Paulus Arswendo Atmowiloto: Meninggal dengan Tenang, Mewarisi Banyak Karya

Umat Paroki St Matius Penginjil, Bintaro dikenang oleh banyak orang sebagai sosok yang berdedikasi dan penuh humor.

Paulus Arswendo Atmowiloto lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 26 November 1948. Ia dikenal sebagai sastrawan dan wartawan di berbagai majalah dan koran. (Foto: Tempo.co)

Katoliknews.comDi usianya yang ke-70 tahun, Paulus Arswendo Atmowiloto, menghembuskan nafas terakhir.

Ia meninggal dengan tenang, sebagaimana digambarkan salah satu putrinya, setelah ia cukup lama menderita kanker prostat.

“Meninggalnya tenang, baik, (sambil) senyum,” kata Tiara, anak ketiga Arswendo.

Arswendo, umat Paroki St Matius Penginjil, Bintaro itu meninggal di rumahnya, Jalan Damai, Kompleks Kompas, Petukangan Selatan, Pesanggrahan, Jakarta, Jumat sore, 19 Juli 2019 pukul 17.38 WIB.

Misa Requiem sekaligus pelepasan jenazah dilaksanakan pada Sabtu, 20 Juli, sebelum dibawa ke tempat peristirahatan terakhir di Sandiego Hill, Karawang, Jaw Barat.

Dikenal sebagai wartawan senior, Arswendo pernah menjadi jurnalis harian Kompas dan pemimpin redaksi majalah remaja Hai, tabloid Monitor dan Senang.

Bagi para sineas, komedian, dan para pekerja seni yang datang ke rumah duka pada Jumat malam, momen bersama Arswendo membekas di ingatan.

Ia dikenal sebagai sosok penuh humor dan selalu mendatangkan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar.

“Siapa yang gak kenal dengan Wendo yang mulutnya ceplas-ceplos itu? Tapi di balik mulutnya itu, tergambar suatu kedekatan emosional di antara kita,” kata Slamet Rahardjo, aktor senior.

Slamet mengatakan ia jadi salah satu saksi kebaikan Arswendo.  “Semua wartawan muda atau yang baru pasti tahu betul, Arswendo itu tak bisa dipisahkan dari jasanya. Kepada keluarga ia meninggalkan Keluarga Cemara, kepada wartawan, dia menunjukkan jurnalis adalah orang yang bebas,” ujar Slamet dengan suara bergetar.

Ia pun berdoa agar agar Arswendo diterima disisi-Nya. “Dia Katolik yang baik,” katanya.

Pasangan pendiri Teater Koma, Nano Riantiarno dan Ratna Riantiarno pun mengenang Arswendo sebagai sosok penuh guyon.

“Dia senang bercanda. Dalam keadaan seserius apapun, dia bercanda. Dia itu seperti tak ada beban,” ujar Ratna.

Momen kedekatan bersama Arswendo juga diceritakan sineas muda seperti Anggia Kharisma beserta suaminya Angga Sasongko dan pemain film Keluarga Cemara, Nirina Zubir.

Anggia, produser film Keluarga Cemara, mengatakan ia tak akan pernah lupa masa-masa bercengkrama dengan Arswendo sembari diselingi teh panas dan lumpia Semarang. Banyak pelajaran hidup yang dipetik dari sosok Arswendo.

“Dia selalu memperlihatkan ketawanya yang lebar, selalu dengan sambutan yang hangat,” kata AnggiA.

Sementara itu, pemeran ibu dalam film Keluarga Cemara, Nirina Zubir, mengatakan ia selalu mengagumi sosok Arswendo.

“Kami merasa kehilangan, karena baru saja bersentuhan (lewat film Keluarga Cemara, red), dan kami mengagumi sosok Mas Arswendo. Bahkan pas tadi pelepasan, anak-anaknya cerita, Mas Arswendo masih mengajarkan banyak hal. Di saat terakhir, masih banyak cinta kasih yang ditunjukkan,” ujar Nirina.

Paulus Arswendo Atmowiloto dikenal sebagai sosok yang penuh humor.(Foto: Ist)

Komedian Indro Warkop menyebut, Arswendo adalah sosok seniman yang konsisten menjalani nilai hidup yang ia yakini.

“Dalam guyon-nya, ada pesan, ada hal yang benar ingin dia sampaikan secara implisit. Mas Wendo itu sosok yang konsisten, dia seniman banget,” kata Indro.

Selain Keluarga Cemara, banyak karya tulis lain Arswendo yang diangkat ke layar lebar, seperti Kawinnya Juminten dan Serangan Fajar. Buku-buku karya Arswendo lainnya yang disebut terlaris adalah Senopati Pamungkas dan Canting.

Dia juga menulis buku Mengarang itu Gampang, yang menjadi buku rujukan ketika kali pertama diterbitkan.

Nama Arswendo menjadi sorotan ketika pada 1990 ia menjadi pemimpin redaksi tabloid Monitor. Kala itu, ia diadili dan dipenjara karena membuat jajak pendapat tentang siapa yang menjadi tokoh versi pembaca, di mana dalam hasilnya,  Arswendo disebutkan terpilih menjadi tokoh nomor 10, satu tingkat di atas Nabi Muhammad yang terpilih menjadi tokoh nomor 11.

Ketika hasil jajak pendapat itu dipublikasikan, sebagian warga Muslim marah dan dia dilaporkan ke kepolisian. Arswendo kemudian diadili dan divonis hukuman lima tahun penjara.

Selama berkarya, Arswendo beberapa kali menerima penghargaan. Tahun 1972, ia memenangkan Hadiah Zakse atas esainya “Buyung-Hok dalam Kreativitas Kompromi”.

Dramanya, Penantang Tuhan dan Bayiku yang Pertama, memperoleh Hadiah Harapan dan Hadiah Perangsang dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara DKJ 1972 dan 1973.

Pada tahun 1975 dalam sayembara yang sama dia mendapatkan Hadiah Harapan atas drama Sang Pangeran.

Dramanya yang lain, Sang Pemahat, memperoleh Hadiah Harapan I Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Anak-Anak DKJ 1976.

Selain itu, karyanya Dua Ibu (1981), Keluarga Bahagia (1985), dan Mendoblang (1987) mendapatkan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K tahun 1981, 1985, dan 1987. Tahun 1987 Arswendo memperoleh Hadiah Sastra ASEAN.