Tetaplah Menjadi Garam dan Terang: Reuni Alumni Jurusan Teologi UKI St Paulus Ruteng

Alumni tiba di UKI St Paulus pada 5 Juli. Mereka disambut secara adat Manggarai. (Foto: Feliks Hatam)

Katoliknews.comSelama tiga hari, 5-7 Juli 2019, di kampus Universitas Katolik Indonesia Santo Paulus Ruteng, para alumni yang pernah mengambil studi katekese dan teologi menggelar acara reuni. Acara itu sekaligus menyambut ulang tahun ke-60 kampus tersebut yang akan dilaksanakan pada 11 November 2019 mendatang.

Di awal tulisan ini, perlu disampaikan bahwa singkatan UKI St Paulus digunakan untuk menyederhanakan sebutan Universitas Katolik Indonesia Santo Paulus Ruteng, karena belum ada singkatan yang ditetapkan secara resmi.

Kampus ini resmi ditetapkan sebagai universitas pada Mei lalu, penggabungan  dari Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan dan Keguruan (STKIP) dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) St Paulus Ruteng, di mana kemudian ada penambahan fakultas baru, yakni fakultas pertanian yang di dalamnya mencakup dua program studi,  Sosial Ekonomi Pertanian dan Agronomi.

Penting juga disampaikan bahwa, dalam perkembangan sejarahnya, terjadi beberapa kali perubahan nama untuk Program Studi Teologi, antara lain Akademi Pendidikan Kateketik (APK) (1969-1986), Kursus Pendidikan Kateketik (KPK) (1960-1968), Pendidikan Kateketik (1996), hingga kemudian pada 1998 dinamakan dengan Program Studi Teologi.

Tetaplah Menjadi Garam dan Terang

Para alumnus tiba di UKI St Paulus pada 5 Juli, sekitar pukul 15.00 Wita. Rangkaian acara kemudian dibuka dengan Perataan Ekaristi, yang dipimpin Romo Inosensius Sutam, Pr, salah satu dosen UKI St Paulus.

Dalam sambutannya usai Misa, Romo Ino mengatakan, salah satu poin penting reuni adalah kembali mengingat masa-masa sulit  dan masa-masa menyenangkan saat kuliah, membagikan pengalaman dan memberi sumbangan gagasan kepada alma mater.

Para alumni juga disambut dengan ucapan selamat datang oleh Ketua Alumni Dr. Marselus Ruben Payong, M.Pd, yang juga Ketua Program Studi Pendidikan Teologi.

Usai santapan  malam, semua alumni memperkenalkan diri  secara berurutan. Acara ini berlangsung sangat akrab, yang diselingi dengan kisah perjuangan saat masih kuliah.

Suasana semakin ramai dan mengesankan saat mahasiswa Program Studi Pendidikan Teologi membawakan berbagai acara hiburan, seperti paduan suara, vocal group dan tarian adat Manggarai.

Seminar Nasional: Katekis, Katekese dan Pendidikan Penular Toleransi

Hari kedua acara ini diisi dengan seminar nasional atas kerja sama alumni dengan Program Studi Pendidikan Teologi, yang turut dihadiri utusan dari paroki-paroki di Keuskupan Ruteng, para dosen dan mahasiswa.

Mengusung tema “Tantangan Pewartaan Iman Katolik di Era Radikalisme Berbasis Agama di Indonesia,” seminar itu menghadirkan pembicara Mohamad Guntur Romli, seorang aktivis dan politisi dengan makalah Menghadang Agenda Politik Islam Radikal di Indonsia; Pater. Dr. Phlipus Tule, SVD, Rektor Unika Widya Mandira Kupang, yang pernah menjadi dosen terbang di UKI St Paulus, dengan tema Prospek Dialog Antarumat Beragama dalam Konteks Radikalisme Berbasis Agama di Indonesia.

Dr. Agustinus Manfred Habur, Sekretaris Jendral Keuskupan Ruteng dan Dosen Program Studi Pendidikan Teologi UKI St Paulus juga mempresentasikan materi Model Katekese Humanis Menangkal Radikalisme Agama.

Seminar  sehari yang dilaksanakan di Aula Missio itu tidak berhenti pada model katekese humanis sebagai upaya menangkal radikalisme, tetapi sampai pada bagaimana peran seorang katekis dan peran pendidik dalam menangkal radikalisme.

