pastor Dominic "tidak menggambarkan posisi gereja Katolik saat ini".

Pastor Dominic Valanmanal. (Foto: Ist)

Katoliknews.com – Imam asal India batal memberikan retret di Australia pasca adanya protes terkait komentarnya yang dianggap melecehkan penyandang autis.

Pastor Dominic Valanmanal yang berasal dari Kerala sebelumnya diundang oleh umat India yang ada di Australia.

Namun, imam itu ditentang setelah ia mengatakan bahwa zina dan masturbasi orangtua memicu autisme pada anak dan mengklaim bahwa dirinya telah “menyembuhkan” autisme lewat doa.

Seperti dilaporkan ABC, Kamis, 18 Juli 2019, imam itu juga dipaksa untuk membatalkan acara retret serupa di Irlandia dan Kanada.

Pernyataannya yang kontroversial itu terdapat dalam sebuah video klip di internet ketika dirinya sedang berkhotbah.

Dalam video tersebut, dia berkata bahwa autisme pada anak disebabkan perbuatan maksiat orangtua mereka.

“Perzinaan, masturbasi, homoseksualitas dan pornografi — kalau kamu sudah kecanduan dengan hal-hal ini, saya katakan atas nama Tuhan… ketika kamu menikah dan punya anak, ada kemungkinan besar bahwa kamu akan punya anak-anak tipe seperti ini,” katanya dalam video tersebut.

“Mereka menjalankan kehidupan layaknya binatang. Mereka bersetubuh bagai binatang. Mereka membesarkan anak bagai binatang. Karena itu anak-anak mereka juga akan seperti binatang,” ucapnya.

Pastor Dominic mengaku sudah “menyembuhkan” dua orang anak autis di Irlandia.

Tiket retret lima hari di Philip Island, Australia, seharga $ 400 (3,9 juta rupiah) per orang terjual habis di bulan September.

Tidak hanya di Melbourne, acaranya yang juga dijadwalkan berlangsung di Canberra ikut dibatalkan.

Binoy Zacharia, dari komunitas Katolik India Katolik di Melbourne yang anaknya mengalami autisme memimpin kampanye untuk menolak kedatangan imam tersebut dan mengatakan “seharusnya imam itu tidak diundang sejak awal”.

“Saya sedih ketika mendengar bahwa banyak orang percaya perkataannya tentang bagaimana sebenarnya autisme adalah roh jahat yang berasal dari keluarga sang penderita,” ujar Binoy.

Kampanye yang menentang kedatangan romo tersebut ke Australia mendapat dukungan Masyarakat Rasionalis, organisasi sukarelawan yang mendukung skeptimisme berdasarkan alasan ilmiah, serta organisasi advokasi autisme bernama Amaze.

Kedua organisasi ini mengirim surat kepada Uskup Agung Melbourne, Peter Comensoli, demi mengangkat isu ini.

Fiona Sharkie selaku ketua pelaksana mengatakan kepada ABC bahwa ia merasa senang kunjungan Dominic telah dibatalkan mengingat pandangannya yang “bersifat mencela, sangatlah menyinggung dan tidak benar.”

“Kekhawatiran utama kami adalah dampaknya terhadap orang-orang autis, keluarga dan perawat mereka. Tuntutan ini akan terjadi kalau dia diberikan kesempatan di publik,” kata Fiona.

Ketua Gereja Syro-Malabar di Australia, Uskup Bosco Puthur, mengatakan pada ABC bahwa pandangan Dominic “tidak menggambarkan posisi gereja Katolik saat ini”.

“Begitu juga tidak menggambarkan posisi saya,” katanya.