Oleh karena itu, pemateri keempat, Romo Fransiskus Emanuel da Santo, alumnus dan kini sebagai Sekertaris Eksekutif Komisi Kateketik Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mempersentasikan makalahnya tentang Profil dan Peran Katekis Dalam Menghadapi  Radikalisme Berbasis Agama.

Materi lain yang juga disebarluaskan adalah yang ditulis Dr. Marsel Ruben Payong, M.Pd dengan tema Pendidikan Toleransi Untuk Membangun Kerukunan Dalam Perbedaan di Indonesia. 

Komitmen Mengutamakan Mutu

Pada hari yang sama, usai seminar, Romo Ledobaldus Roling Mujur, Ketua Yayasan Santu Paulus Ruteng memaparkan komitmen dan rencana strategis Yayasan dalam mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan UKI Santu Paulus Ruteng, baik dari segi sarana prasana maupun Sumber Daya Manusia.

Setelah itu, adalah pemaparan materi dari Rektor, Romo Yohanes Servatius Lon Pr tentang pencapaian UKI Santu Paulus Ruteng waktu masih berstatus sekolah tinggi.

Ia juga menjelaskan tentang keadaan sarana prasarana,  visi misi dan rencana strategis ke depan.

“Perkembangan lembaga pendidikan ini mulai dari APK sampai pada status universitas tidak terlepas dari doa dan dukungan semua pihak, termasuk alumni. Alumni adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam perumusan rencana strategis lembaga ini kedepan untuk menciptakan pendidikan yang berrmutu,” katanya.

Para alumi sempat berdiskusi tentang rencana pengembangan UKI St Paulus.

Dari sejumlah gagasan, ada yang mengusulkan membuka program studi baru, yang sesuai keadaan dan kebutuhan masyarakat Manggarai. 

Romo John mengatakan hal itu akan dikaji lebih lanjut. “Sebab untuk membuka program studi baru harus melalui kajian dan analisis yang serius, sehingga jurusan tersbut benar-benar dibutukan,” katanya.

Sharing Pengalaman: Semangat Katekis Tetap Melekat

Usai mendengar paparan dari Yayasan dan kampus, para alumnus kemudian membagi pengalaman, yang dimoderator oleh Marselus Rubeng Payong.

Tiga orang yang membagikan pengalaman adalah Yustina Ndung, yang berprofesi sebagai dosen di Universitas Negeri Malang, Pater Marsel Agot SVD dan Pak Wili, seorang politisi.

Para alumni sedang memperkenalkan diri. (Foto: Feliks Hatam)

Dalam sharingnya, mereka menyatakan, “semangat dan nilai-nilai seorang ketekis tetap melekat dalam diri” mereka

 Apa yang telah dipelajari selama kuliah, menurut mereka, menjadi pedoman dalam melayani sesama manusia.

Kesaksian Hidup

Penutupan kegiatan dilakukan dengan Misa yang dipimpin Romo Gradus Janur, Pr, Vikep Ruteng.

Dalam kotbahnya, ia menekankan pentingnya kesaksian hidup seorang pewarta dalam mewartakan Kristus.

Tugas seorang katekis dan agen pastoral dalam bidang pelayanan masing-masing, kata dia, adalah  mewartakan kabar gembira agar semua orang memperoleh kedamaian dalam dan bersama Kristus.

Spirit Santu Paulus sebagai Santu Pelindung dari lembaga ini, kata dia, perlu tetap dihayati oleh para alumni dalam setiap karya dan pelayanannya.

Romo Inosensius Sutam, dalam sambutannya mengatakan bahwa, para alumni adalah mitra tetap untuk memberi sumbangan, baik moril maupun material kepada lembaga ini.

Gagasan para alumni dan temuan para alumni di lapangan  adalah sumbangan berharga demi kemajuan lembaga ini. Para alumni adalah pewarta dan saks-saksi lembaga ini ditengah masyarakat.

Sementara Dr. Marselus Rubeng Payong, M.Pd, dalam kesempatan yang sama mengatakan bahwa, ikatan alumni ini akan kita behani kembali, sehingga terbentuknya ikatan alumni untuk semeua lulusan Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng.

“Mengingat peran sentral alumni sangat penting, maka akan kita kaji kembali secara serius tentang waktu pelaksanaan reuni ke depannya,” katanya.

Laporan oleh Feliks Hatam, alumnus Pendidikan Teologi FKIP UKI Santu Paulus Ruteng dan panitia reuni.